Kembali ke Masa Lalu di Pulau Onrust dan Cipir

Ditulis Oleh:

Ingat setiap ceritaku di cerita sebelumnya kan?

Ingat saat aku mengatakan bahwa aku mendapatkan pengalaman mistis yang seru di perjalanan ini? Hehehe.

Jadi, hal yang menarik yang ada di Pulau Onrust dan Pulau Cipir ini, selain cerita dari tour guide yang mendampingiku, juga terdapat cerita dari salah satu temanku yang menceritakan kembali apa yang ia lihat saat kami berada di dua pulau tersebut.

Yap! Tentunya hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang biasa.

Ngeriii..

Disini, aku memang melihat ada yang aneh dari sikap temanku ini selama di Pulau Onrust dan Pulau Cipir. Ia juga sempat memberikan clue dan berjanji akan menceritakannya nanti kepadaku dan satu temanku lainnya saat kami di perjalanan pulang.

Apa yang temanku ceritakan ini membuatku seperti kembali berada di masa lalu saat Belanda, Jepang, dan Inggris masih menduduki Pulau ini.

Temanku mengatakan bahwa tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh dia bahwa akan mengunjungi tempat-tempat seperti itu dan menemukan “banyak orang baru” yang tidak pernah ia jumpai.

Pulau Onrust

Cerita ODT PG_190422_0018.jpg

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, saat tiba di Pulau Onrust, aku berpisah dengan dua orang temanku dan memilih untuk bersama tour guide.

Dapat dipastikan bahwa temanku tidak mengetahui apa saja yang telah diceritakan tour guide kepadaku. Ia memulai ceritanya dengan mengatakan bahwa ia banyak menemukan orang Belanda disana.

Temanku mengatakan bahwa “mereka” terlihat tidak ramah saat melihat orang-orang yang baru mendatangi pulau tersebut.

Temanku mengatakan bahwa dari apa yang ia lihat, menurutnya pulau tersebut adalah tempat penyiksaan.

Hal tersebut membawaku pada cerita tour guide bahwa pulau ini merupakan pulau tersibuk dan tanpa henti selama 24 jam. Disini juga menjadi salah satu tempat kerja rodi karena terdapat Gudang VOC.

Cerita ODT PG_190422_0013.jpg

Saat berada di pulau tersebut, aku sebenarnya menyadari sikap aneh temanku. Ia tidak banyak bicara dan tidak berjalan lurus. Padahal, temanku ini adalah orang yang paling suka berbicara dan bercanda. Tapi tidak saat kami disini.

Ia mengatakan, selain orang asing, disini juga banyak terdapat orang pribumi. Namun, orang pribumi ini dalam kondisi yang menyedihkan dan kebanyakan “tidak utuh” karena mengalami penyiksaan.

Selain itu, temanku melihat banyak organ tubuh yang berserakan di jalan maupun yang dibuang di bibir pantai.

Ternyata, itulah yang menyebabkan megapa temanku bersikap tidak seperti biasanya dan tidak berjalan lurus. Ia berusaha menghindari hal-hal yang “berserakan” tersebut agar tidak terinjak.

Makam Belanda

Cerita ODT PG_190422_0014.jpg

Ingat saat tour guide ku menawarkanku untuk melihat Noni Belanda yang sangat cantik, namun ia mati muda, yang bernama Maria van de Velde?

Jujur, ekspektasi awalku sebelum memasuki makam dan mendapatkan tawaran itu adalah aku akan melihat fosil Noni Belanda tersebut ataupun foto saat ia masih hidup.

Tapi aku harus meredam ekspektasiku karena yang ada disana hanyalah makam-makam yang berjumlah sekitar 40 makam.

Yap! Yang aku lihat hanyalan makam, tidak seperti yang “dijanjikan” tour guide ku yang menawarkan untuk melihat Noni Belanda tersebut.

Temanku bercerita bahwa disini ia melihat Maria, Noni Belanda yang benar-benar sangat cantik dan mengenakan baju berwarna putih lengkap dengan topi yang biasa dikenakan oleh orang Belanda.

Maria berada di sisi makamnya, memegang bunga, dan nampak sedih. Menurut cerita temanku, disini banyak dijumpai anak kecil.

Memang benar, berdasarkan penjelasan tour guide ku, disini banyak anak kecil karena daerah ini merupakan pemukiman yang tidak sehat sehingga banyak orang yang mati muda.

