Manghalau “Monster” Perusak di Pesisir Ranca Buaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Melakukan perjalanan ke berbagai daerah khususnya di Indonesia mungkin menjadi impian bagi banyak orang. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut.

Semua tergantung dari kemampuan pada pribadinya baik waktu, biaya dan yang paling penting jangan pernah melewatkan kesempatan. Indonesia merupakan negara maritim yang kaya akan karakteristik wilayah pesisirnya baik secara social, culture, environment.

Ranca Buaya menjadi salah satunya,  sebuah nama yang memiliki arti Ranca (dalam bahasa sunda) rawa/daerah yang berair diam, dan Buaya merupakan hewan bisa diartikan yang dimaksud adalah “Rawa tempat buaya”.

Pantai tersebut berlokasi di desa Purbayani, kecamatan Caringin, kabupaten Garut kurang lebih berjarak 135 KM dari pusat kota Garut. Karakteristik dari material dasar laut tersebut berupa pasir halus, batu karang, dan pasir kasar disepanjang garis pantai.

Selain itu tebing yang menjulang di sepanjang pesisir pantai menambah keindahan dari lokasi tersebut. Angin yang terkadang kencang, ombak yang terkadang besar tidak jarang bisa kita rasakan karena wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Melihat karakteristik tersebut bisa dilihat rumput laut yang membalut batu karang setiap paginya menjadi senyum bahagia bagi masyarakat pesisir. Ya… itu menjadi salah satu mata pencarian masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-harinya selain dari hasil sebagai nelayan dan objek wisata.

“Aktivitas pagi masyarakat pesisir”

Setiap pagi tepatnya pukul 06.00 WIB jika beruntung, maka akan menemukan gerombolan masyarakat dan anak-anak yang sedang melakukan aktivitas di bibir karang. Bukan buka arisan tentunya yaaa, hehe.. melainkan mereka yang sedang mencari rumput laut.

Cukup mengherankan memang, setiap harinya rumput laut ini selalu ada dan tidak pernah habis. Jika melihat dari ciri-cirinya rumput laut di wilayah tersebut cenderung mendekati pada jenis Eucheuma Cottoni yakni salah satu jenis rumput laut yang sering dijumpai di Indonesia.

Kehidupan masyarakat yang sangat erat dengan alam tentu melekat tergambarkan. Ketika mereka bisa menjaga lingkungan dengan baik maka apa yang alam hasilkan pun akan baik bagi mereka.

“Mang Aws – aktivitas sehari-hari sebagai masyarakat pesisir” 

Suatu pelajaran berharga yang didapatkan ketika kita bisa merasakan secara langsung bagaimana cara masyarakat lokal hidup dan mengolah sesuatu dari alam ini.

Terbayang kan… jika karang-karang indah ini dipenuhi oleh tumpukan plastik yang memiliki bahan-bahan berbahaya bagi seluruh ekosistem laut yang ada. Ketika proses awalnya tidak sehat maka yang dihasilkan pun hingga sampai pada konsumsi manusia akan buruk bagi kesehatan.

Kawasan ini memiliki berbagai potensi wisata terutama pantai dan laut yang bernilai ekonomi tinggi serta memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Tetapi dibalik keistimewaan didepan mata, tentu ada tanggung jawab besar menanti. Sudah siapkah untuk menghalau Monster Plastik ??? Ia melekat bagaikan sahabat yang berada dibalik sebuah kata Indah, ketika lengah maka ia akan muncul tanpa diundang.

Untuk itu perlu perencanaan yang baik dalam pengelolaannya. Pemberian pemahaman melalui sosialisasi dapat dilakukan oleh komunitas, LSM, organisasi lingkungan dan pemerintah setempat kepada masyarakat sekitar agar Monster Plastik tidak muncul.

Meningkatnya aktivitas masyarakat terhadap konsumsi dan modernisasi tentu tidak lepas dari namanya kemasan plastik. Mudah, instan, kuat, cepat menjadi alasan untuk tetap bersamanya ( si plastik) .

Bukan tanpa alasan, mungkin akan jarang melihat mobil pengangkut sampah berlalu lalang atau bahkan sama sekali tidak ada yang melintas dikawasan tersebut.

Katika pagi tiba atau malam menjemput, dapat terlihat di bibir pantai biasanya dibelakang gazebo (saung) muncul asap dari pembakaran sampah plastik hasil dari konsumsi harian.

