Remediasi Ekosistem Laut Melalui Restorasi Terumbu Karang

Perubahan iklim semakin menjadi ancaman yang serius dan harus segera ditangani. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) pada 2022 menegaskan bahwa dampak dari perubahan iklim sudah semakin meluas dan melampaui perkiraan. Sayangnya hal tersebut masih menjadi isu sampingan, masyarakat secara umum masih kurang peduli atau bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan keadaan bumi akibat dari adanya perubahan iklim.

Padahal kegiatan manusia sendiri menjadi penyebab terbesar, terutama pasca revolusi industri dan penggunaan energi fosil secara masal di seluruh dunia tanpa terkecuali. Saat ini, peningkatan suhu rata-rata di seluruh dunia telah mencapai 1,5oC dan telah memberikan dampak nyata, termasuk bagi Indonesia. Salah satu dampak nyata dari perubahan iklim yaitu meningkatnya persentase kerusakan ekosistem laut dan pesisir.

Ekosistem laut dan pesisir terdiri dari hutan mangrove, lamun, dan terumbu karang. Ketiganya memiliki peran yang sangat besar dalam penanganan iklim karena menyimpan 55% cadangan karbon dan mampu menyerap karbon lebih besar dibandingkan dengan ekosistem hutan di daratan. Dari tiga ekosistem tersebut, terumbu karang memiliki efektivitas paling tinggi dalam menyerap karbon yakni sebesar 3,5 kgC/cm2th-1 (Sari Ni, 2016). Terumbu karang merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai tempat berlindung, mencari makan, tempat tinggal, tempat berkembang biak berbagai biota laut, hingga menjadi benteng alami untuk melindungi wilayah pesisir dari hempasan ombak.

Peran terumbu karang sangat penting bagi ekosistem pesisir, karena terumbu karang dapat memecah gelombang pada jarak yang jauh dari garis pantai, sehingga ketika terjadi badai besar atau tsunami, terumbu karang dapat melindungi pantai dari dampak terburuk. Luas terumbu karang di Indonesia mencapai 25.000 km2 atau sekitar 10% dari luas total terumbu karang di dunia. Namun sayangnya, berdasarkan data LIPI, sebesar 18.000 km2 terumbu karang Indonesia mengalami kerusakan parah. Dengan skala yang begitu masif, kerusakan terumbu karang justru turut serta memperparah perubahan iklim. Kerusakan ini terjadi secara alami seperti coral bleaching maupun akibat aktivitas manusia seperti overfishing, pencemaran laut, dan amateur diving.

Jenis kerusakan terumbu karang yang saat ini paling banyak terjadi adalah coral bleaching (pemutihan karang), yaitu fenomena di mana alga zooxanthellae yang menempel dan hidup pada karang mengalami stress akibat temperatur air yang berubah drastis serta adanya pencemaran dan kontaminasi zat-zat toksik. Apabila stress tersebut terus terjadi, maka alga akan melepaskan diri dari karang sehingga karang berubah warna menjadi putih. Inilah sebab mengapa fenomena tersebut dikenal sebagai coral bleaching atau pemutihan karang. Selanjutnya, jika fenomena coral bleaching terus menerus terjadi, maka akan mengakibatkan biota laut kehilangan habitat sekaligus memicu terjadinya pelepasan gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim semakin kritis. Maka dari itu, perlu ada langkah konkrit untuk merespon fenomena ini, yaitu dengan melakukan restorasi terumbu karang.

Menurut Society of Ecological Restoration, restorasi ekologi merupakan proses membantu pemulihan pada ekosistem yang telah terdegradasi, rusak, dan hancur. Tujuan restorasi pada masa lalu adalah untuk mengembalikan ekosistem ke kondisi historisnya. Pandangan ini juga berarti bahwa ancaman yang menyebabkan kerusakan dapat dihilangkan. Namun, meskipun target emisi gas rumah kaca tercapai, tujuan restorasi ini mungkin tidak dapat diterapkan pada semua terumbu karang, karena kenaikan suhu laut akan terus berlanjut hingga beberapa dekade kedepan. Oleh karena itu, tujuan pemulihan terumbu karang telah bergeser ke peningkatan pemulihan terumbu karang dan pemeliharaan proses, fungsi, dan jasa ekosistem utamanya.