Saat mengunjungi makam, hanya aku dan tour guide yang berada cukup lama di dalamnya. Temanku sempat melihat aku masuk ke dalam makam dan ia pun sempat masuk sebentar ke dalamnya.

Namun tidak berapa lama, ia keluar kembali. Aku sempat melihat temanku itu masuk dan kemudian keluar. Ia menungguku yang masih asyik bertanya kepada tour guide.

Aku pun tidak begitu menghiraukan temanku karena rasa penasaranku yang berharap mendapatkan jawaban dari tour guide tersebut.

Cerita ODT PG_190422_0001.jpg

Belum lagi saat tour guide itu mengatakan bahwa belum lama ini baru ditemukan kembali fosil tulang di makam tersebut, namun belum diteliti. Aku pun kembali mengubur rasa kecewaku karena berekspektasi akan melihat fosil tersebut.

Yap! Hahaha mungkin terdengar aneh mengapa aku antusias untuk hal-hal seperti itu. Karena bagiku, wisata sejarah merupakan hal yang sangat menarik dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan!

Seperti kata Bung Karno, Jasmerah, Jangan Sekali-kali melupakan sejarah! (padahal aku gak suka pelajaran sejarah di kelas hahaha dan aku yakin sebagian besar dari kalian pun sependapat denganku!)

Penjara

Selanjutnya, temanku juga mengatakan bahwa “orang-orang Belanda” yang berada disini mengenakan baju yang berbeda-beda karena itu menunjukkan kedudukannya.

Saat aku berada di depan penjara, aku sempat melihat temanku berlari ke arah pantai. Lagi-lagi aku membiarkannya karena aku tertarik dengan penjelasan tour guide seputar penjara ini. Akan tetapi, tour guide ku tidak banyak memberikan informasi seputar penjara ini.

Ternyata, saat temanku menceritakannya di perjalanan pulang, alasan ia berlari saat itu karena ia melihat orang Jepang blasteran yang menatapnya dengan sangat marah dan tidak suka.

Orang Jepang itupun menghampiri dan mendekat ke arah temanku. Tentunya temanku berlari karena ia takut orang Jepang tersebut meminjam raganya. Dan untungnya, si orang Jepang ini tidak mengejar.

Dan kalian tahu apa yang membuatku percaya cerita tentang apa yang temanku lihat tersebut? Saat ia menceritakan tentang orang Jepang yang di dekat penjara, aku pun tidak mengetahui sebelumnya bahwa penjara ini dimanfaatkan oleh tentara Jepang.

Hal ini karena tour guide ku tidak banyak memberikan informasi seputar penjara ini. Sampai akhirnya, saat aku di rumah dan melihat foto-foto perjalanan tadi, aku menemukan foto papan informasi tentang penjara ini di kameraku.

Tour guide tersebut tidak menceritakan kepadaku terkait orang Jepang dan aku pun baru mengetahuinya melalui papan informasi ini.

Cerita ODT PG_190422_0015.jpg

Temanku juga menceritakan bahwa ia tidak kuat melihat ke penjara karena isinya orang pribumi yang memohon pertolongan untuk dikeluarkan dari situ. Penjara itu sangat penuh dan sesak hingga tidak terdapat ruang gerak bagi mereka.

Pinggir Pantai

Yang lebih menarik adalah ternyata saat saya keluar dari makam, temanku mengatakan bahwa ada seorang anak kecil perempuan yang mengikutiku. Ia pun duduk bersama aku dan dua orang temanku saat kita sedang makan di pinggir pantai.

Cerita ODT PG_190422_0022.jpg

Satu hal yang belum kusebutkan di cerita sebelumnya, saat makan ini, kami dihampiri oleh banyak kucing yang kondisinya sangat menyedihkan. Kucing-kucing disini banyak yang tidak lengkap anggota tubuhnya.

Selain itu, suatu kejanggalan yang tidak terucap olehku adalah saat ada dua ekor ayam hitam (Cemani) yang menunggui kami dan mengikuti kami. Silahkan kalian simpulkan sendiri maknanya apa hehe

Anak Kecil

Dan anak kecil perempuan tadi pun ternyata mengikuti kami sejak makan, bersantai menunggu kapal, hingga kami naik kapal. Anak kecil itu lama duduk di sebelah temanku saat kami sedang menunggu kapal yang akan membawa kami untuk pindah pulau.

Saat itu, temanku memutuskan untuk menjauhi kami berdua dan duduk sendiri. Tidak, temanku tidak benar-benar sendiri, melainkan dengan anak kecil itu.

