Penanganan Pencemaran Pulau Pari: Kelestarian Kelautan Indonesia Terancam?

Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki luas kelautan yang mencapai sekitar 6.400.000 km². Luas ini mencakup berbagai komponen seperti perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan landas kontinen (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2023). Namun, kekayaan laut ini tidak lepas dari berbagai permasalahan. Salah satu isu yang paling menonjol adalah permasalahan pencemaran laut dan sampah plastik.

Sampah plastik yang dibuang sembarangan telah menjadi penyumbang utama sampah laut, meracuni lingkungan, mengancam keberagaman hayati laut, dan merugikan sektor pariwisata dan perikanan (Jay Fajar, 2024). Permasalahan ini menjadi tantangan serius yang harus dihadapi Indonesia dalam menjaga kelestarian lautnya. Salah satu contoh konkret dari permasalahan pencemaran laut di Indonesia dapat dilihat di perairan Pulau Pari, Jakarta Utara.

Perairan ini, sayangnya, telah tercemar oleh berbagai jenis sampah, mulai dari plastik, sedotan, karung, styrofoam, hingga eceng gondok (cnnindonesia.com, 2021). Pencemaran ini tidak hanya membawa dampak negatif terhadap ekosistem laut, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat setempat. Situasi ini menjadi gambaran nyata dari tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menjaga kelestarian lautnya.

Gambar 1.0 Gambaran peta Pulau Pari

Pulau Pari yang terletak di Jakarta Utara, adalah permata yang berkilauan di tengah gugusan Kepulauan Seribu. Dengan luas sekitar 94.57 Ha atau 0.9457 km², pulau ini menjadi rumah bagi berbagai spesies laut dan berkontribusi pada keanekaragaman hayati laut di Indonesia (cnnindonesia.com, 2021). Namun, keindahan dan kekayaan ini terancam oleh ancaman pencemaran.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perairan yang mengelilingi pulau ini mengalami tingkat pencemaran yang cukup tinggi. Dengan nilai indeks pencemaran rata-rata mencapai 6,687, sebagian besar perairan ini dikategorikan sebagai tercemar sedang (Almira Fadyah Rana Sabry, 2019). Bahkan, perairan di sekitarnya, yang membentang hingga sekitar 20 kilometer, telah tercemar oleh berbagai jenis sampah, termasuk plastik, sedotan, karung, styrofoam, dan eceng gondok (Admin Trans7, 2021). Sampah-sampah ini diduga berasal dari pesisir utara Jakarta (Devi Dwiyanti Suryono, 2019).

Pada tahun 2018, pantai Pulau Pari dipenuhi oleh 10 meter kubik sampah, setara dengan 10 ton (Kompas Cyber Media, 2018). Sampah ini didominasi oleh plastik dan kayu, menunjukkan betapa seriusnya masalah pencemaran plastik di kawasan ini (Clara Maria Tjandra Dewi, 2018). Selain itu, sebuah penelitian menemukan bahwa sampah laut yang diperoleh dari perairan ini berjumlah 1.033 item, dengan bobot total mencapai 33,42 kg (Khoirunnisa, 2023). Fakta ini menunjukkan urgensi untuk melakukan upaya pengelolaan sampah yang lebih baik di Pulau Pari untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kehidupan laut di sekitarnya.

Dari segi ekonomi, Pulau Pari memiliki potensi pariwisata dengan hamparan pantai yang indah, yang dapat menumbuhkan perekonomian lokal. Kebersihan laut di Pulau Pari memiliki dampak yang signifikan terhadap pemberdayaan masyarakat setempat (Neksidin et al., 2021).

Salah satu dampaknya adalah peningkatan mata pencaharian. Mayoritas masyarakat Pulau Pari memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan petani rumput laut. Keberlanjutan pesisir membantu menjaga keberlanjutan mata pencaharian nelayan.

Hasil tangkapan yang konsisten dan berkelanjutan akan mendukung perekonomian lokal, mengurangi tingkat kemiskinan, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir (Bahukeling et al., 2019). Selain itu, pariwisata bahari menjadi alternatif mata pencaharian utama maupun sampingan di Pulau Pari melalui Usaha Kecil Menengah (UKM).

