Hubungan Bulan dan Pasang-Surut Air Laut

Bila diperhatikan dari pantai, permukaan laut seolah memiliki ritme sendiri. Dalam beberapa jam, air yang semula menutupi pasir perlahan mundur, lalu kembali naik dan membanjiri tepian pantai. Peristiwa ini dikenal sebagai pasang-surut air laut.

Di balik ritme tersebut, ada benda langit yang berperan penting: Bulan.

Gravitasi Bulan menarik Bumi, termasuk massa air laut di permukaannya. Tarikan ini menghasilkan tonjolan air di sisi Bumi yang menghadap Bulan. Tonjolan lain terbentuk di sisi berlawanan akibat interaksi gerak Bumi dan Bulan.

Ketika Bumi berotasi, wilayah pesisir bergerak melewati tonjolan tersebut sehingga mengalami perubahan muka air laut secara berkala. Namun, Bulan bukan satu-satunya faktor. Matahari juga memberikan gaya gravitasi terhadap lautan.

Mengapa Purnama Membuat Pasang Lebih Besar?

Hubungan Bulan, Matahari, dan pasang-surut menjadi lebih mudah dilihat ketika terjadi Bulan baru dan Bulan purnama.

Saat Bulan baru atau purnama, Matahari, Bumi, dan Bulan hampir berada dalam satu garis. Gaya gravitasi Matahari dan Bulan kemudian saling memperkuat sehingga menghasilkan spring tide, yaitu kondisi ketika perbedaan antara pasang tertinggi dan surut terendah menjadi lebih besar.

Sebaliknya, sekitar satu minggu setelahnya, ketika Bulan berada pada fase perbani pertama atau terakhir, posisi Matahari dan Bulan membentuk sudut kira-kira 90 derajat terhadap Bumi. Gaya pasang yang ditimbulkan keduanya sebagian saling mengurangi. Kondisi ini disebut neap tide, dengan rentang pasang-surut yang lebih kecil.

Perubahan fase Bulan bukan sekadar perubahan bentuk yang kita lihat di langit. Siklus tersebut ikut mengatur salah satu ritme penting kehidupan di kawasan pesisir.

Full Moon as seen from the MY Esperanza during the “Lost City” leg of the Protect the Oceans tour.

Laut Mengatur Kehidupan Pesisir

Bagi kita, pasang-surut barangkali hanya soal perubahan tinggi air laut. Namun bagi organisme pesisir, hal itu jauh lebih berarti.

Ketika air pasang, wilayah yang sebelumnya kering atau berlumpur kembali terendam. Ikan, udang, moluska, dan berbagai organisme air dapat memasuki daerah dangkal untuk mencari makanan atau berlindung.

Sebaliknya saat air surut, kondisi berubah drastis. Dasar perairan terbuka dan organisme yang hidup di dalamnya harus menghadapi paparan udara, perubahan suhu, serta berkurangnya air.

Kawasan tidal flat atau hamparan lumpur dan pasir pasang-surut adalah contoh paling jelas. Wilayah ini dapat berfungsi sebagai tempat mencari makan, daerah asuhan bagi ikan muda, sekaligus habitat berbagai organisme seperti kepiting, kerang, dan cacing. Saat pasang, kawasan tersebut menjadi perairan dangkal. Namun ketika surut, permukaannya terbuka dan memperlihatkan berbagai jejak kehidupan.

Ritme ini juga menciptakan peluang bagi sejumlah burung pantai. Ketika air surut, organisme yang sebelumnya tersembunyi di bawah sedimen menjadi lebih mudah ditemukan. Dan ketika air kembali naik, ikan dan organisme perairan lainnya memanfaatkan kawasan dangkal tersebut.

Pasang-surut menciptakan semacam jadwal ekologis yang menentukan kapan suatu habitat terendam, kapan terbuka, dan kapan makanan tersedia.

Mangrove dan Kepiting Mengikuti Ritme Pasang

Ekosistem mangrove adalah contoh lain bagaimana kehidupan pesisir sangat bergantung pada siklus pasang-surut.

Mangrove tumbuh di wilayah yang secara berkala mengalami genangan air laut. Perubahan antara kondisi tergenang dan tidak tergenang memengaruhi salinitas, kondisi tanah, ketersediaan oksigen, serta distribusi berbagai organisme.

Contoh lainnya adalah kepiting bakau yang memiliki hubungan yang lebih spesifik dengan lingkungan pasang-surut. Kepiting dewasa melakukan perkawinan di kawasan intertidal mangrove yang dipengaruhi perubahan kedalaman air dan waktu pasang-surut.

Jadi, perubahan muka air yang tampak sederhana dari tepi pantai sebenarnya dapat memengaruhi proses biologis organisme.

Tidak Semua Pantai Mengalami Pasang yang Sama

Meski Bulan menjadi penggerak utama, tinggi pasang-surut tidak sama di setiap wilayah.

Bentuk garis pantai, kedalaman laut, konfigurasi dasar perairan, bentuk teluk, hingga kondisi atmosfer dapat memengaruhi bagaimana gelombang pasang diterjemahkan menjadi perubahan muka air di suatu tempat.

Maka itu, waktu dan ketinggian pasang-surut perlu dihitung secara khusus untuk setiap lokasi. Di Indonesia, BMKG menyediakan informasi tersebut.

Lain itu, jarak Bulan terhadap Bumi juga ikut berpengaruh. Orbit Bulan berbentuk elips sehingga jaraknya dari Bumi berubah. Saat berada di titik terdekat atau perigee, gaya pembangkit pasang menjadi lebih besar. Jika kondisi ini bertepatan dengan Bulan baru atau purnama, rentang pasang-surut dapat menjadi lebih besar dari biasanya.

Siklus pasang-surut memperlihatkan betapa erat hubungan antara fenomena astronomi dan kehidupan di Bumi. Bulan yang tampak begitu jauh ternyata ikut menentukan kapan kawasan pesisir terendam, kapan lumpur terbuka, kapan ikan memasuki perairan dangkal, dan kapan berbagai organisme harus menghadapi perubahan lingkungan.

Pasang-surut bukan sekadar naik dan turunnya air laut. Ia adalah salah satu denyut yang mengatur kehidupan di batas antara daratan dan lautan. [ ]

Artikel Terkait

Perubahan Garis Pantai di Perairan Pesisir Muara Banyuasin, Sumatera Selatan

Perubahan garis pantai, seperti perubahan delta dan batimetri pantai, merupakan proses yang cukup dinamis dalam dinamika pantai (Mills et al. 2005). Menurut Arief et al. (2011) Perubahan garis pantai adalah proses berkelanjutan yang melibatkan berbagai proses alami di sepanjang pantai, termasuk pergerakan sedimen, arus pantai, dampak gelombang permukaan laut, dan penggunaan lahan.

Tanggapan

Secret Link