Lautan Menanggung Beban Krisis Iklim Atas Ulah Manusia, dan Akan Berdampak Kembali ke Manusia

lautan antartika

Lautan telah menyerap lebih dari 90% panas berlebih yang disebabkan oleh emisi karbon dioksida kita dalam 50 tahun terakhir.

Menurut Maurice Huguenin, penulis utama sebuah studi yang diterbitkan di Nature Communications, Samudra Selatan mendominasi penyerapan panas laut ini, sebagian karena pengaturan geografis wilayah tersebut.

Samudra Selatan atau Samudra Antarktika atau Lautan Selatan adalah massa air laut yang mengelilingi benua Antarktika. Ia merupakan samudra terbesar keempat dan telah disepakati untuk disebut sebagai samudra oleh Organisasi Hidrografi Internasional pada tahun 2000.

“Antartika, yang dikelilingi oleh Samudra Selatan, juga dikelilingi oleh angin barat yang kuat,” kata Huguenin.

Semetara, rekan penulis, Prof. Matthew England, mengatakan bahwa pemanasan laut yang membantu memperlambat laju perubahan iklim itu bukan tanpa biaya.

“Permukaan air laut naik karena panas menyebabkan air mengembang dan es mencair. Ekosistem mengalami tekanan panas yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan frekuensi serta intensitas peristiwa cuaca ekstrem berubah,” kata Prof. England.

lautan antartika
Kehidupan paus di Laut Selatan. / Foto: Christian Aslund / Greenpeace

“Kami masih harus banyak belajar tentang pemanasan laut di luar 50 tahun yang disoroti dalam penelitian kami,” tambah Huguenin.

“Semua proyeksi masa depan, termasuk skenario paling optimis sekalipun, memprediksi lautan tetap akan lebih panas di masa depan,” ujarnya.

“Jika Samudra Selatan terus menyumbang sebagian besar penyerapan panas hingga tahun 2100, kita mungkin melihat kehangatannya meningkat hingga tujuh kali lipat dari apa yang telah kita lihat hari ini,” ujarnya.

Prof. England mengatakan ini akan memiliki dampak yang sangat besar di seluruh dunia termasuk gangguan pada jaring makanan di Samudra Selatan, pencairan cepat lapisan es Antartika dan perubahan sabuk konveyor arus laut.

Para ilmuwan menggunakan pendekatan eksperimental baru untuk menemukan dengan tepat di mana kelebihan panas diambil oleh lautan dan di mana ia berakhir setelah penyerapan. Ini sebelumnya sulit dideteksi karena catatan pengukuran yang relatif jarang dan berumur pendek.

Tim peneliti menjalankan model dengan kondisi atmosfer yang diperbaiki pada 1960-an, sebelum perubahan iklim signifikan yang disebabkan oleh manusia.

Mereka kemudian membandingkan model ini dengan model lain di mana lautan mengalami perubahan iklim selama 50 tahun terakhir di satu cekungan laut pada satu waktu.

Hasilnya mengungkapkan bahwa Samudra Selatan adalah penyerap paling penting dari panas yang terperangkap gas rumah kaca dan sirkulasinya yang didorong oleh angin dan diatur secara unik untuk memaksa kelebihan panas ini masuk ke interior laut.

Untuk lebih memahami bagaimana penyerapan panas Samudra Selatan terus berkembang, para ilmuwan menyerukan pemantauan berkelanjutan dari lautan terpencil ini, termasuk penyebaran pelampung Argo tambahan yang menjangkau lebih jauh yang sangat penting untuk melacak kandungan panas laut. Mereka juga menekankan pentingnya mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Semakin sedikit karbon dioksida yang kita keluarkan ke atmosfer, semakin sedikit perubahan laut dan kenaikan permukaan laut yang akan kita kunci,” kata para penulis.

“Ini dapat membantu membatasi tingkat adaptasi yang dibutuhkan oleh miliaran orang yang tinggal di dekat laut, dengan meminimalkan dampak merugikan dari pemanasan laut pada permukaan laut dan sumber makanan utama mereka.” ujar para peneliti.

Menurut UN Indonesia penyebab krisis iklim antara lain pembuatan energi, manufaktur barang, penebangan hutan, penggunaan transportasi, produksi makanan, penyuplaian energi untuk bangunan, higga gaya hidup manusia yang berlebihan dalam penggunaan energi.***

Baca juga: Alarm Krisis Iklim: Pengasaman Laut Dan Laju Pencairan Es Arktik Yang Semakin Cepat, Periode 1994-2020

Tanggapan