Ditulis Oleh:

Tengah hari di Pulau Pramuka yang menyengat tidak menyurutkan niat saya merangkap pakaian renang berlengan panjang dengan kemeja.

Bersama dua orang lainnya, saya berniat mencari titik di pulau yang masih menawarkan air bening dan pemandangan indah untuk berenang. Bukanlah keinginan yang mudah didapat, saya tahu, mengingat Pulau Pramuka adalah pulau tempat dermaga yang komersil dan dihuni banyak penduduk.

Berbekal petunjuk arah sebias “di ujung pulau ada spot bagus”, saya, Kak Ois dan Kak Nisa berangkat menjinjing handuk kecil dan mengantongi sunblock. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan Sam, lelaki bule Inggris yang baru saja bergabung sebagai relawan Greenpeace Indonesia.

Sama seperti kami, Sam ikut ke Pulau Pramuka dalam rangka melakukan sampling Plastic Debris Research.

Sam langsung bersemangat begitu tahu kami hendak berenang, dia bergegas lari ke pondok untuk mengambil barang-barangnya.

“Tidak lebih dari lima menit,” janjinya. Kami setuju akan menunggu.
Lima menit berlalu, dan Sam tak kunjung muncul. Saya yang tidak sabaran ini hampir mengusulkan untuk meninggalkan Sam ketika dia muncul kembali, setengah berlari. Air mukanya tidak lagi bersemangat seperti tadi.

“Ada komodo terperangkap,” kata Sam, “besar sekali. Kalian harus melihatnya.”

Jadilah kami berempat berputar arah, mengekor Sam menaiki dinding yang menangguli jalan dari terjangan ombak. Begitu sampai di lokasi, Sam menunjuk seekor biawak (bukan komodo) yang mengambang di laut dangkal, terombang-ambing bersama sampah dan potongan bakau. Ekornya terjerat tali yang dibebani batu bata. Sekerumun anak menonton hewan liar itu dengan ekspresi tertarik.

“Punya siapa?” tanya saya kepada anak-anak itu.

“Tidak tahu” adalah jawaban mereka.

Selanjutnya, mereka mengakui penangkapan biawak bukanlah yang pertama kali terjadi. Seringkali biawak ditangkap untuk dijadikan sate. Saya merinding membayangkan tubuh berlendir dan bersisik itu berakhir di perut manusia.

Bang Arifsyah, Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia, dengan beraninya bertanya, “Ada yang bisa melepaskan?”

Dari gumaman tidak jelas mereka, saya menangkap satu nama: Leman. Setelah diyakinkan, mereka langsung memacu sepeda untuk mencari orang bernama Leman itu. Kami duduk di atas dinding, kembali menunggu, kali ini sembari menunggui hewan malang itu. Tidak lama berselang, kami mendengar suara, “Biawaknya mau dilepaskan?”

Kami menoleh. Seorang bapak-bapak bersarung melambaikan kipas anyamannya dari teras sebuah rumah paling pinggir dari jalan. Kami mengiyakan saja.

“Biawak itu saya yang menemukan semalam, di dekat mesin air. Mesin saya jadi tersumbat, makanya saya buang.”
Penjelasan yang aneh, pikir saya. Kalau memang sebegitu mengganggunya, kenapa harus dibuang di tempat yang dekat? Kenapa apa yang dialami biawak itu lebih tepat dikatakan “disimpan” daripada “dibuang”? Saya menyimpan pertanyaan tersebut dalam hati, karena kerumunan anak-anak tadi memarkir sepedanya.

“Ini, Kak, yang namanya Leman.”

Seorang anak lelaki berkaus merah memandang biawak itu penuh minat. Kami bertanya, meyakinkan diri, apa betul dia bisa membebaskan biawak itu. Sebab, dari keterangan anak-anak maupun bapak yang menangkap biawak—yang jadi ikut memperhatikan kami, omong-omong—Leman disebut pawang.

Selagi kami menyaksikan, diam-diam saya menyetujui panggilan itu. Tanpa rasa takut, tapi tetap berhati-hati, Leman menarik tali tambang yang menjerat biawak ke atas dinding, kemudian mengurai talinya.

Semua itu dilakukannya dengan tangan kosong, dibantu inisiatif Sam yang memegangi leher biawak agar tidak menggigit. Begitu dia bebas, biawak itu langsung memuntahkan isi perutnya, bangkai seekor tikus, sebelum melompat ke laut dan hilang.

Kami menyaksikan kebebasannya sambil menjepit hidung, menahan bau menyengat dari bangkai.
Begitu urusan tersebut selesai, teman-teman saya langsung mengajak, “Yuk, berenang.” Dasar aktivis, keluh saya dalam hati, sedikit memaklumi. Hidup, bagi mereka, adalah serangkaian aksi ke aksi yang tidak terputus. Tapi saya menikmati, dan cenderung mencari, titik henti di antara aksi-aksi itu.

