Ketahanan Pangan, Resiliensi dan Perubahan Iklim

Potensi Ekonomi Perikanan

Sektor perikanan dan kelautan merupakan sektor yang menjanjikan bagi perekonomian baik di skala mikro, messo, maupun makro. Di skala mikro, sektor perikanan dan kelautan dapat diandalkan sebagai sumber daya yang dapat mendukung kesejahteraan para nelayan dan pelaku usaha aquaculture. Secara messo, produktifitas perikanan akan memberikan nilai tambah dengan menciptakan supply chain yang luas dan terus dapat dikembangkan dari sisi backward (rantai mundur) and forward (rantai maju). Pada backward side peluang dan kesempatan industri pendukung bagi nelayan dan pengelola budidaya dapat tumbuh masif berkembang, seperti; pengrajin kapal tradisional, penyedia umpan dan pakan, penyedia es batu, dsb. Sedangkan di forward side, pengembangan industri pengolahan ikan, logistik ikan, perdagangan ikan, hingga industri makanan dapat berkembang.

Adapun dari sektor makro dapat dilihat dari data berikut, FAO menunjukan pada 2020, total produksi ikan dunia mencapai 177,8 Juta ton. Dengan 90,3 Juta Ton dari sektor perikanan tangkap, dimana 78,8 ton dihasilkaan dari tangkapan laut dan 11,5 ton dari tangkapan darat, ditambah 87,5 dari sektor budidaya. Dengan tingkat konsumsi ikan telah mencapai 157,4 Juta Ton atau setara dengan 20,2 Kg/capita/tahun. Sektor perikanan telah menghasilkan nilai ekspor global senilai 150 miliar USD dengan proporsi ekspor sekitar 33,7% dari total produksi global.1 Di Indonesia BPS (2021) mencatat perikanan tangkap di laut telah mencapai 6,7 Juta Ton sedangkan untuk perikanan tangkap darat sebanyak 494 ribu ton, sedangkan untuk budidaya mencapai 14,6 juta ton. Nilai komoditas pada 2019, disebutkan perikanan tangkap telah mencapai Rp 204 Triliun, sedangkan budidaya senilai Rp 185 Triliun.2 Dengan melihat kapasitas penangkapan ikan laut, Indonesia masih relatif belum optimal memanfaatkannya mengingat potensi kelautan nasional sangat besar.

Resiliensi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim

Melihat potensinya yang cukup prestisius perikanan dapat menjadi masa depan bagi pemenuhan kesejahteraan di multilevel. Tetapi, tentunya perlu kesadaran bersama tentang tantangan dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan serta responsive and adaptable terhadap perubahan iklim global. Secara prinsip sebagai komoditas yang berbasiskan biota hidup, sektor perikanan dapat dikatakan sebagai sumber daya terbarukan meskipun memiliki prasyarat kunci tentang kualitas ekosistem yang dapat memungkinkan tetap bereproduksi dan tumbuh berkembang secara sehat.

Ekosistem ini dibentuk secara kompleks mulai dari keberadaan rantai pangan, kualitas udara dan air, pencahayaan, suhu udara, stabilitas arus permukaan dan bawah laut, hingga kesehatan ekosistem bawah laut, terutama terumbu karang. Begitu halnya, bagi para pembudidaya, kompleksitas ekosistem perikanan darat juga perlu menjadi perhatian terutama tingkat kualitas air (ph), bebas cemaran dan suhu permukaanya yang stabil. Tanpa ekosistem yang sehat perikanan akan mengalami gangguan proses reproduksi, terlebih dengan gangguan-gangguan non alam yang meningkat seperti penggunaan alat tangkap yang tidak berkelanjutan dan merusak alam, masifnya pertumbuhan lalu lintas laut dan perairan yang menimbulkan polusi, ceceran minyak dan sampah, serta kebisingan. Di tambah sampah rumah tangga dan industri yang terbawa ke laut dan perairan dan mengganggu pertumbuhan ekosistem laut.

Bagi nelayan, faktor perubahan iklim juga sangat berpengaruh, terutama saat terjadinya perubahan iklim signifikan yang merubah ritme ketinggian gelombang, angin dan badai tentunya akan menghambat proses penangkapan ikan, khususnya bagi nelayan-nelayan tradisional yang mengandalkan teknologi alat tangkap dan kapal yang seadanya serta rentan terhadap gelombang dan badai. Pengaruh siklus perubahan iklim dan juga kerusakan ekosistem laut yang mempengaruhi hasil tangkapan nelayan.

Salah satunya dapat dilihat dari dampaknya saat terjadinya fenomena El-Nino (meningkatnya suhu samudera pasifik) dan La Nina (menurunnya suhu samudera pasifik) yang mempengaruhi samudera-samudera di seluruh dunia. Terjadinya fenomena tersebut mengakibatkan suhu permukaan air laut berubah, sehingga mempengaruhi pola hidup ikan. Perubahan suhu akan mempengaruhi zona upwelling (tempat mencari makan) ikan dapat mengakibatkan tidak hanya penurunan, tetapi juga pergeseran populasi spesies ikan ke laut yang lebih dingin atau panas. Selain itu terjadinya fenomena tersebut juga mengakibatkan kenaikan gelombang yang mempengaruhi biaya melaut nelayan.

