Menjalani Gaya Hidup Minimalis Kendalikan Pencemaran

Ditulis Oleh:

Mungkin sebagian besar dari kita berfikiran bahwa untuk apa berkontribusi dan mendukung penuh soal lingkungan di bumi kita, toh pada akhirnya tetap saja lingkungan ini tidak dapat bebas dari yang namanya sampah. Bayangkan apabila seluruh manusia punya pemikiran negatif serupa, akan jadi apa bumi di masa yang akan datang.

Sampah-sampah yang kita konsumi setiap harinya akan bermuara di sungai dan buruknya berakhir di lautan, yang mana lautan sendiri merupakan penyerap panas terbesar di atmosfir. Karena hal ini laut telah menghindarkan planet kita dari dampak negatif penggunaan karbon berlebih oleh manusia.

Dimana karbon tersebut akan menyebabkan jejak karbon yang bersumber dari penggunaan energi listrik, air, emisi dari penggunaan kendaraan dan mengkonsumsi makanan. Indonesia sendiri merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia di laut.

Sangat miris bila dibandingkan dengan keanekaragaman hayati dan kekayaan alam melimpah yang kita miliki. Sehingga kita sebagai konsumen yang tak mungkin luput dalam menggunakan bahan yang kemudian akan menjadi sampah, haruslah senantiasa mencari inovasi bagaimana upaya agar tetap menjaga bumi.

Saat saya berenang di beberapa perairan Indonesia, tidak dapat dipungkiri pemandangan karang-karang yang tertutup oleh sampah plastik, beberapa biota laut yang berenang diantara sedotan, kantong plastik dan potongan-potongan kecil sampah plastik.

Bahkan batin makin berkecamuk saat mereka menggigit bahkan memakan plastik-plastik tersebut. Sentimen ini bermaksud agar kita semua berfikir untuk mempertahankan langit tetap cerah. Ada banyak sekali inovasi yang telah dilakukan oleh para pejuang lingkungan mengenai penggunaan plastik yang sudah tidak terpakai ataupun mengganti bahan dasar dengan fungsi yang sama .

Adapun inovasi-inovasi  tersebut antara lain membuat ecobrick, kantong plastik dari bahan singkong, sedotan dari rumput laut atau wadah makanan dari serat tebu. Kita juga bisa mulai dengan gaya hidup yang lebih minimalis.

Dengan membawa tumbler  membawa wadah makanan, membuat kerajinan lampu tidur, celengan, dan lainnya dari botol kemasan bekas. Pada dasarnya tanpa pemikiran kritis dan pengetahuan yang mendalam mengenai isu lingkungan rasanya kepedulian kita terhadap bumi masih bersyarat.

Terlebih dari pertimbangan yang matang, menurut saya kita harus memulai dari akar agar selanjutnya problematika yang ada lebih terminimalisir. Pada akhirnya industrilah sebagai pionir utama terjadinya berbagai macam sampah. Karena sampah dari sisa konsumsi kita berasal dari produsen kebutuhan sehari-hari.

Mengapa industri yang menjadi titikberat saya?

Hal ini disebabkan pemerintah yang terkadang hanya menghitung pemasukan tanpa menghitung biaya kesehatan masyarakat dan dampak lingkungan sekitaran industri tersebut. Dari serangkaian potret lingkungan yang saya amati, dampak-dampak tersebut salah satunya berupa limbah cairan yang pada akhirnya mengalir ke lautan.

Kemudian perairan tersebut akan berubah warna bahkan tidak sedikit yang menyengat. Hal ini sangat mengkhawatirkan akan berdampak pada kerusakan lingkungan dan ekosistem lautan sehingga mengganggu keberlangsungan hidup masyarakat sekitaran. Paradoks ini bukanlah suatu hal yang baru dijumpai.

Isu pencemaran yang terjadi pula bukan hanya disebabkan oleh plastik, tekstil pun ikut andil dalam mencemari sungai dan lautan kita. Dimana Indonesia sendiri belum  mendaur ulang dengan baik limbah tekstil tersebut. Ada banyak sekali upaya yang dapat dilakukan oleh individu dalam mengurangi tekstil ini.

Contohnya memilih pakaian yang bisa digunakan jangka panjang, mengolah pakaian tak terpakai menjadi suatu barang serbaguna salah satunya yaitu pouch, bandana, lalu mengubah baju bekas menjadi tas yang dapat dipakai untuk berbelanja sehari-hari, dan inovasi lainnya.

Pada akhirnya kita memang lebih baik menganut gaya hidup yang lebih minimalis untuk mengurangi konsumsi. Cara ini selain berhemat juga bisa mengendalikan pencemaran lingkungan. Jadi apakah kamu sudah mulai membedakan keinginan dan kebutuhan ?

Problem lingkungan ini merupakan isu yang mengakar dari pola perilaku dan budaya masyarakat, sehingga kita jangan sampai berfikir prematur dan meromantisasi kebijakan yang telah ada di Jakarta. Mari kita mengilhami kebaikan yang ada dan selalu berusaha untuk mempertahankan kesehatan bumi kita.

Editor : Annisa Dian N

Baca Juga:

Scroll to Top