Laut adalah Kita, Sebelum Cengkeh dan Pala

Sejenak saya akan memeksa kita berkhayal seolah kita kembali ke 80 tahun silam. Ketika Isma Sawitri menciptakan kegelisahan tentang laut. Kita bisa dengarkan dari detik 2.09. Rasanya musikalisasi ini begitu syahdunya jikalau teman-teman dengarkan dengan sepoy angin laut saat malam, suara desiran ombak dan secangkir teh manis hangat seperti yang saya lakukan saat ini.

Sedari kecil, laut telah menjadi bagian paling dominan di memori masa kecil saya yang seorang anak pedagang ikan. Laut adalah tentang bagaimana kehidupan dan penghidupan berjalan setiap hari, berulang, dan selalu begitu. Laut selalu meberi lebih tanpa pernah kita minta, sedangkan kita begitu serakahnya membalasnya.

Stop! Saya gak mau terlalu puitis di tulisan ini. Saya hanya ingin sedikit bercerita keluh kesah saya tentang laut yang benar-benar saya alami sendiri. Semasa SD dulu saya sering sekali sepulang sekolah bermain di pinggir laut dekat rumah.

Memang nggak biru airnya dan sudah tentu kita nggak bisa main air di sana. Masih banyak nelayan dan kapal-kapal lain yang membuang limbah pos-produksinya di sana. Tapi 10 hampir dua dekade kemudian, saat saya dewasa mengapa kondisi kian parah?

Bukan! Ini bukan soal kualitas airnya saja. Lebih mengkhawatirkan daripada itu. Semasa SD dulu tanggul di bibir pantai tingginya tidak sampai 1 meter, lebarnya pun mungkin sekitar 60 cm. Lalu tanggul kami naik saban tau, saban meninggi.

Tidak perlu riset dengan LSM lingkungan, dampak perubahan iklim nyata kami alami sendiri, warga pesisir Jakarta. Dan benar aja, ternyata memang menurut para peneliti rata-rata air laut akan meningkat 1 meter di tahun 2300.

Jangankan tahun 2300 yang mungkin masih empat lima generasi lagi, kami warga pesisir Jakarta sehar-hari melihat sendiri bahwa air laut lebih tinggi daripada daratan yang kami pijak.

Foto di bawah ini saya abadikan 2013 lalu. Ketika itu sebagian Jakarta sedang banjir sedangkan kami hanya mengandalkan tanggul ini agar air laut tidak menjadi tsunami kecil yang menghancurkan rumah-rumah kami (lihat gambar bawah). 

Sekarang? Oh jangan salah! Tanggul yang saya ceritakan dulu tingginya tidak sampai satu meter sekarang ada yang tingginya hingga 2,5 bahkan 3 meter. Lebarnya juga tidak dalam hitungan cm lagi, tapi dalam puluhan meter. Tidak percaya? Silahkan mampir ke pesisir Muara Baru.

Sengaja saya nggak melampirkan fotonya supaya teman-teman bisa mengernyitkan dahi ketika melihat langsung di sini. Hehehehe. Jika sempat bandingkan foto di bawah dengan foto teman-teman yah.

Ini bukti nyata bahwa perubahan iklim bukan hanya mitos belaka. Dan masalah warga pesisir Jakarta tidak berhenti sampai di situ. Proyek reklamasi yang digadang-gadang swasta dan diamini pemerintah kian menghancurkan penghidupan kami.

Tangkapan ikan turun drasti karena air kian keruh bercampur pasir dan materi pendukung pulau baru. Jumlah nelayan kian menusut karena toh lebih baik jadi buruh pabrik seperti mayoritas warga ibu kota lainnya. Iya, kan?

Kadang saya bingung, negara ini memiliki belasan ribu pulau. Dari 17-ribuan pulau di negara ini, 9.634 -nya masih belum bernama. Bagaimana sebuah negara kepulauan, justru malah membangun pulau? Kami warga pesisir Jakarta tertawa sembari menangis menyaksikan fenomena ini.

Bagaimana kami yang sebagian besar nelayan, dan mendapat penghidupan dari laut yang semakin surut karena laut kami semakin kotor dapat membeli ruko mewah seharga satu Lamborghini di atas tanah pulau palsu tersebut. Nelayan mana yang sanggup membelinya? Nelayan seperti apa?

Semoga keluh kesah saya ini bisa dipahami seluruh warga Jakarta. Atau syukur-syukur seluruh bangsa ini. Bahwa laut – seperti yang diutarakan Isma Sawitri – adalah kita. Cengkeh, pala, minyak, baja bahkan industri modern tidak akan bisa merubah takdirnya sebagai sumber penghidupan bangsa maritim ini.

Laut adalah perekat antar pulau-pulau yang kita miliki, maka jangan kita takuti. Mari kita didik generas-generasi setelah ini dengan mencintai lautnya sendiri. Dengan cara apa? Ayo kenali, maka kamu pasti menyayangi.

Selamat mencintai lautan!

Editor : Annisa Dian Ndari

Related Articles

Responses