Bagaimana Laut Mengatur Suhu Bumi?

Bumi tidak akan memiliki suhu seperti sekarang tanpa laut. Sekitar 71 persen permukaan planet ditutupi lautan yang menyimpan dan memindahkan panas dalam jumlah sangat besar. Laut bukan sekadar kumpulan air yang mengelilingi benua, melainkan salah satu pengatur utama sistem iklim Bumi.

Salah satu alasannya adalah kemampuan air menyimpan panas. Air membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk menaikkan suhunya sehingga laut tidak cepat panas atau dingin seperti daratan.

Menurut NASA Science, beberapa meter bagian atas laut saja dapat menyimpan panas dalam jumlah yang sebanding dengan seluruh atmosfer Bumi.

Bagaimana mekanismenya?

Laut Menyimpan Panas Matahari

Matahari adalah sumber energi utama bagi sistem iklim Bumi. Namun, energi matahari tidak diterima secara merata. Wilayah sekitar khatulistiwa mendapatkan lebih banyak radiasi matahari dibandingkan wilayah kutub.

Laut menyerap sebagian besar energi tersebut. Karena air memiliki kapasitas panas yang tinggi, energi dapat disimpan dalam jumlah besar tanpa membuat suhu laut naik secepat permukaan daratan.

Inilah salah satu alasan mengapa wilayah pesisir umumnya mengalami perubahan suhu yang lebih lambat dibandingkan wilayah daratan yang jauh dari laut. Laut bekerja seperti penyangga panas: menyerap energi ketika tersedia dan melepaskannya kembali secara perlahan.

Kemampuan itu menjadi semakin penting dalam kondisi pemanasan global. Laut tidak menghilangkan panas tambahan akibat peningkatan gas rumah kaca, tetapi menyerap sebagian besar energi berlebih itu sehingga pemanasan atmosfer berlangsung lebih lambat daripada seandainya panas tersebut seluruhnya berada di udara.

Menurut Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), sejak 1971 laut telah menyerap sekitar 90 persen energi berlebih yang ditambahkan ke sistem iklim akibat aktivitas manusia.

Artinya, laut selama ini menjadi semacam penyangga terhadap laju pemanasan atmosfer. Namun, panas tersebut tidak hilang. Sebagian besar justru tersimpan di dalam laut.

Arus Laut Memindahkan Panas

Menyimpan panas saja belum cukup. Laut juga harus mendistribusikannya.

Air laut terus bergerak melalui arus permukaan, pusaran, serta sirkulasi di lapisan laut dalam. Pergerakan tersebut memindahkan panas dari satu wilayah ke wilayah lain.

Air hangat dari wilayah tropis, misalnya, dapat bergerak menuju lintang yang lebih tinggi. Sebaliknya, air yang lebih dingin dapat bergerak menuju wilayah tropis. Dengan demikian, panas tidak terkonsentrasi hanya di daerah yang menerima banyak sinar matahari.

Salah satu contoh yang paling dikenal adalah Gulf Stream di Atlantik Utara. Arus ini membawa air hangat dari kawasan tropis menuju Atlantik Utara dan berkontribusi terhadap kondisi iklim di Eropa Barat.

Met Office menjelaskan bahwa perbedaan suhu dan kadar garam membantu menggerakkan sirkulasi laut global. Air hangat bergerak ke lintang tinggi, kemudian mendingin dan menjadi lebih rapat sehingga dapat tenggelam. Air yang tenggelam tersebut menjadi bagian dari sirkulasi laut dalam.

Proses ini membuat lautan memiliki sistem transportasi panas yang bekerja dalam skala global.

Bukan Hanya Panas, Laut Juga Mengatur Hujan

Hubungan laut dan atmosfer tidak berhenti pada suhu.

Air laut mengalami penguapan dan memasok uap air ke atmosfer. Uap tersebut dapat membentuk awan dan turun kembali sebagai hujan. Maka itu, laut memiliki peran besar dalam siklus air yang menentukan pola cuaca di berbagai wilayah.

Pertukaran panas dan air antara laut dengan atmosfer juga memengaruhi angin, hujan, badai, dan berbagai fenomena iklim.

