Lamun Melamun: Hiraukan Aku Kini, Bersedihlah Kemudian

Perkenalkan, aku lamun yang sedang melamun. Aku merupakan tumbuhan berbunga yang hidup dan berkembang baik pada lingkungan perairan laut dangkal. Aku juga memiliki daun, buah dan akar layaknya tumbuhan berpembuluh yang hidup di darat. Kehadiranku sangat berpengaruh bagi ekosistem pesisir pantai.

Mengapa aku melamun? Hal terbesar yang membuatku lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun adalah perilaku manusia terhadapku. Kalian tidak tahu bahkan tidak memperdulikan keberadaanku.

Seiring berjalannya waktu, pada keheningan malam ditemani riak ombak serta gemerlapnya surya yang baru saja meredam, lamunanku semakin dalam. Pelabuhan tradisional, pembalakan hutan di daratan, penebangan mangrove, pengerukan dan penimbunan secara terus menerus serta pembuangan limbah industri, rumah tangga, bahkan pertanian. Aktivitas manusia ini sangat berdampak terhadap pertumbuhanku, lebih lebih kelangsungan hidupku. Kalian tidak gunakan habitatku secara hati-hati, hingga perlahan diriku tampak tak bernilai.

Kalian terlalu sibuk dengan kampanye kurangi sampah plastik, perburuan lumba-lumba, paus dan hiu serta beberapa ancaman ekosistem laut lainnya, tetapi kalian melupakanku. Kalian menanggapku sebagai substrat baru yang tidak masalah jika diinjak, tidak masalah jika meletakkan jangkar di tempatku hidup, dengan menyampingkan hubungan baik ku beserta biota laut yang berasosiasi denganku.

Kondisi ekosistem Padang Lamun di Pantai Nirwana, Padang, Sumatera Barat.

Aku adalah produsen primer dalam rantai makanan di perairan laut, yang mana pola sebaranku semakin sedikit, begitu juga dengan biota yang berasosiasi denganku seperti ikan, lobster, kepiting, udang, dugong dan penyu. Beberapa diantaranya mempunyai nilai ekonomis, dan juga jadi sumber bahan makanan bagi manusia.

Kerap kali aku membantu kalian melakukan penangkapan di pesisir pantai dengan cara menjernihkan perairan, dan tidak sedikit juga yang tahu berapa banyak biota laut yang bernilai ekonomis menjadikan tempat hidupku untuk berlindung, memijah, dan mencari makan. Tetap saja, lagi, lagi dan lagi kalian abaikan keberadaanku.

Setiap aksi selalu ada reaksi, ada sebab pasti ada akibat, seperti itulah kontekstual kehidupan antara diriku dengan manusia. Sekeras apapun aku mencoba untuk bertahan hidup, jika kalian tetap tidak mempehartikan keberadaanku bahkan menganggapku sebagai tanaman pengganggu, maka populasiku akan tetap berkurang, begitu pula keanekaragaman biota laut yang hidup berasosasi denganku.

Sejujurnya, aku telah memaksimalkan apa yang sudah diberikan tuhan kepadaku. Apakah kalian, manusia, juga akan melakukan hal yang sama? memaksimalkan apa yang sudah diberikan tuhan kepada kalian?

Aku adalah tumbuhan yang kini tumbuh dengan penuh harapan. Sebagai makhluk hidup, aku juga pantas memiliki harapan. aku sangat berharap kita akan menjadi harmonsasi yang magis antara perlakuan dan perasaan. Akan tetapi, harapanku selalu kalian patahkan.

Aku selalu berandai-andai, jika nantinya aku sudah tidak ada lagi di bumi ini, apakah kalian akan merindukanku? atau yang terjadi malah sebaliknya, kalian rayakan tragedi ini sebagai bentuk dari kemenangan atas apa yang telah kalian lakukan?

Membangun kembali hubungan historis yang baik diantara kita atau melanjutkan situasi seperti ini, semua ku serahkan kepada kalian, makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Terlalu banyak aku berbicara, tak terasa, malam sudah melewati puncak keindahannya. Upayaku menghilangkan semua pikiran yang membuat diri menjadi tidak tenang malah menjadi titik lamunan paling kejam. Mulai dari kemesraan bercumbu antara bulan dan bintang hingga keduanya beranjak pergi, aku harus tetap di sini, hidup menerima kenyataan dengan lapang hati.

Memang harus ku telan walau menyengat dan sedikit terpahat.Sudahi lamunan, saatnya istirahat.***

Baca juga: Populasi Penyu yang Terancam Punah dan Upaya Pelestariannya

Editor: J. F. Sofyan

Tanggapan