Sebuah Paradoks Modernisasi Terhadap Ancaman Lingkungan

Ditulis Oleh:

Apa sikap maju itu sebuah keharusan?

Apa akibat yang akan timbul dalam modernisasi?

Dikutip dari Teori Ilmu Sosial “Modernisasi ialah merajuk pada sebuah transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang menuju ke arah yang lebih baik dengan harapan kemakmuran dan kemajuan.”

Jelas, modernisasi sebuah keharusan agar manusia bisa bertahan hidup dan terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Tentu Modernisasi banyak membawa kemanfaatan, pula tidak lepas dari banyaknya kenegatifan.

Ketika terjadi modernisasi, masyarakat dalam sosial akan berlomba-lomba untuk menjadi maju, tentu dengan cara-cara yang cepat atau efisien dan dengan cara-cara yang praktis atau efektif.

Ketika sosial saling berlari untuk menjadi makmur dan maju, ekonomi akan mendorong dan mewadahi sosial untuk bertransformasi.

Mari kita berbicara sedikit dari sisi negatif :

Ketika harapan untuk menjadi ‘sejahtera’ muncul, berarti segala sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan harus terpenuhi. Sesuatu yang harus terpenuhi adalah ilmu, dan materi.

Salah satu untuk pemenuhan materi adalah peran industri ekonomi untuk memproduksi.

Sayangnya, dengan dituntutnya untuk bersikap maju, maka Sebagian Masyarakat akan menjadi konsumerisme, sebab dengan sebanyak-banyaknya materi yang ia punya ia berpikir akan lebih mudah dan cepat untuk maju dan berkembang.

Berangkat dari pernyataan itu, logika ekonomi akan berbicara jika banyaknya permintaan, maka produksi makin meningkat.

Namun, apa masalahnya?

Industri dalam pengambilan sumber daya alam akan tinggi, sementara alam sendiri membutuhkan waktu untuk memproduksi dan memulihkan kembali. Bahkan sumber daya alam juga terbatas!

Mari kita ambil contoh dalam perandaian : 

” Ada kelompok kecil masyarakat hasil modernisasi ini berpikir bagaimana kehidupan mereka bisa terus terpenuhi bahkan makmur bahkan juga maju di era super cepat ini.

Ha! mereka mendapatkan ide, yaitu membuka restaurant cepat saji, alasannya adalah karena mereka pikir masyarakat jaman sekarang tidak mau ribet  dan ingin segalanya serba praktis, maka ia memanfaatkan peluang itu.

Si pemilik restaurant cepat saji itu akhirnya membangun usahanya, lalu dengan waktu yang singkat restauran mereka banyak pelanggan. Dengan banyaknya pelanggan/konsumen, maka stok atau bahan juga harus terus selalu tersedia.

Seperti contohnya minyak goreng. Jika ia harus terus bisa menghidangkan ayam tepung goreng, maka ia akan terus membutuhkan minyak goreng untuk menggoreng ayam tepungnya agar ayamnya dapat terus dihidangkan dan dinimkati oleh pelanggan.

lalu ia akan mendapatkan uang. Terus dan terus siklus itu berjalan dan berulang. “

Pastinya dengan pemintaan minyak goreng yang harus selalu tersedia di gudang restauran itu, maka industri kelapa sawit yang menghasilkan minyak goreng akan terus memproduksi minyak gorengnya secara terus menerus bahkan masif sesuai dengan permintaan pasar.

Apa dampaknya?

Penanaman hutan sawit akan terus diperlebar dan masif, dan tidak ada jeda untuk memproduksinya.

Lalu hutan-hutan yang menjadi peran kehidupan makhluk hidup akan berkurang (deforestasi) karena diambil alih oleh lahan-lahan sawit.

Apa contoh nyata dari perandaian diatas?

Seperti yang dilansir  kbr.id dalam artikelnya menyebutkan bahwa :

” Menurut analisis pencitraan satelit yang dilakukan tim peneliti, industri kelapa sawit masih menjadi penyebab deforestasi terbesar di Indonesia.

Selama periode tahun 2011 – 2016, peneliti menemukan industri sawit telah mengakibatkan deforestasi seluas 2,08 juta hektar atau 23 persen dari kerusakan hutan nasional.

Meski terdapat juga di Sumatera dan Papua, deforestasi jenis ini ditemukan paling banyak terjadi di Kalimantan.”

Itu adalah fakta bagaimana sebagian hutan dibabat habis hanya untuk industri kelapa sawit karena banyaknya permintaan dari konsumen! Entah itu dijadikan minyak goreng ataupun olahan lainnya.

Bisa kita lihat? Wow! Dampak yang sangat besar!

Apa yang terjadi jika hutan terus deforestasi?

  1. Menurunkan kualitas oksigen (O2)
  2. Menyebabkan kekeringan
  3. Menyebabkan erosi dan banjir
  4. Dan yang paling parah, PERUBAHAN IKLIM!

Ujung-ujungnya? Kita sendiri yang mencoba membunuh diri kita. Padahal, untuk bernafas kita membutuhkan Oksigen.

Kita bisa terus hidup karena adanya air, dan kita bisa terus tidur nyenyak karena iklim kita yang bersahabat.

Bagaimana jika itu semua berubah? Toh, Kita sendiri yang akan merasakannya.

Sebuah Paradoks bukan?

Disatu sisi kita ingin maju lalu sejahtera, disatu sisi kita membunuh diri kita secara perlahan. Maka dari itu apa sikap yang harus kita ambil?

Salah satu sikap sederhana saja, yaitu sikap bersyukur!. Dengan adanya sikap bersyukur maka kita selalu merasa cukup tanpa berlebihan.

Lalu apa impelementasi dari rasa bersyukur?

Salah satunya kita akan membeli barang secukupnya sesuai kebutuhan dan kita menjadi tidak mudah merasa gengsi karena tidak lain dan tidak bukan karena kita selalu merasa cukup atau bersyukur!

Jika kita membeli barang secukupnya, maka permintaan barang menurun. Lalu produksi dari industri yang beresiko mengeksploitasi alam juga akan berkurang. Lalu, alam akan terselamatkan berkat sikap sederhana kita.

Memang ini tugas berat dan bukan hal yang mudah untuk kita lakukan. Namun? Siapa lagi dan kapan lagi jika kita tidak bergerak dari sekarang?!

Toh kita manusia akan mati, dan bumi juga akan hancur jika sudah habis masanya. Namun tugas kita bukan membuat bumi kita abadi, tapi menjaga bumi agar bumi bisa lebih lama didiami lalu bisa ditinggali dan dinikmati anak cucu kita nanti!

Ah aku jadi teringat perkataan filsuf tepatnya dari Plato yaitu :

“Mencintai yang sesungguhnya adalah mencintai sesuatu yang indah dalam cara yang baik dan disiplin.”

bisa kita maknai dari situ, jika kita benar-benar mencintai maka kita akan menggunakan cara-cara yang baik dalam pelaksanannya salah satunya dengan tidak menyakiti diri sendiri dan sekitar kita termasuk Alam! Juga sikap disiplin agar kita menjalani kehidupan kita dengan teratur.

Maka dari itu, mari kita jaga bumi dan jaga diri sendiri dengan hal-hal sederhana terlebih dahulu. Toh, segala sesuatu yang besar, diawali dari sesuatu yang kecil.

Editor : Annisa Dian N.

Baca Juga:

Scroll to Top