Temanku mengatakan bahwa anak kecil itu seperti ingin menceritakan sesuatu, tetapi tidak bisa. Ia pun ingin ikut kami keluar dari pulau tersebut tetapi ia juga tidak bisa dan seperti sudah terkunci disana.

Pulau Cipir

Cerita ODT PG_190422_0021.jpg

Temanku mengatakan, suasana di Pulau Onrust tadi masih “lebih baik” dibandingkan Pulau Cipir. Hal ini karena Pulau Onrust merupakan bekas tempat Asrama Haji sehingga pastinya dulu banyak orang yang membaca ayat suci disana.

Sedangkan Pulau Cipir benar-benar merupakan tempat untuk Rumah Sakit dan spesialis bedah. Disini, temanku memang tidak banyak berkeliling dan langsung mencari pantai yang menjadi tempat kami bermain pasir, air laut, dan banana boat.

Terpisah dari Dua Temanku

Satu hal yang tidak kuceritakan lagi adalah pada saat di Pulau Cipir, aku sempat tiba-tiba terpisah dengan kedua temanku. Iya! Hahaha.

Itu karena aku tertarik pada suatu pohon yang terlihat berbeda dan akhirnya aku mengamati pohon tersebut +5 menit.

Waktu yang cukup lama untuk berdiam diri dan mengamati suatu objek. Selain itu, aku juga memasuki WC umum yang sangat banyak sekali.

Ruang Bedah

Terakhir, aku memasuki ruang bedah! Aku benar-benar penasaran dibuatnya sehingga aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruang bedah tersebut.

Baru di dalam ruangan ini aku merasakan kondisi dan perasaan yang berbeda, sampai-sampai aku membaca Ayat Kursi untuk meredam perasaanku yang tidak karuan.

Cerita ODT PG_190422_0020.jpg

Di dalam ruang bedah, aku menemukan tempat cuci peralatan bedah. Kamar bedahnya pun tidak langsung kelihatan dan kita harus masuk ke suatu ruang lainnya.

Lagi-lagi, rasa penasaran membuatku memberanikan diri untuk menengok ke dalam ruang bedah tersebut dan kemudian segera keluar karena merasakan hawa yang semakin berbeda.

Cerita ODT PG_190422_0006.jpg

Setelah keluar dari Ruang Bedah itu, aku pun menghampiri kedua temanku yang sedang menikmati suara ombak. Aku juga baru menceritakan apa yang aku rasakan saat berada di Ruang Bedah saat perjalanan pulang.

Cerita temanku saat perjalanan pulang sangat membuatku antusias. Hal ini karena aku merasa seperti dibawa ke masa lalu saat kejadian sejarah di pulau itu terjadi.

Pengalamanku ini merupakan hal yang tidak terlupakan. Meskipun aku tidak menuliskan semua bagian yang aku ketahui dari temanku, tapi kurasa ceritaku cukup memberikan kalian gambaran tentang apa yang pernah terjadi di sana.

Poin Penting!

Yang menjadi poinku dalam perjalanan ini adalah Indonesia menyimpan sangat banyak sekali tempat-tempat bersejarah yang harus dirawat dan dilestarikan.

Bahkan yang awalnya ada dipikiranku, peninggalan bekas masa-masa VOC hanya berada di daerah-daerah Jawa saja. Namun ternyata, di tempat yang dekat dengan kita yang tinggal di Jakarta pun banyak cerita dan peninggalan sejarah pada masa itu.

Cerita ODT PG_190422_0009.jpg

Pesan terakhir dari perjalananku, kemana pun kita pergi, kita tetap harus menjaga kebersihan tempat tersebut. Jangan sampai kita menjadi wisatawan yang tidak bertanggung jawab dengan meninggalkan sampah yang merusak lingkungan.

Cerita ini aku tulis bukan untuk menakuti. Akan tetapi, disini tujuanku untuk membagikan kepada kalian mengenai cerita sejarah yang tentunya tidak akan kita dapatkan di bangku sekolah.

Sekali lagi, wisata sejarah itu sangat menyenangkan guys! Kalian tidak hanya mendapatkan kesenangan karena jalan-jalan, tetapi juga pengalaman dan cerita baru yang menarik.

Dan yang pasti, jadilah wisatawan yang bertanggung jawab! 😊

Editor : Annisa Dian N.

2 komentar untuk “Kembali ke Masa Lalu di Pulau Onrust dan Cipir”

Baca Juga:

Scroll to Top