Transplantasi terumbu karang menjadi salah satu alternatif solusi dalam upaya melakukan restorasi. Transplantasi terumbu karang merupakan upaya memperbaiki terumbu karang yang rusak dengan melakukan pencangkokan atau pemotongan karang hidup, kemudian ditanam pada titik yang mengalami kerusakan. Solusi alternatif lain untuk pemulihan ekosistem terumbu karang masih terus dikembangkan, salah satunya adalah Artificial Remnants Reef, yaitu sebuah metode pemulihan ekosistem terumbu karang dengan memanfaatkan sisa – sisa terumbu karang yang telah mati untuk didaur ulang dan diolah menjadi terumbu karang buatan. Sisa-sisa terumbu karang dipilih sebagai bahan baku karena sudah terjamin tidak menimbulkan dampak sampingan bagi ekosistem laut. Tujuan dari metode ini adalah untuk menggantikan peran ekologis terumbu karang serta untuk memperbaiki habitat yang rusak.***

Sumber:

Divacitra, A. (2022, November 10). Transplantasi Terumbu Karang, Langkah Apik Untuk Laut Indonesia. Retrieved from Good News From Indonesia: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/11/10/transplantasi-terumbu-karang-langkah-apik-untuk-laut-indonesia

Engel (2014) ‘Kondisi Sosial Ekonomi Kawasan Bunguran Timur’, Paper Knowledge. Toward a Media History of Documents.

Isdianto, A. et al. (2020) ‘Analisis Perubahan Garis Pantai Dalam Mendukung Ketahanan Ekosistem Pesisir’, Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan), 6(2), pp. 168–181. doi: 10.20527/jukung.v6i2.9260.

Kama, N. A., Ayu, A. R. and Akbar, M. N. (2020) ‘Efektivitas Bubur Rumput Laut Sebagai Reduktor Logam Timbal Pada Kerang Hijau’, Jurnal ABDI Vol.2, 2(1), pp. 59–67.

Nirwan. et al. (2017) ‘studi Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang Di Kawasan Wisata Bahari Pulau Liukang Loe Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan’, Jurnal Kelautan,1(1), pp. 12-22

Prabowo, H. H. and Salahudin, M. (2017) ‘Potensi Tenggelamnya Pulau-Pulau Kecil Terluar Wilayah Nkri’, Jurnal Geologi Kelautan, 14(2), pp. 115–122. doi: 10.32693/jgk.14.2.2016.356.

Rani, C. et al. (2017) ‘Keberhasilan Rehabilitasi Terumbu Karang Akibat Peristiwa Bleaching Tahun 2016 Dengan Teknik Transplantasi Successfullnes’, Spermonde, 3, pp. 13–19.

Redaksi BBC. (2024, Februari 10). Kenaikan suhu Bumi tembus ambang batas 1,5 Celsius untuk pertama kalinya. Retrieved from BBC NEWS INDONESIA: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cedqye0qng1o

Setiawan, F. et al. (2017) ‘PEMUTIHAN KARANG AKIBAT PEMANASAN GLOBAL TAHUN 2016 TERHADAP EKOSISTEM TERUMBU KARANG : STUDI KASUS DI TWP GILI MATRA ( GILI AIR , GILI MENO DAN GILI TRAWANGAN ) PROVINSI NTB Abstrak Pemutihan karang merupakan respon yang biasa terjadi terhadap karang scl’, pp. 39–54. Available at: https://garuda.kemdikbud.go.id/documents/detail/517751.

Suriyani, L. D. (2021, Juni 12). Keragaman Transplantasi Karang Bertambah dengan Penggunaan Pipa PVC. Retrieved from Mongabay: https://www.mongabay.co.id/2021/06/12/keragaman-transplantasi-karang-bertambah-dengan-penggunaan-pipa-pvc/

Artikel Terkait

Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

Tanggapan