Kebersihan dan kelestarian pesisir pantai menjadi daya tarik pariwisata yang menumbuhkan perekonomian lokal (Billy Steven Kaitjily, 2024). Terakhir, di Pulau Pari, profesi nelayan menjadi hal yang lazim bagi perempuan, serta memiliki peran yang sangat vital, di mana kontribusi mereka mencakup berbagai aspek, mulai dari keluarga, ketahanan pangan, hingga menjaga kelestarian lingkungan laut (Pandu Laut Nusantara, 2024). Semua dampak ini menunjukkan betapa pentingnya kebersihan laut bagi pemberdayaan masyarakat setempat.

Gambar 1.1 Sudin Lingkungan Hidup teliti sampel air Pulau Pari (https://www.antaranews.com/berita/772411/sudin-lingkungan-hidup-teliti-sampel-air-pulau-pari)
Gambar 1.2  Perairan di kawasan Pulau Pari, Jakarta, tercemar sampah. Sampah-sampah plastik dan styrofoam berserakan diduga kiriman dari pesisir utara Jakarta (CNN Indonesia/ Safir Makki) (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210725095703-20-671868/sampah-plastik-dan-styrofoam-cemari-perairan-pulau-pari)

Namun, potensi ini terancam oleh sampah plastik, sedotan, karung, styrofoam, dan eceng gondok yang mencemari perairannya. Pencemaran ini tidak hanya merusak keindahan alam, tetapi juga mengganggu ekosistem laut dan berdampak negatif pada kehidupan masyarakat setempat.

Pencemaran perairan oleh sampah plastik di Pulau Pari, Jakarta Utara, telah membawa dampak negatif yang signifikan bagi masyarakat setempat, terutama bagi nelayan (Shinta Dwi Ayu & Ihsanuddin, 2024). Dampak ini mencakup kerusakan baling-baling perahu, pengurangan hasil tangkapan, dan kerugian finansial.

Sampah plastik yang tersebar di perairan dapat merusak baling-baling perahu, mengakibatkan perahu menjadi berat dan mudah panas. Dalam beberapa kasus, mesin perahu bahkan bisa rusak. Ini tentunya menambah beban kerja nelayan dan mengurangi efisiensi mereka dalam mencari ikan. Selain itu, sampah plastik juga dapat mengusir ikan-ikan dari area tangkapan (Jay Fajar, 2024).

Sebagai contoh, seorang nelayan bernama Bobby mengungkapkan bahwa dalam kondisi normal, dia bisa mendapatkan 100 kilogram ikan dalam satu trip. Namun, dengan adanya sampah, hasil tangkapannya bisa berkurang drastis menjadi hanya 15-25 kilogram, bahkan terkadang dia tidak mendapatkan ikan sama sekali (Baihaqi Annizar, 2023) & (Jay Fajar, 2024a).

Dampak negatif lainnya adalah kerugian finansial. Kerusakan pada perahu dan penurunan hasil tangkapan tentunya berdampak pada pendapatan nelayan. Dalam beberapa kasus, kerugian bisa mencapai jutaan rupiah. Pencemaran laut di Pulau Pari adalah gambaran mikro dari tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menjaga kelestarian lautnya (Ricky Jenihansen, 2023).

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas kelautan yang mencapai sekitar 6.400.000 km², Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi lautan dan kekayaan hayati yang ada di dalamnya dari ancaman pencemaran.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) juga telah memulai Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (2017-2025) yang menargetkan pengurangan sampah plastik di laut sebesar 70 persen pada tahun 2025, berbagai solusi inovatif telah dikembangkan untuk mengatasi masalah pengolahan sampah di lautan (Sekretariat Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut, 2019).  

Misalnya, Seabin, sebuah perangkat pembersih laut yang sederhana namun efektif, dirancang untuk menyedot sampah atau minyak yang mengambang di sekitar dermaga dan dapat beroperasi selama 24 jam dalam 7 hari (seabin, 2024) & (Pooja Chhabria, 2022).

Seabin, sebuah inovasi luar biasa dalam teknologi pembersihan laut, telah menunjukkan kemampuannya dalam menyaring air dan menangkap polusi plastik. Dengan kemampuan untuk menyaring 538.2K liter air dan menangkap 288 item plastik, termasuk 156 mikroplastik, Seabin telah membuktikan dirinya sebagai alat yang efektif dalam melawan polusi laut (nationalgeographic.grid.id, 2016).

