Kesia-siaan dalam Perjuangan Lingkungan?

Ditulis Oleh:

“Tak ada yang permanen kecuali perubahan.” (Heraclitus, 540-480 SM)

Pernah kah kamu berpikir bahwa perjuangan-perjuangan kamu untuk menjaga bumi adalah suatu kesia-siaan?

Pernahkah kamu berpikir begitu? Atau sesekali di kepalamu berbicara bahwa teriakan-teriakan kamu ketika aksi atau berkampanye tentang lingkungan adalah sia-sia?

Atau kamu memilih tidak menggunakan sedotan plastik ditengah temanmu yang gila-gilaan memakai sedotan dan gelas plastik adalah hal yang tidak berguna? Aku rasa pasti kamu pernah berpikir itu sebuah kesia-siaan!

Menurutku merasa ‘sia-sia’ itu salah besar!

Kenapa aku bilang sebuah kesalahan?

Segala perbuatan dan perjuangan kita tidak pernah sia-sia, selalu ada efek yang ditimbulkan entah ke efek sosial atau ke alam, entah efek itu kecil atau besar semua akan berpengaruh.

Ketika kamu berteriak “plastik membunuh penyu!” Kebetulan ada seorang pecinta dan penggila penyu yang melihat kamu berteriak saat dia sedang berjalan menuju rumahnya, lalu ia membawa teriakan kamu di pikirannya sampai ke rumah.

Keesokan harinya teriakan kamu masih terlintas di pikiran si pecinta penyu itu sampai suatu saat dia tidak menggunakan sedotan plastik dan barang-barang plastik yang menurutnya bisa mengancam hewan yang dicintainya.

Lalu setiap hari dia membawa kebiasaan tidak menggunakan  gelas plastik maupun produk sekali pakai di tengah rapat dengan rekan kantornya, sehingga beberapa teman kantornya bertanya mengapa dia tidak menggunakan produk plastik.

Si pecinta penyu itu menjelaskan bahwa itu bisa menyakiti hewan yang disukainya. Lalu teman kantornya terpengaruh dengan hal itu karena dia seorang agamis yang mana di dalam agamanya berbicara Tuhan akan melaknat orang yang menyakiti dan membunuh hewan yang tidak bersalah.

Lalu lainnya, ketika kamu menulis “polusi membunuh kita, kurangi penggunaan kendaraan pribadi” di kertas yang kamu angkat-angkat ketika kamu sedang berkampanye.

Kebetulan pada saat itu ada seorang anak muda yang kondisinya sedang melawan sakit paru-paru melihat pesanmu. Lantas, dia membawa kata-kata yang ada di pesanmu di kepala dan pikirannya. Lalu, ia termenung dan mencoba mencari tahu kajian ilmiahnya tentang asap kendaraan yang mempengaruhi kesehatan.

Sejak itu ia mencoba untuk tidak lagi mau lagi manja dengan menggunakan kendaraan pribadi, karena ia sadar dan tidak mau membuat orang-orang menjadi sakit yang sama seperti yang pernah ia alami, karena banyaknya polusi dan emisi asap dari kendaraan bermotor pribadi.

Sebuah kisah nyata dan fenomenal saat ini, seorang remaja belasan tahun asal swedia bernama Greta Thunberg. Ia mengilhami dan memotivasi banyak orang untuk mencintai bumi dan menjaga bumi dari kerusakan yang berawal dari hal kecil: yaitu ‘bolos sekolah’!

Setiap hari Jumat lalu membawa poster “Skolstrejk för klimatet” yang artinya (mogok sekolah untuk iklim) dalam kurun waktu yang sangat lama dalam hal mendesak pemerintah Swedia dalam pengurangan emisi dan mengambil tindakan tegas atas perubahan iklim.

Apa yang dia hasilkan? Banyak anak-anak muda bahkan organisasi yang terinspirasi oleh dia lalu mereka menciptakan kegiatan-kegiatan yang bersifat menjaga bumi sehingga menciptakan perhatian publik.

Lalu berbagai media mengangkat dan membicarakan Greta Thunberg sebagai anak muda yang menjaga bumi sehingga wajah dan tuntutannya menjadi perbincangan dimana-mana, lalu Ia diundang dalam konferensi perubahan iklim PBB, juga Ia menjadi cover salah satu majalah terbesar di dunia yaitu majalah Times.

Mungkin sebelumnya tidak pernah terbayang oleh dia, dimana gerakan kecilnya bisa mempengaruhi dunia.

Laluuu…

Masihkah kamu berpikir perjuangan kamu sia-sia?

Pikir kembali kawan! Jangan menyerah!

Mari terus berjuang dan berdiri kembali. Ayo kita bersama membela bumi, dan buang jauh-jauh pikiran ‘sia-sia’ itu, tetap berpikir positif!

Pernah berpikir bahwa aksi menjaga bumi yang kita lakukan mendapat olokan atau tertawaan dari teman atau orang sekitar?

Mungkin benar ada atau mungkin itu hanya bagian dari pikiran dan dugaan kita saja! Aku jadi teringat kembali tentang perkataan filsuf tepatnya perkataan Epictetus yang ucapannya berbunyi:

Bukan hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan kita, tapi persepsi akan hal-hal dan peristiwa tersebut.”

Itu bermaksud, hal-hal yang kita takutkan kebanyakan berasal dari pikiran kita.

Yup, sekali lagi kita diingatkan kembali.

Terus berjuang demi Bumi, demi kehidupan kita, demi masa depan anak cucu kita.

Panjang umur perjuangan, panjang umur hal-hal baik!

Editor: AN.

Silakan Beri Tanggapan

Baca Juga:

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: