Pelabuhan Perikanan Muncar yang Pelik di Ujung Tanduk

Ditulis Oleh:

Bak bumi berputar zaman beredar. Tak ayal, eksistensi Muncar tergerus egoisme kolot manusia moderat juga konglomerat .

Sudah tak asing di telinga, Pelabuhan Perikanan Muncar salah satu penghasil ikan terbanyak kedua se-Indonesia setelah Riau. Khususnya, Pelabuhan Ikan terbesar se-Jawa Timur.

Dilansir Radar Surabaya.id, Pelabuhan Perikanan Muncar pada Oktober 2017 dapat menghasilkan ikan sebanyak 264.455 Kilogram dan yang paling populer didominasi oleh ikan lemuru.

Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Pada April 2019, seperti yang diberitakan oleh Times Indonesia, Ratu Laut Indonesia, Susi Pujiastuti berkunjung ke Tempat Pengalengan Ikan (TPI) Muncar menyatakan penyebab hilangnya ikan lemuru di perairan Muncar adalah rumpon (rumah ikan buatan) yang sengaja dipasang oleh perusahaan ikan di perairan Selat Bali.

Sumber: Radar Banyuwangi Jawa Pos

Sementara itu, pernyataan lain juga terkuak. Menurut data 2018, dari 52 pabrik ikan ada 41 cold storage, 17 pabrik tepung, dan 13 pabrik sarden tiga diantaranya berhenti beroperasi. Namun, banyak laporan tentang pencemaran lingkungan gara-gara limbah pabrik yang tidak melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) nyelonong saja ke sungai.

Jangan salah sebut, tidak hanya konglomerat tapi juga manusia moderat. Selain rumpon dan limbah, wisatawan sering lupa diri. pasalnya, main buang sampah seenak jidat.

Sumber: Dokumen Pribadi

Berkembangnya volume sampah di bibir perairan Muncar begitu pesat, seiring tenarnya Pelabuhan Muncar pasca New Normal yang tidak ada normal-normalnya ini.

Miris, egoisme keduanya yang begitu kekolotan bisa nyulut apinya sendiri. Bagaimana bisa mempertahankan warisan Kerajaan Blambangan tersebut, kalau bikin geleng-geleng seperti ini?

Sebagai manusia berakal, pasti akan mempertahankan kepemilikan yang sah dalam UU No.23 Tahun 2014 ini. Jangan sampai ajaran Barat yang “katanya” itu, membutakan diri sebagai pewaris budaya juga penjaga kekayaan alam Indonesia.

Pertama, Sopan santun. Terapkan kesadaran diri bahwa manusia hanya sekedar melipir di bumi. Jaga kewarasan dan adab, Numpang hidup di Indonesia kok sok-sokan?

Kedua, Jadikan sumber masalah sebagai solusi. Seperti yang sudah lumrah, beberapa masyarakat mukim mampu merubah limbah pabrik buangan sebagai pakan lele dan ayam. Perubahan mindset bisa memutar 360 derajat  menjadi solutif.

Ketiga, sosialisasi sejak dini. Perlu gerakan konsolidasi aktif untuk merangkul setiap elemen, baik masyarakat maupun pemerintahan setempat. Tujuannya, merubah perubahan menjadi lebih baik.

Sebagaimana mestinya, warisan leluhur mahal harganya untuk keberlangsungan di masa depan. Bukan tentang siapa yang unggul atau siapa yang terpukul mundur? Tapi berpijak untuk bertahan, mari dipikul.

Di ujung tanduk bukan berarti harus menyerah dan berhenti. Muncar, masih milik keturunan abdi Blambangan seutuhnya.

Baca Juga:

Scroll to Top