Blue Economy: Proyeksi Strategis Penunjang Keberlanjutan Indonesia pada Aspek Ekosistem Laut dan Pesisir

Indonesia dianugrahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah seperti kekayaan laut, hasil bumi, dan hasil alam. Sektor kelautan menjadi jantung perekonomian nasional. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh masyarakat Indonesia yang berprofesi di sektor Kelautan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2022 mengungkapkan mata pencaharian penduduk Indonesia terbanyak berada di sektor Pertaniain, Kehutanan, dan Perikanan dengan jumlah 135,61 juta jiwa. Dari segi presentase angkatan kerja sektor perikanan menduduki lapangan pekerjaan utama di Indonesia.

Namun di balik kekayaan yang dianugerahi, Indonesia memiliki sisi yang jarang diperhatikan oleh orang-orang negara kita. Khususnya di sektor Perikanan dan Kelautan, hal yang menjadi concern permasalahan ancaman polusi lautan seperti sampah plastik. Data World Population Review memperkirakan 4,8 hingga 12,7 matriks ton plastik masuk di lautan Indonesia. Pemerintahan mengambil alih permasalahan melalui program blue economy yang dirancang oleh Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Gambar 1.0 Sampah Plastik di Indonesia. Foto: voaindonesia

Kementerian koordinator bidang kemaritiman mengungkapkan ekonomi di Indonesia didukung dengan keberlanjutan dari program blue economy. Berbagai dorongan untuk membuat lingkungan laut yang sehat dengan cara mengurangi sampah plastik. Hal ini dilakukan dengan menerapkan peraturan kepada warga lokal dan touris untuk menjaga ekologi dengan mengurangi jumlah penggunaan produk yang berbahan dasar plastik. Selain itu, Indonesia mendorong peningkatan inovasi data untuk melihat perhitungan potensi karbon biru yang terdapat di lautan Indonesia.

Strategi utama untuk menunjang blue ekonomi meliputi empat aspek berikut:

1. Peningkatan Aset Laut

Aset Perikanan berfokus pada meningkatkan keberlanjutan dan produktivitas perikanan melalui pengelolaan yang lebih baik dan teknologi yang ramah lingkungan. Mengurangi overfishing dan memastikan stok ikan tetap stabil.Aset Mangrove menjadi penunjang melestarikan dan merehabilitasi hutan mangrove untuk menjaga ekosistem pesisir, mengurangi dampak perubahan iklim, dan mendukung biodiversitas. Mangrove juga berperan penting dalam penyerapan karbon.

Aset Terumbu Karang berfokus untuk melindungi dan memperbaiki kondisi terumbu karang yang rusak akibat aktivitas manusia atau perubahan iklim. Terumbu karang adalah habitat penting bagi banyak spesies laut dan berkontribusi pada pariwisata serta perikanan.

2. Investasi

Mendorong investasi dalam sektor-sektor yang mendukung ekonomi biru, seperti energi terbarukan dari laut, ekowisata, dan teknologi kelautan. Investasi ini penting untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan infrastruktur, dan mendukung penelitian dan inovasi di bidang kelautan.

3. Sistem Informasi Pengelolaan Data Kelautan

Mengembangkan dan memperkuat sistem informasi untuk pengelolaan data kelautan. Sistem ini harus mampu mengumpulkan, mengintegrasikan, dan menganalisis data dari berbagai sumber untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik dalam pengelolaan sumber daya laut. Data yang akurat dan terintegrasi akan membantu dalam memantau kondisi ekosistem, mengelola perikanan, dan merespons perubahan lingkungan dengan cepat.

4. Membangun Kembali infrastruktur setelah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 telah berdampak besar pada ekonomi global, termasuk sektor kelautan. Program ubi biru bertujuan untuk memulihkan ekonomi maritim pasca-pandemi melalui inisiatif yang berkelanjutan dan inklusif. Ini termasuk mendukung nelayan dan komunitas pesisir yang terdampak, memperkuat rantai pasok perikanan, dan mendorong inovasi dalam produk dan layanan maritim.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, diharapkan dapat tercipta ekonomi biru yang berkelanjutan, inklusif, dan resisten terhadap tantangan di masa depan.***

    Artikel Terkait

    Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

    Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

    Tanggapan