Bahaya Karhutla bagi Laut dan Kehidupan Ekosistem Pesisir
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kerap dianggap hanya sebagai persoalan daratan. Saat hutan terbakar, perhatian kita biasanya tertuju pada kabut asap, kerusakan hutan, dan gangguan kesehatan. Padahal, dampaknya bisa menjalar lebih jauh, bahkan sampai ke laut dan kawasan pesisir.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki hubungan erat antara daratan dan lautan. Material sisa pembakaran bisa terbawa angin, sedangkan abu dan sedimen bisa mengalir bersama air hujan menuju sungai, muara, hingga perairan pantai. Artinya, kebakaran di darat berpotensi menjadi persoalan bagi ekosistem laut dan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber daya pesisir.
Abu Kebakaran Bisa Mengubah Kondisi Perairan
Salah satu dampak karhutla yang perlu diperhatikan adalah masuknya abu dan partikel hasil pembakaran ke laut. Material ini dapat membawa unsur hara, karbon organik, serta logam tertentu yang mengubah komposisi kimia air.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B berjudul “Food for all? Wildfire ash fuels growth of diverse eukaryotic plankton” mengungkapkan bahwa abu dari kebakaran besar di California dapat menambahkan unsur hara ke air laut dan memengaruhi pertumbuhan serta komposisi komunitas mikroorganisme. Temuan ini menunjukkan bahwa abu kebakaran bukan sekadar sisa pembakaran, tetapi juga dapat mengubah proses biologis di perairan.
Meski demikian, pengaruhnya tidak selalu sama. Unsur hara dalam jumlah tertentu dapat mendukung pertumbuhan organisme, tetapi perubahan komposisi air yang berlebihan atau masuknya bahan pencemar berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.
Kehidupan Biota Laut Ikut Terpengaruh
Laut memiliki rantai kehidupan yang saling terhubung, mulai dari plankton sebagai bagian penting dasar rantai makanan hingga ikan dan berbagai organisme lainnya. Perubahan kualitas air dapat memengaruhi hubungan tersebut.
Penelitian dalam jurnal Limnology and Oceanography berjudul “Wildfire ash inhibits the growth and photosynthetic efficiency of marine phytoplankton” menemukan bahwa paparan abu kebakaran dalam eksperimen laboratorium menurunkan efisiensi fotosintesis dan pertumbuhan beberapa jenis fitoplankton laut. Fitoplankton berperan penting dalam produksi bahan organik dan menopang kehidupan di perairan.
Hasil penelitian tersebut tidak berarti semua jenis plankton di laut akan mengalami dampak serupa. Namun, temuan itu memperlihatkan bahwa material hasil kebakaran dapat memberikan tekanan terhadap organisme laut, tergantung pada jenis abu, konsentrasi, dan kondisi perairannya.
Dampak lanjutan terhadap ikan, terumbu karang, dan ekosistem lain perlu diteliti lebih lanjut. Maka itu, pemantauan kualitas air setelah kebakaran menjadi penting, terutama jika kawasan yang terbakar terhubung langsung dengan sungai dan pesisir.

Mangrove dan Ekosistem Pesisir Perlu Dilindungi
Ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang berperan penting bagi keseimbangan lingkungan. Mangrove, misalnya, menjadi tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai biota, sekaligus membantu melindungi garis pantai dari abrasi.
Saat perairan pesisir mengalami tekanan akibat material hasil pembakaran, kondisi habitat dan kehidupan organisme di sekitarnya perlu diperhatikan.
Penelitian dalam jurnal Frontiers in Marine Science berjudul “What data are needed to detect wildfire effects on coastal ecosystems? A case study during the Thomas Fire” menunjukkan bahwa mendeteksi dampak kebakaran terhadap ekosistem laut bukan perkara sederhana. Asap dan abu berisiko memengaruhi pengamatan perairan, sehingga data satelit saja belum tentu cukup untuk menggambarkan perubahan ekosistem secara akurat.
Oleh sebab itu, pengamatan langsung di lapangan tetap dibutuhkan untuk mengetahui kondisi air, plankton, dan organisme pesisir setelah terjadi kebakaran.
Dampaknya Bisa Merembet ke Kehidupan Masyarakat
Kerusakan lingkungan pesisir bukan hanya persoalan alam. Nelayan, pembudidaya ikan, dan pelaku wisata bahari juga berpotensi terkena dampaknya jika kualitas perairan dan kondisi habitat memburuk.
Studi tentang kebakaran Lahaina di Hawaii yang diterbitkan dalam jurnal Science of the Total Environment berjudul “Potential impact of the 2023 Lahaina wildfire on the marine environment” menggunakan pemodelan untuk memperkirakan penyebaran sejumlah kontaminan dari kawasan terbakar menuju laut. Hasilnya menunjukkan adanya potensi risiko bagi habitat laut di sekitar lokasi. Karena menggunakan pemodelan, hasil tersebut perlu dipahami sebagai perkiraan risiko, bukan bukti bahwa seluruh dampak yang diprediksi pasti terjadi.
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa penanganan kebakaran seharusnya tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Kondisi perairan di sekitar wilayah terdampak juga perlu diperiksa.
Mencegah Karhutla Berarti Menjaga Laut
Upaya melindungi laut dari dampak karhutla tentuu harus dimulai dari pencegahan kebakaran di daratan. Pengelolaan lahan tanpa pembakaran, perlindungan hutan dan gambut, serta pengawasan kawasan rawan kebakaran perlu diperkuat. Pemantauan sungai, muara, dan kualitas air pesisir juga penting dilakukan setelah kebakaran terjadi.
Hutan dan laut bukan dua lingkungan yang berdiri sendiri. Keduanya saling terhubung melalui aliran air, udara, dan berbagai proses alam. Saat hutan terbakar, dampaknya berpotensi menjalar hingga ke pesisir dan mengganggu kehidupan di dalamnya. Maka itu, menjaga laut tidak cukup hanya dengan membersihkan pantai atau melindungi terumbu karang. Kita juga perlu menjaga hutan di daratan. Sebab, mencegah karhutla berarti ikut melindungi ekosistem laut, mata pencaharian masyarakat pesisir, dan keberlanjutan lingkungan. [ ]
Tanggapan