Gambar 1.4 Teknologi yang sedang dikembangkan oleh The Ocean Cleanup (https://www.surfer.com/culture/17-million-pounds-trash-removed-ocean-cleanup)

Selain itu, The Ocean Cleanup telah menguji teknologi pengumpul sampah plastik lautan dengan menggunakan tabung apung sepanjang 600 meter yang berfungsi seolah sebagai garis pantai artifisial (Rahmadi R, 2018).

Gambar 1.5 IMAN yang dirancang oleh ITS (https://jatim.inews.id/berita/mengenal-iman-robot-penghancur-sampah-laut-rancangan-mahasiswa-its)

Tidak ketinggalan, IMAN, sebuah robot yang dirancang terintegrasi oleh IoT, dapat mencari dan menghancurkan sampah plastik di lautan, memudahkan dekomposisi sampah plastik tanpa harus dikumpulkan dan dipindahkan ke suatu tempat(adminwebits, 2021) & (medcom id developer, 2022).

Dalam era teknologi yang semakin maju, alat sensor sampah plastik berbasis kecerdasan buatan (AI) telah menjadi solusi inovatif dalam upaya pengurangan polusi plastik. Alat ini, yang bekerja dengan teknologi robot AI, mampu mengumpulkan sampah yang mengambang di laut dan secara otomatis mendeteksi jenis sampah tersebut.

Salah satu inisiatif yang sedang dikembangkan adalah perangkat lunak berbasis AI yang dirancang khusus untuk mendeteksi dan memetakan perilaku dinamis sampah plastik yang mengambang di laut. Metode ini melibatkan penggunaan kamera GoPro yang dipasang di kapal, yang memindai jalur laut sepanjang ratusan mil untuk mendeteksi sampah.

Dataset yang dihasilkan kemudian diproses menggunakan algoritma deteksi objek AI yang baru dikembangkan. Hasilnya, lebih dari 400 item plastik besar berhasil ditemukan dan lokasinya ditandai dengan GPS (Han et al., 2021). Dengan pendekatan ini, kita dapat memahami distribusi dan perilaku sampah plastik di laut dengan lebih baik, yang pada akhirnya dapat membantu upaya pengurangan polusi plastik di masa depan.

Gambar 1.6 Teknologi Waste-to-Energy (WTE) (https://www.kompasiana.com/tomyabuzairi/5529b2e46ea834bd5b552d2e/waste-to-energy-solusi-energi-terbarukan-di-indonesia)

Selain itu, penggunaan energi terbarukan dalam proses pengelolaan sampah juga menjadi solusi penting. Ini mencakup penggunaan teknologi daur ulang yang lebih efisien dan penggunaan energi terbarukan dalam proses pengelolaan sampah.

Teknologi Waste-to-Energy (WTE), yang mengubah sampah menjadi energi terbarukan, dapat digunakan untuk mengolah sampah perkotaan dan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di lautan (Alya Dini, 2024).

Selain itu, penggunaan Energi Surya dan Energi Angin juga dapat menjadi solusi. Logam seperti perak, silikon, dan galium, serta mineral seperti neodimium, praseodimium, dan diprosium, yang digunakan dalam teknologi energi surya dan turbin angin, dapat didaur ulang untuk membangun teknologi energi ramah lingkungan dan mengurangi kebutuhan akan penambangan baru (Atasu et al., 2023).

Gambar 1.7 Teknologi pengolahan sampah plastik oleh masyarakat Kepulauan Seribu (https://www.gudnyus.id/2021/06/hebat-warga-kepulauan-seribu-ubah-sampah%20plastik-jadi-solar.html)

 Terakhir, teknologi pengolahan sampah plastik menjadi energi baru terbarukan telah diterapkan oleh masyarakat Kepulauan Seribu, mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak solar. Inisiatif ini tidak hanya membantu mengurangi sampah plastik, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal dengan menciptakan sumber energi baru (Ahmad Faiz Ibnu Sani, 2022).

Sebagai kesimpulan, pencemaran laut di Indonesia, khususnya akibat sampah plastik, adalah tantangan besar yang membahayakan keberlanjutan ekosistem dan kehidupan masyarakat pesisir. Pulau Pari adalah gambaran nyata dari dampak negatif pencemaran ini, yang merusak keindahan alam, mengancam keanekaragaman hayati, dan berdampak buruk pada ekonomi lokal serta mata pencaharian nelayan.

