Pantai Indah Kemangi di Kendal Ternodai Sampah yang Berceceran

Saat senja mulai menyebarkan cahaya jingganya di Kendal, kami berangkat dari posko menuju Pantai Indah Kemangi. Kami adalah mahasiswa KKN UNDIP yang ditempatkan di daerah Kendal. Kami berangkat dari posko sekitar pukul 16.30 WIB.

Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya, posko apa yang dimaksud? Posko bencana? Posko pelatihan militer? Atau mungkin di antara kalian ada yang menjawab posko KKN. Ya, Kuliah Kerja Nyata atau yang biasa disingkat KKN merupakan kegiatan wajib yang harus dijalani mahasiswa semester 6.

Perjalanan kami cukup menyenangkan, dimulai dari melewati rumah warga yang sedang berbincang di selasar rumah, anak-anak yang sedang bermain sepak bola di lapangan, hingga peristiwa seorang ibu yang sedang memarahi anaknya yang belum mandi seharian. Semua kami saksikan di atas motor ber-plat ‘H’.

Lima belas menit ternyata bukan waktu yang cepat jika belum pernah melewati daerah itu. Ribuan hektare tanah ditanami tumbuhan seperti jagung, tembakau, dan sawi yang sangat jarang ditangkap oleh indra penglihatan kota, mendominasi perjalanan kami menuju pantai.

Tugu selamat datang sudah terlihat dari kejauhan, ini menandakan 15 menit sudah berlalu sejak keberangkatan. Tiket masuk dibandrol dengan harga Rp5.000,- untuk semua jenis kendaraan.

Pada hari libur, Pantai Indah Kemangi ramai didatangi oleh pengunjung. Untuk menghindari antrean masuk yang membludak, pengunjung dapat memesan tiket secara daring melalui situs resmi Pantai Indah Kemangi dengan berbagai pilihan metode pembayaran melalui dompet elektronik.

Pemandangan pertama yang terlihat ketika memasuki area Pantai Indah Kemangi adalah area UMKM yang dipadati oleh pengunjung dari berbagai kalangan usia. Fasilitas yang ditawarkan pun cukup memanjakan pengunjung. Fasilitas tersebut meliputi musala yang bersih, toilet dengan jumlah yang banyak, spot foto yang aesthetic, playground area yang meliputi penyewaan ATV & motor trail untuk anak anak, camping area, dan tempat parkir yang luas.

Setelah kami memarkirkan motor, kami langsung menuju ke utara, tempat kami menghabiskan sisa senja sembari melihat matahari terbenam di barat. Terdapat banyak sekali anak kecil yang bermain layangan sembari tertawa dan bercanda. Layangan yang digunakan anak-anak itu bukanlah layangan dengan ukuran yang biasa kita ketahui, melainkan layangan dengan ukuran besar yang mereka beli dari UMKM sekitar area pantai. Mereka menikmati bermain layangan seperti kami menikmati indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh Pantai Indah Kemangi. Sebenarnya, ini baru hari kedua kami di Kabupaten Kendal. Rencana ke pantai merupakan rencana yang sontak kami buat di hari sebelumnya

“Hitung-hitung kegiatan ini dapat mempererat tali pertemanan kelompok kami,” ujar seorang rekan sembali bercengkrama, tergelak, dan membuat rekaman jenaka singkat.

Kami sangat menikmati setiap detik kala itu. Namun, di sela-sela senda gurau ada satu hal yang sangat menganggu penglihatan. Banyak sekali sampah plastik, tidak hanya satu atau dua, tapi berceceran hampir di seluruh tepi pantai. Bahkan, ada satu area yang dijadikan tempat pengumpulan sampah.

Ah, sayang sekali pantai yang begitu cantik harus diselimuti sampah yang tidak berada di tempatnya. Masalah ini bukan hanya tanggung jawab pengelola, namun pengunjung juga harus berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan pantai.

Minimnya kesadaran dari pengunjung juga menjadi salah satu faktor sampah yang berceceran dan menumpuk. Pengelola pun memiliki dosa yang sama dalam tercecer dan tertumpuknya sampah di Pantai Indah Kemangi.

Satu setengah jam telah berlalu, matahari sudah berubah warna menjadi kelabu, tanda kami harus pulang ke posko. Kami pun bergegas mengemasi barang bawaan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke posko.

Perjalanan pulang kami diwarnai dengan kejadian lucu namun ironis. Salah satu motor yang kami kendarai terhenti dikarenakan bahan bakar yang ternyata sudah kering. Kami pun tertawa terbahak-bahak karena kejadian ini. Namun, sesampainya kami di tempat pengisian bahan bakar, tawa kami pun sirna ketika melihat harga bahan bakar yang sudah melambung tinggi.

 

Artikel Terkait

Tanggapan

Secret Link