Tidak jarang juga yang terbawa oleh arus ombak ketika pasang, lalu ketika volume ini terus meningkat apa yang akan terjadi… sudah dipastikan laut tersebut akan tercemar bahan-bahan berbahaya.

Hal ini memang dianggap menjadi cara cepat dalam menyingkirkan sampah-sampah tersebut. Tetapi lagi-lagi bahaya menanti, seperti dilansir pada Scientific American sekitar 40 persen limbah atau setara dengan 1,1 miliar ton sampah di dunia di bakar ditempat terbuka.

Jadi ketika sampah dibakar berbagai bahan kimia yang terkandung di dalamnya akan memuai ke udara dan memicu polusi. Sebelum situasi sulit itu terjadi ada baiknya upaya pencegahan dilakukan daripada harus menanggulangi.

Selangkah lebih maju kedepan untuk menjaga ekosistem laut agar terhindar dari ancaman Monster Plastik. Ini merupakan hal serius yang harus dihadapi bersama, penting untuk mengurangi penggunaan kemasan berbahan plastik sekali pakai.

Kita akan menemukan berbagai macam jenis produk terkenal di wilayah tersebut, diantaranya produk-produk yang erat mengiasi aktivitas masyarakat sehari-hari mulai dari kemasan makanan, hingga perlengkapan pribadi .

Dilansir dari CNBC Indonesia, Indonesia menduduki peringkat ke 2 dibawah China sebagai negara dengan jumlah polusi laut atas sampah plastik dengan total mencapai 0,48 – 1,29 juta ton/tahun dan diduga mencemari lautan.

Nah… bisa jadi berdasarkan data tersebut, wilayah Ranca Buaya menjadi sebagian kecil wilayah di Indonesia sebagai penyumbang polusi laut atas sampah plastik tersebut.

Upaya menjaga kelestarian alam memang memerlukan kerjasama dari seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah setempat, komunitas, organisasi lingkungan, LSM, dan lainnya.

Sosialisasi tentang pemahaman terhadap pemanfaatan sampah plastik pada masyarakat harus dilakukan. Banyak metode yang bisa digunakan, salah satunya dengan metode ecobrick.

Melalui ecobrick kita menjadi kreatif, secara langsung melawan rasa malas yang melekat. Sampah plastik hasil konsumsi harian dapat dikumpulkan dan dipilah menjadi beberapa bagian yakni sampah non organik dan non biologi.

Perlengkapan dasarnya pun sangat mudah, hanya dengan menyiapkan botol plastik 500 ml, gunting dan kayu/tongkat untuk memadatkan. Sedangkan hasil dari ecobrick tersebut pemanfaatannya dapat berupa dinding struktur, ruang hijau, ruang kebun, meja, kursi, dan bangunan seperti rumah dan sekolah. Sehingga kedepannya akan menghasilkan sebuah value bagi masyarakat.

“Ecobrick siap menjadi sahabat warga Ranca buaya”

Perlu adanya kemauan, konsistensi,  serta dorongan untuk mewujudkan hal tersebut. Mengingat secara demografis, masyarakat wilayah tersebut jarang tersentuh terkait edukasi lingkungan.

Nuansa indah alam Ranca Buaya dari warna yang tergambarkan jangan sampai hanya menjadi tirai dari keadaan sebenarnya.

Pada dasarnya tidak ada bentuk nilai yang bisa menggantikan keindahan semesta. Perilaku manusia bisa menjadikan apapun kondisi didalamnya. Baik dan buruk tergantung dari apa yang kita lakukan.

“Mengapa kita mencintai laut? itu karena ia memiliki kekuatan yang kuat untuk membuat kita memikirkan hal-hal yang kita sukai.” Robert Henri

Apapun yang berkaitan dengan perilaku manusia terhadap lingkungan, akan berdampak terhadap lingkungan itu sendiri. Banyak hal yang harus kita lindungi bersama, salah satunya kearifan lokal masyarakat sekitar yang harus dijaga.

Jangan lupa mampir yuk.. Rezharinjani goes to Rancabuaya

Sampai jumpa di perjalanan dan pembelajaran selanjutnya !

Editor : Annisa Dian Ndari

Profil Penulis

Berikan tanggapan kamu untuk tulisan ini

Baca Juga Artikel Ini

Artikel

Menikmati Keindahan di Telaga Sarangan

Artikel

Menyeberang ke Sumba dari Sape, Sumbawa (Bagian 3)

Komunitas

Young Explorer 2019 #3 – Mengunjungi SDN 4 Hitu Ambon

Artikel

Permasalahan Pekerja Migran, Permasalahan Laut Kita