Solusi efektif melibatkan penerapan teknologi inovatif dan partisipasi aktif masyarakat. Dengan kerjasama yang erat antara pemerintah, masyarakat, dan inovator teknologi, Indonesia memiliki potensi untuk menjaga kelestarian lautnya dan memastikan keberlanjutan ekonomi dan ekosistem maritim untuk masa depan.***

Baca juga: Pencurian Ikan, Fluktuasi Harga, dan Nasib Nelayan Tradisional

Sumber:

Admin Trans7. (2021). TRANS7 | Perairan Pulau Pari Tercemar Sampah Plastik Dan Styrofoam. Www.trans7.Co.id. https://www.trans7.co.id/seven-updates/perairan-pulau-pari-tercemar-sampah-plastik-dan-styrofoam

adminwebits. (2021, December 31). Mahasiswa ITS Inovasikan IMAN, Robot Penghancur Sampah Lautan. ITS News. https://www.its.ac.id/news/2021/12/31/mahasiswa-its-inovasikan-iman-robot-penghancur-sampah-lautan/

Ahmad Faiz Ibnu Sani. (2022, January 25). Pemkab Kepulauan Seribu Operasikan Mesin Pengubah Plastik jadi BBM. Tempo. https://metro.tempo.co/read/1553724/pemkab-kepulauan-seribu-operasikan-mesin-pengubah-plastik-jadi-bbm

Almira Fadyah Rana Sabry. (2019, August 19). ANALISIS PENCEMARAN AIR LAUT DENGAN METODE INDEKS PENCEMARAN DI PULAU PARI, KEC. KEPULAUAN SERIBU SELATAN, KAB. KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA. Eprints.upnyk.ac.id. http://eprints.upnyk.ac.id/20757/

Alya Dini. (2024). Waste-to-Energy, Solusi Permasalahan Sampah dan Alternatif Energi Berkelanjutan. Www.goodnewsfromindonesia.id. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/06/10/waste-to-energy-solusi-permasalahan-sampah-serta-alternatif-energi-berkelanjutan

Atasu, A., Carrera, C., & Duran, S. (2023, September 12). Bagaimana upaya daur ulang bisa jadi solusi kelangkaan mineral untuk energi terbarukan. The Conversation. https://theconversation.com/bagaimana-upaya-daur-ulang-bisa-jadi-solusi-kelangkaan-mineral-untuk-energi-terbarukan-213292

Badan Pusat Statistik Indonesia. (2023). Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir 2023. Www.bps.go.id. https://www.bps.go.id/id/publication/2023/11/30/45b0e0c30911979641959fe5/statistik-sumber-daya-laut-dan-pesisir-2023.html

Bahukeling, T. S., Hubeis, M., & Trilaksani, W. (2019). Analisis Dampak Pariwisata Bahari Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Sekitar Kawasan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. MANAJEMEN IKM: Jurnal Manajemen Pengembangan Industri Kecil Menengah, 14(2), 152–159. https://doi.org/10.29244/mikm.14.2.152-159

Baihaqi Annizar. (2023, February 25). Bahaya Sampah Plastik di Laut dan Imbas Minimnya Hasil Nelayan. Tirto.id. https://tirto.id/bahaya-sampah-plastik-di-laut-dan-imbas-minimnya-hasil-nelayan-gCQu

Billy Steven Kaitjily . (2024, January 3). Mengoptimalkan Pengelolaan Wisata Bahari di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. KOMPASIANA. https://www.kompasiana.com/billystevenkaitjily91/65958a45de948f17602b7082/mengoptimalkan-pengelolaan-wisata-bahari-di-pulau-pari-kepulauan-seribu

Clara Maria Tjandra Dewi. (2018, November 28). 10 Ton Sampah Kiriman Sungai Jakarta Terdampar di Pulau Pari. Tempo. https://metro.tempo.co/read/1150304/10-ton-sampah-kiriman-sungai-jakarta-terdampar-di-pulau-pari

cnnindonesia.com. (2021, July 26). Sampah Plastik dan Styrofoam Cemari Perairan Pulau Pari. Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut. https://sampahlaut.id/2021/07/26/sampah-plastik-dan-styrofoam-cemari-perairan-pulau-pari/

Devi Dwiyanti Suryono. (2019). SAMPAH PLASTIK DI PERAIRAN PESISIR DAN LAUT : IMPLIKASI KEPADA EKOSISTEM PESISIR DKI JAKARTA MARINE PLASTICS DEBRIS : IMPLICATION TO THE COASTAL ECOSYSTEM IN DKI JAKARTA. RISET JAKARTA, 12(1), 17–23. https://jurnal.drdjakarta.id/index.php/jurnalDRD/article/download/2/2/

