Mengapa Laut Menguarkan Aroma yang Khas?
Laut terkadang memiliki aroma yang susah dijelaskan. Ada kesan asin, segar, amis, atau seperti bau belerang yang muncul terutama saat kita berdiri di tepi pantai. Namun, air laut sebenarnya tidak memiliki aroma yang kuat.
Air laut memang mengandung banyak garam dan mineral, tetapi garam bukan penyebab utama aroma yang kita kenali sebagai bau laut. Yang lebih berperan adalah sejumlah senyawa kimia yang dilepaskan organisme laut ke lingkungan.
Menurut BBC Science Focus, aroma laut adalah campuran berbagai senyawa yang berasal dari organisme yang hidup di dalamnya. Salah satu yang paling penting adalah dimetil sulfida atau dimethyl sulfide (DMS), senyawa sulfur yang memiliki aroma khas dan dapat tercium di sekitar pantai.
DMS berkaitan erat dengan kehidupan mikroskopis di laut, terutama fitoplankton. Ketika organisme-organisme kecil itu mati dan mengalami penguraian, senyawa yang mengandung sulfur dilepaskan ke lingkungan.
Karena zat ini mudah menguap, maka sebagian senyawanya berpindah dari permukaan laut ke atmosfer. Itulah sebabnya aroma yang kita cium di pantai bukan berasal dari air laut belaka, melainkan juga dari molekul-molekul yang telah masuk ke udara.
Pengaruh Fitoplankton terhadap Aroma Laut
Fitoplankton memang berukuran sangat kecil, tetapi pengaruhnya terhadap kimia atmosfer cukup besar. Salah satu senyawa yang berkaitan dengan proses tersebut adalah dimethylsulfoniopropionate(DMSP). Senyawa ini diproduksi oleh sejumlah organisme laut dan dapat diubah menjadi DMS melalui aktivitas mikroorganisme.
Plankton laut melepaskan lebih dari 20 juta ton sulfur ke atmosfer setiap tahun, sebagian besar dalam bentuk DMS. Setelah berada di atmosfer, DMS mengalami perubahan kimia dan menghasilkan senyawa sulfur yang berperan dalam pembentukan aerosol serta awan.
Aroma yang kita kenali sebagai bau laut merupakan bagian kecil dari proses kimia yang jauh lebih besar. Molekul yang dilepaskan organisme laut bahkan ikut memengaruhi atmosfer dan iklim.
Tak Selalu Segar, Kadang Seperti Bau Busuk
Di sejumlah pantai, terutama ketika air surut, kita bisa mencium bau yang lebih tajam, amis, atau busuk.
Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya konsentrasi senyawa hasil penguraian organisme laut. Rumput laut, plankton, ikan, dan berbagai material organik yang terdampar di pantai akan mengalami proses pembusukan.
Dalam kondisi tertentu, proses penguraian tersebut menghasilkan senyawa sulfur yang aromanya lebih menyengat.
Fenomena ini menjadi jelas ketika terjadi ledakan populasi alga atau ketika banyak organisme laut mati. Ketika alga terurai, proses tersebut menghasilkan DMS yang menimbulkan aroma sulfur. Senyawa yang sama juga dapat menjadi petunjuk penciuman bagi sejumlah hewan laut bahwa terdapat sumber makanan di sekitarnya.
Percikan Ombak juga Membawa Aroma Laut
Percikan ombak bukan hanya membawa air dan garam. Ombak yang pecah menciptakan gelembung udara di permukaan laut. Ketika gelembung pecah, sebagian material dan senyawa yang berada di permukaan air ikut terlempar ke udara dalam bentuk aerosol berukuran sangat kecil.
Aerosol laut itu membawa berbagai komponen kimia dan biologis dari permukaan laut.
Aerosol air laut bahkan dapat ditemukan jauh dari garis pantai. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa percikan laut dapat membawa material dari lautan ke atmosfer dalam jarak yang sangat jauh.
Mekanisme ini membantu menjelaskan mengapa aroma laut dapat terasa begitu kuat di kawasan pantai yang berombak: semakin banyak percikan, semakin banyak pula material laut yang masuk ke udara di sekitar kita.
Hidung Manusia Sangat Peka terhadap Senyawa Tertentu
Kemampuan kita mengenali aroma alam tidak hanya bergantung pada banyaknya senyawa yang ada di udara. Hidung manusia juga sangat sensitif terhadap molekul tertentu.
Hal serupa terjadi pada geosmin, senyawa yang dikenal sebagai salah satu penyebab aroma tanah setelah hujan. Manusia dapat mendeteksinya dalam konsentrasi yang sangat rendah. Kepekaan manusia terhadap geosmin dapat mencapai kadar hanya beberapa bagian per triliun di udara.
Geosmin bukan penyebab utama bau laut, tetapi keberadaannya di lingkungan perairan dapat membantu menjelaskan mengapa hidung manusia mampu menangkap aroma tertentu dalam jumlah yang sangat kecil.
Bau Laut sebagai Jejak Kehidupan
Bau laut bukan satu aroma tunggal, tapi campuran dari berbagai molekul yang berasal dari organisme laut, proses penguraian bahan organik, aktivitas mikroba, rumput laut, fitoplankton, serta aerosol yang terbentuk ketika ombak dan gelembung laut pecah.
Maka itu, aroma laut dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Pantai dengan banyak rumput laut yang membusuk memiliki aroma berbeda dari perairan terbuka yang kaya fitoplankton. Kondisi pasang-surut, suhu, angin, gelombang, dan jumlah bahan organik juga dapat mengubah komposisi senyawa di udara.
Saat kita menghirup aroma khas laut, sebenarnya kita sedang mencium jejak kimia dari kehidupan yang berlangsung di dalam dan sekitar lautan. Bau tersebut merupakan pengingat bahwa laut bukan sekadar hamparan air asin, melainkan ekosistem hidup yang terus bertukar materi dengan atmosfer. [ ]
Tanggapan