Maka saya membiarkan mereka jalan duluan dan berinteraksi sejenak dengan anak-anak itu. Dari mereka, saya tahu Leman baru kelas 1 MTS. Akan tetapi, tangan terampilnya sudah terbiasa menjinakkan hewan liar—biawak dan ular—sejak usia enam tahun. Selain bersekolah, hobinya adalah bermain bulu tangkis. Dia dan kawan-kawannya pamit untuk bermain bulu tangkis dan menolak untuk saya foto.

Sejenak, saya tertegun atas keberanian Leman. Bagi penduduk, dia adalah pahlawan yang membasmi kampung mereka dari hama. Bagi hewan-hewan itu, tentu dia adalah pahlawan yang membebaskan mereka dari kungkungan keserakahan manusia.

Setelah saya bertemu Leman, saya optimis akan menemukan keajaiban-keajaiban kecil lain di pulau itu. Saya berenang di tepi laut berpasir putih yang dipayungi cemara pantai, berpegang teguh akan optimisme itu. Sayangnya, ekspektasi saya sedikit buyar pada sore harinya.

Saya kembali ada duduk di dinding tanggul pantai, menggarisi bahan materi kuliah dengan stabilo. Senja hampir menjemput dan saya menikmati angin yang bertiup. Satu-dua ekor kucing bermain di sekeliling tanggul. Tak lama berselang, dua orang penduduk turun dari tanggul ke laut. Dengan santai, mereka berjalan menyusuri air dan mengangkat beberapa perangkap dari bambu.

Tak tahan dengan rasa penasaran, saya bertanya, “Itu apa, Pak?”

“Bubu, Mbak,” sahut salah seorang dari mereka. Bapak itu naik ke dinding, dan bersama seorang koleganya, menumpahkan isi perangkap mereka ke sebuah bak. Puluhan kepiting tumpah ruah. Beberapa ekor ikan yang ikut terperangkap dilemparkan ke kucing-kucing. Saya merinding, dan akhirnya memutuskan untuk berfokus kembali dengan tugas saya.

Samar-samar, saya mendengar kedua orang itu berbincang.

“Biawaknya tadi akhirnya lepas?”

“Iya, dilepaskan sama orang asing.”

“Memang orang asing tukang ikut campur.”

“Padahal susah menangkapnya.”

DEG! Saya langsung melirik mereka lagi. Diam, mempertimbangkan. Jadi, keterangan bahwa biawak itu ditemukan dan diikat karena membuat air tersumbat… itu karangan?

“Mbak, hati-hati, ada kepiting.”

Lamunan saya buyar, dan saya seketika beringsut menjauh. Seekor kepiting mendekati saya, kedua capitnya mengatup-ngatup. Saya langsung meminta, panik, “Pak, tolong kepitingnya dimasukkan ke bak.”

Bapak itu berdiri dan mengambil kepiting yang sudah mendekati kaki saya. Alih-alih memasukkannya ke bak, dia justru mematahkan kedua capit kepiting itu dan meletakkannya di atas kertas materi saya.

Saya kembali terpaku. Emosi menghampiri saya. Tadi dia mendukung penangkapan biawak, dan sekarang dia seenaknya mematahkan capit kepiting. Sebagai pecinta hewan dan seseorang yang bergerak di bidang lingkungan, saya cukup terusik.

Mencemplungkan kepiting itu kembali ke laut, saya bangkit dan meninggalkan lokasi. Tugas saya tidak jadi selesai. Saya merenung, kesal bercampur dengan bangga dan harapan.

Kesal, karena ternyata masih banyak orang yang tidak mengindahkan pentingnya sustainability dan menanggap rendah nilai hewan liar dibandingkan manusia. Padahal, sama seperti kita, mereka juga berhak untuk hidup.

Bangga, karena saya justru menemukan bravado atau keberanian pada diri generasi muda.

Penuh harap, karena saya yakin tugas saya “meringan” dengan adanya anak-anak seperti Leman, dan saya sendiri juga terpacu untuk semakin gencar menyebarkan pesan-pesan tentang sustainability kepada masyarakat.

Perenungan saya berakhir ketika saya dipanggil untuk makan malam. Saya meninggalkan senja dan tugas saya di teras, kemudian duduk dan menyantap makanan dengan hikmat. Suatu saat, saya disuruh menulis apa yang saya temukan selama perjalanan saya, dan saya sudah tahu jawabannya.

Saya menemukan bravado di pulau ini. (*)

Baca Juga:

Scroll to Top