Generasi Malang Sang Predator Lautan

Ditulis Oleh:

Cerahnya langit dan birunya lautan ditemani deburan ombak yang bergemuruh menyapu indahnya tepian hamparan halusnya pasir pantai. Angin bertiup, memberikan nuasa kesejukan udara pagi yang menenangkan jiwa.

Hangatnya sang surya juga tak kalah indahnya menyinari pagi yang setia memancarkan energi untuk semua makhluk hidup di alam semesta.

Jarum menunjukkan arah jam tepat pada pukul 07.00 WIB. Pada hari minggu pagi, saat itu saya pergi untuk berolahraga sambil menikmati indahnya suasana pantai di tengah kota Jakarta.

DKI Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia, terkenal sebagai kota yang padat dan macet karena merupakan pusat administrasi serta perekonomian di pusat kota.

Tetapi siapa yang tidak tau bahwa kota super padat ini memiliki potensi pariwisata yang beraneka ragam khususnya wisata bahari.

Kota Jakarta memiliki ikon wahana wisata pantai yang selalu ramai oleh para pengunjung yang berasal dari luar kota maupun dari dalam kota Jakarta sendiri. Pantai yang terletak di wilayah Jakarta Utara ini terdapat di kawasan Taman Impian Jaya Ancol.

Taman Impian Jaya Ancol memiliki 5 pantai di dalamnya yaitu terdapat Pantai Festival, Pantai Indah, Pantai Elok, Pantai Ria, dan Pantai Karnaval serta satu Danau Impian.

Saya memilih untuk berolahraga di Beach Park yang berlokasi di sekitar area Beach Pool. Ketika sedang jogging di tepi pantai, pandangan saya seolah teralihkan oleh keramaian yang ada di salah satu jembatan yang sudah menjadi ikon dari pantai ancol itu berlokasi di beach pool.

Jembatan ini menyambung dari tepi pantai beach pool arah timur dan utara pantai. Ditengah jembatan terdapat restoran apung yang cukup terkenal di kalangan pengunjung yaitu Le’Bridge.

Sayapun memutuskan untuk berjalan dari sisi kanan jembatan arah timur menuju arah utara pantai. Saya menndekat ke lokasi dimana dari tepi pantai tampak keramaian di tengah jembatan, ternyata ada banyak kapal nelayan yang menepi di sekitar kawasan Le’Bridge Resto.

Langkah demi langkah terus maju menuju keramaian, banyak nelayan yang menawarkan kepada saya berwisata menggunakan kapal kayu untuk menyebrang ke Pulau Bidadari.

Dalam hati ini berkata, “Oh mungkin keramaian tersebut karena pengunjung yang sedang antri ingin berwisata menyebrang pulau menggunakan kapal kayu tersebut.”

Sembari berjalan saya terus mengamati keadaan disekitar hingga akhirnya sampai di tengah jembatan yang sebelumnya tampak ramai.

Ternyata di jembatan ini terdapat pasar apung yang mayoritasnya pedagangnya nelayan berkapal kayu. Terlintas rasa penasaran untuk melihat lebih dekat semakin membuat saya bersemangat.

“Apa sajakah yang dijual oleh para nelayan disana?”

“Biota Laut yang mereka bawa bertujuan untuk di pelihara atau dikonsumsi oleh pengunjung?”.

Saya mulai melihat dari awal kapal yang berada di barisan depan, ternyata nelayan disini menjual beraneka ragam hewan laut untuk di konsumsi.

Saya melihat dan mengunjungi semua kapal kayu yang bersandar di bawah jembatan tersebut. Dari atas jembatan tampak jelas terlihat isi kapal yang ditawarkan oleh para nelayan, terdapat hewan laut apa saja yang dapat dikonsumsi.

Sembari melihat saya pun terus berjalan untuk menyusuri semua kapal nelayan yang ada karena saya sangat antusias melihat seberapa banyak keanekaragaman biota laut yang dapat dikonsumsi dan telah dijaring oleh para nelayan tersebut dari teluk Jakarta.

Saat ini, kita dapat ketahui bahwasanya lingkungan perairan di teluk Jakarta telah tercemar dan terkontaminasi.

“Jadi apakah masih banyak biota laut yang dapat bertahan dan berhabitat di lingkungan tersebut?”

“Bagaimana dampaknya jika ternyata ikan yang dijual tersebut di jadikan bahan konsumsi pakan?”.

Jawaban yang dapat kita simpulakan bahwa selain Lingkungan yang semakin tercemar di Teluk Jakarta, juga telah menjadi alih fungsi lahan perairan.

Teluk Jakarta yang tadinya sebagai tempat pemijahan alami dan habitat biota laut sekarang ekosistemnya sudah mengalami perubahan akibat adanya proyek reklamasi di kawasan tersebut.

Hal ini, akan memberikan dampak terhadap kuantitas biota yang ada. Tidak hanya hal tersebut tetapi, berdampak pula terhadap kualitas biota laut yang mengalami penurunan potensi sumber daya kelautan untuk konsumen konsumsi.

Ketika saya sedang asik meilhat salah satu kapal nelayan. Mata ini tercengang dan dalam hati bertanya: “Apakah yang aku lihat adalah Kau Sang Predator nomor satu di lautan?”