Masalah empiris yang harus dipecahkan ketika terjadi perubahan iklim, bagaimana perubahan perilaku nelayan dalam melakukan kegiatan melaut berdasarkan tiga model alternatif. Pertama, nelayan dapat memperbarui harapan mereka untuk kembali ke tempat tangkapan meskipun mereka mempunyai pengalaman bahwa tempat tersebut tidak memberikan hasil tangkapan yang bagus (updating). Kedua, nelayan tidak akan kembali ke tempat penangkapan yang tidak memberikan hasil tangkapan yang bagus dalam jangka satu bulan. Ketiga, “mixed model” di mana nelayan selalu melakukan update informasi untuk mendapatkan harapan pada hasil yang diperoleh. Bisa saja nelayan tersebut datang pada situs memancing yang tidak menghasilkan dalam waktu dekat atau nelayan tersebut mendengar informasi dari nelayan lain dan kemudian mendatangi lokasi yang tidak menghasilkan pada saat sedang berada di tengah laut.

Tata Kelola Sumber Daya Perikanan Berbasis Laut

Karakteristik pemanfaatan sumberdaya ikan yang menganut rezim open access dan common property menyebabkan sektor perikanan tangkap sangat rentan terhadap unsur ketidakpastian. Padahal untuk mewujudkan ketahanan pangan dibutuhkan stabilitas dan kontinuitas produksi ikan di sutu wilayah. Dalam upaya membangun ketahanan pangan perikanan, maka dibutuhkan suatu model pendekatan yang dapat mengatasi dinamika ketidakpastian serta menjamin ketersediaan produksi ikan yang sekligus diintegrasikn dengan komitmen menjaga ekosistem yang berkelanjutan.

Prinsip utama dalam penciptaan ketahanan pangan dari sektor perikanan tangkap adalah penempatan stakeholder dan pelaku usaha perikanan tangkap, dalam hal ini nelayan sebagai aktor utama. Nelayan dan keluarganya dapat diberdayakan dengan mengakomodir dimensi sosial, ekonomi, dan teknologi serta kesadaran ekologisnya. Tiga dimensi utama tersebut diarahkan untuk optimaliasi pemanfaatan sumberdaya ikan hasil yang diperoleh yang memungkinkan rumah tangga nelayan untuk menumbuhkan kemampuan / kapasitas untuk beradaptas dalam situasi ketidak pastian baik faktor alam maupun non alam. Dalam upaya meningkatkan kapasitas adaptasi tersebut, maka diperlukan dukungan kolektif berupa jejaring sosial kelembagaan dalam bentuk kelompok usaha bersama (KUB) atau koperasi.

Perubahan paradigma dan kebijakan pengelolaan perikanan yang terjadi diharapkan dapat direspons positif baik oleh rumah tangga, KUB maupun koperasi sehingga akan menumbuh kembangkan daya adaptasi (resiliensi) yang lebih tinggi saat menghadapi situasi krisis. Nantinya, kelompok ini dapat diandalkan sebagai wadah belajar kolektif yang berlangsung secara terus menerus untuk memahami dinamika perubahan yang terjadi dan mempersiapkan perangkat dan sistem adaptasinya.

Ekonomi Biru yang Berkelanjutan

Laut selain diharapkan menjadi sumber ekonomi juga menjadi penjaga stabilitas suhu bumi, dengan kemampuannya menyerap emisi karbon dan produksi oksigen yang tinggi, ekosistem laut merupakan harapan bagi resiliensi bumi dari krisis iklim. Pengarus utamaan, Blue Economy merupakan pedoman paling tepat yang diperlukan untuk menciptakan resiliensi tersebut, sebagaimana didefinisikan sebagai berikut;

Blue economy is Ocean-based economy characterized by optimized social capital, minimized waste and innovative development towards achieving people’s welfare, economic growth and ecosystem sustainability.

Keberhasilan pembangunan ekonomi kelautan memerlukan suatu perencanaan yang komprehensif dan berpihak terhadap kepentingan masyarakat serta lingkungan. Pembangunan tersebut harus didasarkan pada keterpaduan antara lingkup geografis, sistem ekologis, positioning stakeholders, serta adaptasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Kelautan sebagai bidang yang terdiri dari multisektor, memerlukan sebuah kebijakan yang sinergis pada sektor ekonomi kelautan yang kompleks dan perlu disokong melalui pengarusutamaan kebijakan ekonomi biru dalam perencanaan Pembangunan nasional, keberlangsungannya.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki tantangan masa depan untuk menjaga resiliensi laut dan pesisir, sekaligus dapat menjadikanya sebagai potensi sumber daya untuk mengakselerasi revenue yang tinggi tanpa harus merusak ekosistem, maka masyarakat pesisir dapat sebagai agent of control pembangunan yang humanis didaerah laut dan pesisir serta keberlanjutan upaya penguatan ketahanan pangan sembari memberdayakan masyarakat pesisir sebagai pelaku ekonomi sekaligus penjaga ekosistem laut.

Artikel Terkait

Penerapan Kampung Ikan Berbasis Teknologi Hatchery dalam Optimalisasi Percepatan Kemandirian Pangan Perikanan Nasional

Salah satu kisah sukses teknologi hatchery adalah hatchery skala rumah tangga (HSRT) yang terdapat dibagian utara Bali.

Teknologi ini dikembangkan oleh Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol Bali dan dengan pesat diterapkan oleh nelayan – nelayan setempat yang awalnya ingin mengadakan diversifikasi usaha dari perikanan budidaya secara tradisional ke perikanan budidaya skala industri seperti tambak dan keramba jaring apung.

Tanggapan

Secret Link