Seberapa Bising Laut dan Apa Dampaknya bagi Hewan?
Laut bukan ruang yang sunyi. Di bawah permukaannya terdengar suara gelombang, hujan, gemuruh es, suara ikan, udang, paus, dan berbagai organisme lain. Bagi banyak hewan laut, suara merupakan bagian penting dari kehidupan karena cahaya tidak dapat menembus air sejauh suara.
Masalah muncul ketika suara dari aktivitas manusia semakin mendominasi lingkungan tersebut. Kapal, pengeboran, survei seismik, pembangunan infrastruktur, hingga aktivitas industri dapat menghasilkan suara yang merambat jauh di bawah permukaan.
Laut Punya “Lanskap Suara”
Bagi manusia, suara mungkin hanya salah satu unsur lingkungan. Namun, bagi banyak hewan laut, suara berfungsi seperti mata sekaligus telinga.
WWF Indonesia menjelaskan bahwa mamalia laut menggunakan suara untuk berkomunikasi, mencari makanan, dan bernavigasi. Paus dan lumba-lumba juga memanfaatkan biosonar untuk menemukan objek atau mangsa.
Maka itu, suara yang terlalu banyak dapat mengganggu informasi yang biasanya diterima hewan dari lingkungan. Kondisinya mirip dengan seseorang yang berusaha berbicara di tengah keramaian: suara tetap ada, tetapi pesan menjadi lebih sulit diterima.
Kebisingan seperti ini disebut masking, yaitu ketika suara yang berasal dari manusia menutupi atau mengaburkan suara lain yang sebenarnya penting bagi hewan.
Kapal Salah Satu Sumber Utama Kebisingan
Salah satu sumber kebisingan bawah laut yang paling umum berasal dari kapal. Mesin dan baling-baling menghasilkan suara yang dapat menyebar cukup jauh di dalam air.
Menurut International Maritime Organization (IMO), kebisingan yang dipancarkan kapal secara terus-menerus dapat memberikan dampak jangka pendek maupun jangka panjang terhadap kehidupan laut, terutama mamalia laut. IMO juga menyebut pelayaran komersial sebagai salah satu penyumbang utama kebisingan bawah laut akibat aktivitas manusia.
Persoalannya bukan hanya jumlah kapal. Kapal berukuran besar, pelabuhan yang sibuk, serta jalur pelayaran yang berdekatan dengan habitat penting membuat hewan dapat terpapar suara manusia secara berulang.
Akibat Kebisingan, Paus Bisa Mengubah Perilakunya
Dampak kebisingan tidak selalu berupa cedera langsung. Hewan dapat merespons suara dengan mengubah perilaku atau cara mereka menggunakan suara.
Kebisingan kapal pada mamalia laut dapat berkaitan dengan perubahan perilaku dan respons akustik, termasuk auditory masking dan respons stres. Studi-studi yang ditinjau menunjukkan bahwa efeknya dapat berbeda-beda bergantung pada spesies, jenis kapal, habitat, dan karakter suara.
Temuan itu menunjukkan bahwa tidak tepat menganggap semua suara kapal memberikan dampak yang sama terhadap semua hewan. Durasi, intensitas, frekuensi, jarak dari sumber suara, serta karakteristik spesies ikut menentukan responsnya.
Bagi hewan yang sangat bergantung pada pendengaran, perubahan kecil pada lingkungan akustik dapat berarti harus mengubah pola komunikasi, berpindah tempat, atau mengeluarkan lebih banyak energi.
Saat Paus Harus “Berteriak”
Salah satu contoh paling mudah dipahami adalah perubahan suara pada paus saat lingkungan semakin bising.
Live Science pernah melaporkan penelitian mengenai paus sikat Atlantik Utara. Hewan tersebut meningkatkan volume panggilannya ketika tingkat kebisingan lingkungan meningkat.
Respons seperti ini mungkin membantu suara tetap terdengar. Namun, ada konsekuensinya. Menghasilkan suara yang lebih keras membutuhkan energi, sementara perubahan pola panggilan juga dapat memengaruhi efektivitas komunikasi.
Bagi hewan yang menggunakan suara untuk mencari pasangan, menjaga hubungan kelompok, menemukan anak, atau mencari makanan, gangguan komunikasi bukan persoalan sepele.
Ikan dan Hewan Lain Juga Terpengaruh
Pembicaraan tentang kebisingan laut sering berfokus pada paus dan lumba-lumba. Padahal, dampaknya tidak terbatas pada mamalia laut.
Suara buatan manusia dapat memengaruhi ikan dan organisme laut lainnya. Salah satu sumber yang mendapat perhatian adalah survei seismik menggunakan air gun, yang menghasilkan ledakan suara untuk memetakan struktur dasar laut.
Kebisingan semacam itu dapat mengganggu komunikasi, membuat hewan meninggalkan habitat tertentu, mengubah perilaku mencari makan, dan dalam kondisi tertentu menimbulkan gangguan pendengaran atau cedera.
Maka itu, pencemaran suara perlu dipahami sebagai persoalan ekosistem, bukan hanya persoalan paus dan lumba-lumba.

Jadi, Seberapa Bising Laut?
Tidak ada satu angka sederhana yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Suara di bawah air memiliki karakteristik berbeda dengan suara di udara. Selain tingkat tekanan suara, ilmuwan perlu memperhatikan frekuensi, durasi paparan, jarak dari sumber suara, serta kemampuan pendengaran spesies yang terpapar.
Maka itu, suara yang masih dapat ditoleransi oleh satu spesies belum tentu aman bagi spesies lain. Suara yang berlangsung singkat juga dapat memberikan dampak berbeda dibandingkan suara yang terus-menerus hadir selama berjam-jam atau berhari-hari.
Yang menjadi perhatian bukan sekadar apakah suara tersebut keras, tetapi apakah suara buatan manusia mengubah kondisi akustik yang dibutuhkan hewan untuk menjalankan kehidupannya.
Bisakah Laut Lebih Tenang?
Mengurangi kebisingan laut bukan berarti membuat lautan benar-benar sunyi. Tujuannya adalah mengurangi suara buatan manusia yang tidak perlu, terutama di wilayah yang menjadi habitat penting bagi satwa laut.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui teknologi kapal yang lebih senyap, pengaturan jalur pelayaran, pengurangan kecepatan kapal di wilayah tertentu, serta pengelolaan aktivitas konstruksi dan survei bawah laut.
Convention on Migratory Species (CMS) menyebut tiga sumber utama yang perlu mendapat perhatian dalam pengendalian kebisingan bawah laut, yakni pelayaran, survei seismic airgun, dan pemasangan tiang atau pile driving. Pengurangan kebisingan dari aktivitas tersebut dinilai penting untuk mengurangi gangguan terhadap satwa laut.
Laut mungkin tidak pernah benar-benar sunyi. Namun, bagi hewan yang menjadikan suara sebagai cara untuk menemukan makanan, pasangan, anak, maupun jalan pulang, laut yang lebih tenang dapat berarti lingkungan hidup yang lebih layak. [ ]
Tanggapan