Oarfish dan Gempa Bumi: Mitos, Sains, dan Misteri Laut Dalam

Ikan Raja Herring atau Ikan Sabuk Raksasa alias Giant Oarfish atau Regalecus glesne panjangnya dapat mencapai 56 kaki dan berat 600 pon. Ikan ini umumnya hidup di kedalaman sekitar 200 meter (656 kaki), tetapi beberapa ditemukan juga pada kedalaman 1.000 meter (3.280 kaki), hingga membuatnya jarang sekali bertemu dengan manusia.

Tubuhnya tidak memiliki sisik seperti ikan pada umumnya. Sisik mereka digantikan dengan Ganoine yang merupakan lapisan mineral seperti kaca mengelilingi tubuh mereka yang berwarna perak. Ikan ini juga tidak memiliki kantung gas yang umumnya ditemui di hampir semua ikan sebagai pengontrol daya apung.

Oarfish menggunakan tubuhnya yang panjang dengan sirip perutnya berbentuk dayung atau oar untuk bergerak di dalam air dan membuat mereka berenang secara vertikal.

Selain sirip perut, kemampuan berenang secara vertikal juga didukung dengan sirip punggungnya untuk menyeimbangkan diri. Kemampuan berenang vertikal ini membuat mereka jarang tertangkap oleh pemangsa dari atas maupun bawah, ditambah kilauan dari kulitnya yang berwarna perak dan mengilap saat terkena cahaya membuatnya luput dari pandangan para pemangsa.

Oarfish Tanda Sebelum Gempa Bumi?

Tubuh yang panjang dengan tampilan yang menyeramkan, juga tinggal di kedalaman, membuat ikan ini diselimuti cerita dan mitos. Dalam kebudayaan Jepang misalnya, mereka percaya munculnya Oarfish ke permukaan membawa pesan dari Dewa Naga Laut tentang akan terjadinya peristiwa besar terutama gempa bumi kepada penghuni daratan. Di Jepang, ikan ini dikenal dengan sebagai Ryugu no Tsukai atau “Pembawa Pesan Dewa Naga Laut”.

Awal Februari 2019, dua ekor Oarfish ditemukan tersangkut di jaring nelayan di lepas pantai Prefektur Toyama (wilayah utara Jepang), hal ini membuat warga khawatir. Pasalnya, seperti dilaporkan CNN, sebelum terjadi gempa di Fukushima pada 2011, setidaknya terdapat selusin Oarfish terdampar di garis pantai Jepang.

Penelitian tentang fenomena ini, yakni kemunculan Oarfish ke permukaan laut dengan aktivitas seismik gempa bumi, menemukan bahwa dari 336 penampakan ikan dan 221 gempa bumi dalam kurun waktu yang sama, hanya satu penampakan yang dapat dikorelasikan. Sehingga hubungan keduanya sangat kecil.

Namun, terdapat pandangan lain yang tetap menghubungkan mengapa Oarfish ditemukan sesaat sebelum gempa bumi terjadi di Jepang. Sejumlah ahli berpendapat, kemungkinan Oarfish yang hidup di dekat dasar laut lebih sensitif terhadap pergerakan patahan aktif daripada ikan yang berada di dekat permukaan laut. Hal ini di ungkapkan oleh Kiyoshi Wadatsumi, seorang spesialis seismologi ekologi dalam laman NBC News.

Pandangan lain diungkapkan oleh Osamu Inamura, Direktur Akuarium Uozu, bahwa kemungkinan Oarfish mengikuti pergerakan pasokan makanan mereka, yakni sejenis udang kecil. “Ketika pasokan udang mereka meningkat menuju plankton pada siang hari, Oarfish terkadang mengikuti dan terperangkap dalam jaring nelayan,” kata Inamura.

Ekor Oarfish Putus Saat Terdampar

Ketika Oarfish terdampar di pantai, mereka kadang ditemukan dalam keadaan tak berekor. Pada 2010, Oarfish tanpa ekor sepanjang 12 kaki ditemukan di pantai di Swedia. Diketahui bahwa putusnya ekor Oarfish ini tidak ada tanda-tanda bekas gigitan predator.

Hal ini membuat para ahli meyakini bahwa Oarfish dapat melakukan autotomi, yakni perilaku melepaskan bagian tubuh secara mandiri seperti halnya kadal dan cicak yang dapat memutus ekornya saat terancam.

Menurut Katie Hogge Moore di Ocean Conservancy, kemunculan Oarfish—yang umumnya di laut dalam—ke permukaan biasanya menandakan bahwa ikan itu sakit, sekarat, atau setidaknya mengalami disorientasi. Hal ini menjadi alasan yang paling masuk akal menurut para ahli mengapa Oarfish mati terdampar dan memutuskan ekor, yang menandakan bahwa itu adalah akhir hidup mereka.

Referensi:

https://edition.cnn.com/2019/02/01/asia/oarfish-sighting-tsunami-earthquake-fear/index.html

https://www.nbcnews.com/id/wbna53347520

Why are Oarfish Known as Doomsday Fish?

 

Artikel Terkait

Tanggapan

Secret Link