Di kawasan tropis, perubahan suhu permukaan laut bahkan dapat memengaruhi pola cuaca hingga wilayah yang sangat jauh. Fenomena El Niño dan La Niña merupakan contoh bagaimana perubahan kondisi laut di Pasifik tropis dapat mengubah pola atmosfer dan curah hujan di berbagai belahan dunia.

Woods Hole Oceanographic Institution menyebut laut sebagai pusat sistem iklim karena kemampuannya menyerap panas dan karbon, sekaligus memengaruhi cuaca serta pola badai.

Laut Juga Menyerap Karbon

Ada mekanisme lain yang membuat laut berperan dalam mengatur iklim: penyerapan karbon dioksida (CO₂).

Sebagian CO₂ dari atmosfer larut ke dalam air laut. Organisme mikroskopis seperti fitoplankton juga menggunakan CO₂ dalam proses fotosintesis. Sebagian karbon dapat berpindah dari permukaan menuju laut yang lebih dalam melalui berbagai proses biologis dan fisik.

Dengan cara ini, laut membantu mengurangi sebagian CO₂ yang berada di atmosfer. Namun, penyerapan CO₂ juga memiliki konsekuensi. Semakin banyak karbon dioksida masuk ke laut, semakin besar pula risiko pengasaman laut.

Menurut United Nations, laut menyerap sekitar 30 persen emisi CO₂ yang dihasilkan manusia dan sekitar 90 persen kelebihan panas dalam sistem iklim.

Jadi, peran laut sebagai pengatur iklim memiliki dua sisi: membantu memperlambat pemanasan atmosfer, tetapi pada saat yang sama harus menanggung konsekuensi dari panas dan karbon yang terus bertambah.

Saat Laut Terlalu Banyak Menyimpan Panas

Kemampuan laut menyerap panas bukan berarti lautan tidak terdampak pemanasan global.

Air laut yang semakin hangat dapat menyebabkan gelombang panas laut, perubahan sebaran organisme, pemutihan karang, pencairan es, dan kenaikan permukaan laut. Air yang lebih hangat juga memuai sehingga volumenya bertambah.

Selain itu, semakin hangat laut, semakin besar perubahan yang dapat terjadi pada ekosistem dan pola cuaca.

United Nations Climate Change mencatat bahwa sekitar 90 persen panas berlebih akibat pemanasan global telah diserap laut. Pemanasan tersebut berkaitan dengan berbagai dampak, termasuk kenaikan muka laut, gelombang panas laut, pencairan es, dan pengasaman laut.

Dengan kata lain, laut bukan mesin pendingin Bumi yang tidak memiliki batas.

Laut hanya Penyangga, Bukan Solusi Tunggal

Selama jutaan tahun, laut telah menjadi bagian penting dari sistem yang membuat iklim Bumi memungkinkan kehidupan berkembang. Laut menyerap panas, menyimpan energi, mengedarkan panas melalui arus, menyediakan uap air bagi atmosfer, dan menyerap sebagian karbon dari udara.

Sistem itu bekerja secara bersamaan. Perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.

Maka itu, penelitian dan pemantauan laut bukan hanya persoalan mengetahui kondisi ekosistem bawah air. Suhu laut, arus, kandungan karbon, dan pertukaran laut-atmosfer juga merupakan bagian penting untuk memahami perubahan iklim secara keseluruhan.

BRIN juga menempatkan interaksi iklim dengan sektor kelautan sebagai salah satu bidang yang perlu diteliti dalam menghadapi perubahan iklim.

Kesimpulannya, laut memang membantu menjaga suhu Bumi tetap relatif stabil. Tetapi kemampuan itu bukan berarti laut dapat terus menerima panas dan karbon tanpa batas. Semakin banyak panas yang diserap laut, semakin besar pula perubahan yang harus ditanggung ekosistem dan manusia yang bergantung padanya.

Laut membantu menahan laju pemanasan Bumi, tetapi bukan berarti pemanasan itu berhenti. Panas yang diserap laut tetap tersimpan di dalam sistem Bumi dan membawa konsekuensi ekologis yang semakin nyata. [ ]

Artikel Terkait

Tanggapan

Secret Link