Seketika saya terdiam, dan tidak lama kemudian nelayan pemilik kapal ikan itu segera menawarkan isi tangkapannya kepada saya. Langsung saya bertanya kepada bapak nelayan tersebut apakah hasil tangkapan beliau memang benar si predator lautan yang banyak organisme lain takuti? Baik di lautan maupun di darat?

Akhirnya setelah melakukan wawancara singkat dengan bapak nelayan pemilik kapal itu mengenai nilai jual si predator puncak di lautan. Saya segera mengambil handphone dengan tujuan untuk mendokumentasikan kejadian yang mungkin langka ini.

Dalam hati sungguh sedih dan miris bagaimana tega memakan hewan yang identik menyeramkan sebagai predator nomor satu di lautan. Ditambah lagi setelah melihat bentuknya secara langsung yang masih bayi semakin tidak tega karena begitu munggil, lucu dan menggemaskan.

Sungguh malang populasi Baby Shark tersebut terperangkap dan tergeletak di atas kapal nelayan, yang kemudian akan berakhir di dapur menjadi olahan untuk konsumsi lalu masuk ke dalam perut manusia.

Bagaimana mungkin Taman Impian Jaya Ancol yang merupakan tempat wisata bahari memiliki salah satu destinasi wahana akuarium Seaworld terbesar dan terpanjang di Indonesia dengan 3 misi besarnya yaitu pendidikan, konservasi, dan hiburan tetapi mengizinkan adanya penjualan biota laut langka yang tingkat populasinya hampir punah di kawasan Ancol sendiri? Hal ini masih menjadi pertanyaan.

Apakah pihak pengelola Ancol memberikan legalitas perizinan nelayan yang berjualan di lokasi tersebut ataukah malah perdagangan di lokasi tersebut bersifat ilegal.

Kemudian bagaimana jika bersifat legal, apakah pihak Ancol mengetahui atau tidak mengenai hal tersebut dan mengapa membiarkannya begitu saja ada nelayan yang dengan bebas menjual biota hampir punah yang seharusnya dilindungi.

Apakah tidak ada perlakuan sanksi maupun hukum yang jelas?

Ironi, pada umumnya banyak manusia yang beranggapan bahwa hiu memiliki karakter kejam yang manusia takuti seperti di film Deep Blue Sea, Jaws, dan Shark Attack Megalodon.

Hiu yang terdapat di film tersebut digambarkan sebagai predator lautan bergigi tajam dan memangsa manusia sehingga kita antipati kepada kelangsungan hidup populasinya di lautan dan menjadi musuh manusia. Tetapi, hal tersebut malah sebaliknya dengan kondisi saat ini. Manusia dengan mudahnya mengeksploitasi penangkapan populasi ikan Hiu.

Dibunuh dengan keji oleh manusia yang tidak bertanggung jawab untuk diambil siripnya, kemudian sirip yang digunakan dijadikan menu untuk dikonsumsi oleh restaurant mahal yang mitosnya dapat menjaga stamina dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Mayoritas dari jenis ikan hiu khususnya di perairan Indonesia yang tersisa hingga saat ini telah dikategorikan masuk dalam IUCN Red List. Lalu, apakah ikan hiu akan memiliki kehidupan di laut yang sama seperti film Finding Nemo ataupun Finding Dory dan diberi judul Finding Shark?

Sama halnya dengan kedua film tersebut berdasarkan Finding Nemo dan Finding Dori menyadarkan kita dari segi positifnya sebagai manusia tidak boleh serakah dan harus menjaga kestabilan sumber daya alam maupun kondisi lingkungan, khususnya ekosistem dan keanekaragaman biodiversitas di dunia kelautan.

Sedangkan dari sisi lainnya juga memberikan dampak yang negatif, banyak sebagian dari orang yang kurang peka terhadap kestabilan ekosistem lautan hanya demi kesenangan pribadi semata.

Setelah menonton film tersebut ada keinginan untuk memelihara ikan badut serta ikan blue tank tersebut. Tidak hanya itu, bahkan ikan Dori saat ini juga menjadi terkenal di menu restoran untuk dijadikan steak serta olahan lainya.

Lantas bagaimanakah jika Finding Shark dijadikan film berikutnya? Jika iya, mungkin populasi bayi hiu di lautan akan semakin menghawatirkan. Dapat dipastikan akan terjadi penurunan jumlah populasi ikan Hiu di lautan.

Selain akibat diburu untuk dijadikan menu restoran, mungkin pula akan menjadi menu keseharian di rumah, dan tidak menutup kemungkinan bayi ikan hiu akan menjadi ikan Hias yang masuk ke dalam akuarium pribadi di rumah orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang terhadap binatang.

Jika kalian tidak menginginkan hal tersebut terjadi, ayo mulai dari sekarang kita bersama membuat gerakan selamatkan hiu dari ancaman predator darat, karena hiu sangat berperan penting sebagai predator puncak di lautan yang akan berpengaruh pada ekosistem serta rantai makanan di Lautan.

Mari kita selamatkan populasi hiu, karena hiu adalah teman bukan untuk menjadi makanan! (*)

Baca Juga:

Scroll to Top