Petualangan ke Lubuk Bulan

Ditulis Oleh:

Pada suatu kesempatan saya berpetualang ke tempat yang bernama Kenagarian Mungka di kabupatan Lima Pulu Kota. Saat itu  pergi ditemani rekan-rekan saya.

Misi kami menuju bulan. Bukan bulan dalam arti sengguhnya kok, tapi sebuah air terjun  yang dinamakan lubuk bulan. Lubuk diartikan dalam bahasa Indonesia  berarti cekungan (dalam) di dasar sungai.

Sebelum saya menceritakan seperti apa tempatnya. Mari simak dulu awal perjalan ini..

100_3154.JPG

Sekitar akhir tahun 2013 tempat ini banyak dibicarkan oleh orang-orang Sumatera Barat, bahkan sampai ke Riau. Bahkan turis mancanegara seperti Korea. Terlebih khusus untuk Kota Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.

Komsumsi publik akan sosial media yang pada saat itu sedang marak dengan tempat tempat bagus dan ajang pamer didepan publik membuat wisata yang jauh sekalipun terekspos kemana-mana. Selain semarak pendakian gunung, wisata air terjun salah satunya kala itu.

Saat liburan kuliah saya dan teman-teman lainya ingin dan penasaran. Konon banyak beredar air terjun itu ajaib. Air yang jatuh tidak pernah tahu kemana muaranya.

Kami berangkat pagi. Membawa masing-masing nasi untuk satu orang, mie instan dan kompor gas mini. Serta air mineral yang dimasukan kedalam tumblr. Uang secukupnya buat jaga-jaga.

Perjalanan dari kota Payakumbuh sampai ke air terjun Lubuak Bulan menghabiskan waktu sekitar 4-5 jam. Dari kota Payakumbuh menuju  ke Simpang Kapuak, perjalanan menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam.

Sesampai di Simpak kapuak dan memasuki jorong pertama simpang abu perjalanan diteruskan sampai penghabisan jalan. Sebelum perjalanan mendaki ketinggian.

100_3083.JPG

Ada dua jalur sebenarnya. Ini saya ketahui setelah KKN disana. Satu jalanan yang cukup jauh meski jarang dilewati penduduk kecuali bagi yang berkebun gambir. Sedangkan jalan yang satu lagi banyak dilewati penduduk yang tinggal di desa Koto Tinggi Kubang Balambak. Satu tempat dengan wisata air terjun lubuk bulan.

Setelah bertanya kepada beberapa warga disana kami memutuskan naik dengan sepeda motor. Mengingat jarak tempuh yang belum diketahui dan medan yang akan dilalui.

Kami hati hati menaiki lereng bukkit yang beberapa sudah dibuatkan jalan oleh penduduk. Setelah itu kebanyakan jalan tanah dan medan yang licin setelah semalam diguyur hujan.

Beberapa kali juga roda sepeda motor kami terjerembat didalam kubangan tanah. Saya sempat was-was kalau perjalanan ini dihentikan. Mengingat medan yang buruk dan lokasi yang belum pasti dimana tempatnya.

Setelah berdiskusi cukup lama akhirnya kami memutuskan untuk lanjut meski sebelumnya hampir sepakat untuk turun. Kami bertemu dengan pengunjung yang sama tujuannya dengan kami. Dan setelah basa-basi kami sepakat bersama-sama melanjutkan dengan rombongan lain.

100_3008.JPG

Kami memarkir kendaraan disalah satu perkebunan kambir warga. Dan melanjutkan perjalanan. Sampai dipuncak ternyata tempat ini adalah sebuah kampung. Desa inilah yang bernama Koto Tinggi Kubang Balambak. Perjalanan dilanjutkan sekitar  melewati jalan setapak.

Kemudian memasuki kawasan hutan yang masih sangat asri, setelah itu kami menemukan ladang gambir milik warga. Setelah menemukan belantara hutan kami harus menyebrangi sungai yang jadi aliran air terjun lubuk bulan.

Dan sampai akhirnya kami menemukan tebing curam yang menuju ke kaki lembah. Disertai deru air terjun dan hewa-hewan penghuni hutan.

Kenapa diberi nama Lubuak Bulan? Karena air cucuran dari air terjun ini jatuh tepat di kolam atau yang sering disebut lubuk dimana kolam tersebut memiliki bentuk seperti bulan sehingga diberi nama Lubuak Bulan.

Hal yang unik dari air terjun ini, biasanya setiap air terjun memiliki aliran air yang mengalir ke sungai tetapi berbeda dengan air terjun ini. Air terjun lubuk bulan ini tidak memiliki aliran air, air yang jatuh ke lubuk seperti hilang begitu saja.

Beberapa sumber dikatakan jika sebenarnya air yang jatuh ke lubuh tidak hilang begitu saja tetapi karena dibawah lubuk tersebut terdapat goa panjang yang menyerap air tersebut sehingga air tersebut seolah-olah menghilang.

100_3187.JPG

Sayangnya ditempat ini kami tidak bisa berenang hanya bisa menampung air yang jatuh dengan kedua tangan. Selain itu juga ada cekungan goa yang juga seperti bulan sabit untuk beristirahat makan dan berfoto.

Ada hal yang sedikit membuat saya kecewa dari dulu sampai sekarang. Lagi lagi masalah sampah. Yap,   Meski tempat ini terisolir tetap saja wisata yang jauh dari keramain ini masih ada pengunjung yang pulang tanpa membawa sampahnya.

Perlu ditegaskan bahwa menjadi turis yang bertanggungjawab adalah kunci untuk menjaga dan menghargai lingkungan. Tidak ada yang sulit untuk membiasakan diri dengan perilaku itu. Jadi, dimanapun kamu berada ingat lah untuk menjaga kebersihan yaaa..

Editor : Annisa Dian N.

Baca Juga:

Scroll to Top