Dari Pegunungan, Perkotaan, Sampai ke Pesisir: Bagaimana Hal-hal yang Dianggap Sepele Menjadi Tidak Sepele di Mata Lautan

Beberapa waktu yang lalu, lewat sebuah video dari @trailboundsketches yang menampilkan penemuan sampah-sampah rumah tangga di sebuah pulau terpencil yang hanya dihuni oleh beruang.

Tidak jarang pula ketika kita menyebrang dari pulau yang satu ke pulau lainnya dengan kapal, kita berpapasan dengan kemasan makanan ringan yang mengambang di dekat kapal.

Dari mana kira-kira sampah-sampah itu berasal?

Apakah beruang dan ikan-ikan modern sudah berevolusi sedemikian rupanya sampai bisa memesan produk rumah tangga atau makanan ringan dari Online Shop?

Oh! Tentu kita semua tahu bukan itu jawabannya.

Sampah-sampah tersebut tentunya berasal dari hasil konsumsi masyarakat yang pemakaiannya tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik sehingga justru berakhir di lautan.

Ehhhh?? Tapi kan… Emangnya kalau tempat tinggal kita ada di kota atau gunung yang jauuuuuh dari laut tetap berpengaruh terhadap sampah-sampah yang ditemukan di laut?

Ketika kita membuang sampah sisa makanan atau produk-produk berwadah yang sulit untuk terurai secara alami dalam waktu yang singkat lainnya, kita pasti memiliki ekspektasi bahwa sampah tersebut akan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang selanjutnya mungkin akan diolah atau entah apa yang mereka lakukan yang penting kita tidak membuang sampah kita di tengah jalan atau di sungai. Tapi faktanya, dikutip dari Waste4Change, sampah-sampah yang setiap hari terus bertambah ini seringkali menumpuk di TPA dan malah mencemari kondisi lingkungan di sekitarnya, belum lagi jumlah sampah yang berhasil terdaur ulang hanya mencapai angka 7% dari 69% sampah yang masuk ke TPA.

Lebih parah lagi ketika kita asal melempar sampah di tengah jalan.

Air terus mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah sampai akhirnya berakhir tertampung di lautan.
Air terus mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah sampai berakhir di lautan.

Ketika sampah yang dibuang jatuh ke dalam got, keberuntungan jika sampah tersebut dapat tersaring untuk tidak masuk ke saluran-saluran lain yang terhubung, tetapi jika lolos, sudah tidak usah diragukan lagi, ketika sampah itu lanjut memasuki sungai-sungai, hingga bermuara ke laut, bukan beruang atau ikan yang harus kita salahkan.

Mungkin satu atau dua sampah yang dibuang sembarangan terlihat sepele, tetapi ketika dilakukan berulang kali oleh jutaan penduduk suatu negara, tentu jumlahnya akan menjadi berkali-kali lipat.

Sampah-sampah yang bermuara di laut tidak akan menimbulkan dampak-dampak yang positif, tetapi justru dampak negatif bagi kehidupan makhluk hidup; bukan hanya makhluk hidup laut, tetapi juga makhluk hidup darat. Sampah-sampah tersebut tidak hanya dapat memasuki organ tubuh biota laut, tapi juga dapat berakhir ke dalam organ tubuh manusia. Sampah juga dapat menyumbat serta menghalangi terumbu karang dari melakukan fotosintesis. Bahkan, sampai menghambat penghasilan oksigen oleh fitoplankton. Ketika kehidupan satu jenis biota laut terganggu, terganggunya kehidupan biota lainnya akan ikut terdampak dikarenakan rantai makanan yang terus tersambung dari biota yang satu ke biota yang lain.

Besarnya interaksi masyakat dengan laut memaksa laut untuk senantiasa membutuhkan masyarakat agar tetap sehat.

Tapi, masyarakat seperti apa sih yang dibutuhkan laut?

Sesederhana masyarakat yang memiliki rasa empati, rasa empati yang membuat kita mampu untuk melakukan aksi-aksi nyata yang mendukung terjaganya kesehatan laut.

Laut membutuhkan masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah-sampah dan limbah-limbah yang telah kita hasilkan.

Masyarakat yang tinggal jauh dari laut tidak perlu menunggu sampai daerah tempat tinggalnya terdampak, dipenuhi oleh sampah-sampah yang terbawa dari tempat lain untuk bisa berempati terhadap sampah-sampah yang berakhir di laut yang sebagian besar kita hasilkan.

Walau seperti dikutip dari dialog tokoh Awan pada novel Tentang Kita, “Tak mudah mengubah cara pikir seseorang yang sudah puluhan tahun melakoni satu hal secara terus-menerus. Menjadi sesuatu yang wajar, senormal mengambil dan membuang napas.”

Laut yang sehat membutuhkan masyarakat berdaya, yang dapat menyadari tanggung-jawabnya untuk ikut berperan dalam menjaga kesehatan laut, bahwa dibalik sesuatu yang normal, tidak berarti terdapat sesuatu yang benar.***

Referensi:

Instagram @ailsyaaza #kompetisea4

Artikel Terkait

Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

Tanggapan