Han, W., Luo, W., Jin, Y., & Zhu, M. (2021). A Deep Learning Model for Automatic Plastic Waste Monitoring Using Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Data. https://doi.org/10.1002/essoar.10507932.1

Humas Fmipa UI. (2018, January 26). Sampah Plastik di Laut, Masalah yang serius! FMIPA UI. https://www.sci.ui.ac.id/sampah-plastik-di-laut-masalah-yang-serius/

Jay Fajar. (2024a, May 2). Polusi Plastik di Laut Rugikan Nelayan Jutaan Rupiah. Mongabay.co.id. https://www.mongabay.co.id/2024/05/02/polusi-plastik-di-laut-rugikan-nelayan-jutaan-rupiah/

Jay Fajar. (2024b, June 5). Hari Lingkungan Hidup: Mencegah Krisis Sampah Plastik di Laut. Mongabay.co.id. https://www.mongabay.co.id/2024/06/05/hari-lingkungan-hidup-mencegah-krisis-sampah-plastik-di-laut/

Khoirunnisa, T. A. (2023). Kelimpahan dan Komposisi Sampah Laut Terdampar di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Repository.ipb.ac.id. https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/116806

Kompas Cyber Media. (2018, November 28). 10 Ton Sampah Diangkat dari Pulau Pari. KOMPAS.com. https://megapolitan.kompas.com/read/2018/11/28/08233761/10-ton-sampah-diangkat-dari-pulau-pari

medcom id developer. (2022, January 2). IMAN, si Robot Penghancur Sampah Plastik di Lautan Inovasi Mahasiswa ITS. Medcom.id. https://www.medcom.id/pendidikan/riset-penelitian/ybDXqyZb-iman-si-robot-penghancur-sampah-plastik-di-lautan-inovasi-mahasiswa-its

nationalgeographic.grid.id. (2016). Seabin, Ember Jenius Penghisap Sampah dan Minyak di Lautan – National Geographic. Nationalgeographic.grid.id. https://nationalgeographic.grid.id/read/13303111/seabin-ember-jenius-penghisap-sampah-dan-minyak-di-lautan

Neksidin, Achmad Fahrudin, & Majariana Krisanti. (2021). Keberlanjutan Pengelolaan Wisata Bahari di Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu. Journal.ipb.ac.id. https://journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI/article/download/34850/21551

Pandu Laut Nusantara. (2024, February 29). Masyarakat Berdaya Laut Berjaya: Kisah Pemberdayaan Perempuan dari Pulau Pari. Pandulaut. https://www.pandulaut.org/post/masyarakat-berdaya-laut-berjaya-kisah-pemberdayaan-perempuan-dari-pulau-pari

Pooja Chhabria. (2022, September 23). How these floating “Seabins” can help clean up our waters. World Economic Forum. https://www.weforum.org/agenda/2022/09/seabin-how-these-floating-garbage-bins-can-help-clean-up-our-waters/

Rahmadi R. (2018, August 24). September Ini, Uji Coba Teknologi Pembersih Sampah Laut Dilakukan. Mongabay.co.id. https://www.mongabay.co.id/2018/08/24/september-ini-uji-coba-teknologi-pembersih-sampah-laut-dilakukan/

Ricky Jenihansen. (2023). Degradasi Ekosistem Pesisir Menyebabkan Penurunan Pendapatan Nelayan – Semua Halaman – National Geographic. Nationalgeographic.grid.id. https://nationalgeographic.grid.id/read/133901627/degradasi-ekosistem-pesisir-menyebabkan-penurunan-pendapatan-nelayan?page=all

seabin. (2024). Nature Certificates: Combatting Microplastics and Ocean Pollution. Seabin.io. https://seabin.io/home

Sekretariat Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut. (2019). Laporan Tim Pelaksana Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut Tahun 2019. 29. https://sampahlaut.id/wp-content/uploads/2023/10/Laporan-RAN-PSL_2019.pdf

Shinta Dwi Ayu, & Ihsanuddin . (2024, April 14). Laut di Pulau Pari Banyak Sampah, Wisatawan: Sangat Amat Disayangkan. KOMPAS.com. https://megapolitan.kompas.com/read/2024/04/15/06463811/laut-di-pulau-pari-banyak-sampah-wisatawan-sangat-amat-disayangkan

Artikel Terkait

Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

Tanggapan