Zona Mati di Laut: Ketika Laut Kehabisan Oksigen
Laut identik dengan kehidupan. Ikan berenang di antara terumbu karang, kerang dan kepiting hidup di dasar perairan, sementara berbagai organisme mikroskopis menjadi bagian penting dari rantai makanan.
Namun, tidak semua bagian laut memiliki kondisi seperti itu.
Di sejumlah wilayah pesisir, kadar oksigen di dalam air dapat turun sangat rendah hingga ikan dan berbagai hewan laut kesulitan bertahan hidup. Wilayah seperti ini dikenal sebagai zona mati (dead zone).
Sederhananya, zona mati adalah wilayah perairan dengan kadar oksigen terlarut yang sangat rendah. Kondisi ini disebut hipoksia. U.S. Environmental Protection Agency (EPA) menggunakan kisaran kurang dari sekitar 2–3 miligram oksigen per liter air sebagai kondisi hipoksia yang dapat membahayakan kehidupan akuatik.
Lantas, bagaimana laut bisa sampai kekurangan oksigen?
Berawal dari Nutrien yang Berlebihan
Salah satu penyebab utama zona mati adalah kelebihan nutrien, terutama nitrogen dan fosfor.
Kedua unsur tersebut sebenarnya dibutuhkan oleh tumbuhan dan organisme mikroskopis untuk tumbuh. Masalah muncul ketika nutrien masuk ke perairan dalam jumlah berlebihan.
Sumbernya bisa berasal dari pupuk pertanian, limbah peternakan, air limbah, maupun limpasan dari wilayah perkotaan. Nutrien tersebut dapat terbawa sungai menuju perairan pesisir.
Kondisi saat perairan menerima nutrien berlebihan disebut eutrofikasi. Nutrien yang melimpah dapat memicu pertumbuhan fitoplankton dan alga secara cepat.
Kelebihan nitrogen dan fosfor dapat menyebabkan pertumbuhan alga secara berlebihan. Ketika alga tersebut mati, proses penguraiannya menggunakan oksigen yang terdapat di dalam air. Jika oksigen terus berkurang, terbentuklah kondisi hipoksia atau zona mati.
Jadi, alga bukan sekadar “menghabiskan” oksigen ketika masih hidup. Persoalan besar justru muncul ketika jumlah alga yang mati dan kemudian diuraikan sangat banyak.

Mengapa Oksigen di Laut Bisa Habis?
Air laut mendapatkan oksigen dari atmosfer dan dari fotosintesis organisme yang hidup di dalamnya. Akan tetapi, oksigen tersebut tidak selalu dapat tersebar merata hingga ke bagian bawah perairan.
Salah satu penyebabnya adalah stratifikasi, yakni terbentuknya lapisan air dengan karakteristik berbeda berdasarkan suhu atau kadar garam.
Bayangkan sebuah gelas berisi air yang tidak mudah tercampur. Jika bagian atas dan bawah memiliki perbedaan karakteristik, pencampuran menjadi lebih sulit. Hal serupa dapat terjadi pada perairan dalam skala yang jauh lebih besar.
Ketika permukaan dan bagian bawah laut sulit bercampur, oksigen dari permukaan lebih sulit mencapai dasar. Pada saat bersamaan, bakteri menguraikan sisa-sisa alga yang tenggelam dan menggunakan oksigen.
Persediaan oksigen pun semakin menipis.
Kondisi seperti ini dapat terjadi secara alami, tetapi aktivitas manusia dapat memperparahnya melalui masuknya nutrien dalam jumlah berlebihan.
Apa yang Terjadi pada Hewan Laut?
Bagi hewan laut, oksigen terlarut sama pentingnya dengan oksigen bagi manusia.
Ketika kadar oksigen mulai turun, ikan dan hewan laut yang mampu bergerak biasanya akan mencari wilayah dengan kondisi yang lebih baik. Masalah lebih serius dihadapi organisme yang bergerak lambat atau hidup menetap di dasar laut.
Kerang, tiram, dan sejumlah organisme dasar laut tidak dapat begitu saja meninggalkan habitatnya.
Maka itu, hipoksia dapat menyebabkan kematian organisme sekaligus mengurangi habitat yang dapat dihuni. Hewan yang masih mampu bertahan juga dapat mengalami gangguan pertumbuhan dan reproduksi.
Sebuah kajian menunjukkan bahwa kekurangan oksigen dapat mengubah komunitas organisme, mengurangi habitat yang tersedia, dan berdampak pada perikanan. Dampaknya bergantung pada seberapa rendah kadar oksigen, berapa lama kondisi tersebut berlangsung, serta kemampuan masing-masing spesies untuk menghindarinya.
Zona Mati Tidak Selalu Berarti Laut Benar-Benar Mati
Istilah “zona mati” terkadang menimbulkan kesan bahwa tidak ada kehidupan sama sekali di wilayah tersebut.
Gambaran itu tidak sepenuhnya tepat.
Beberapa organisme masih mampu hidup dalam kondisi oksigen rendah. Namun, banyak ikan, kerang, dan hewan lainnya tidak dapat bertahan ketika oksigen turun terlalu jauh.
Maka itu, istilah zona mati lebih tepat dipahami sebagai wilayah yang kehilangan kemampuan untuk menopang komunitas kehidupan laut secara normal.
Ada pula perbedaan antara hipoksia dan anoksia. Hipoksia berarti oksigen sangat rendah, sedangkan anoksia menunjukkan kondisi ketika oksigen nyaris tidak tersedia.
Teluk Meksiko dan Sungai Mississippi
Salah satu contoh zona mati yang terkenal berada di Teluk Meksiko, di wilayah yang dipengaruhi aliran Sungai Mississippi.
Air sungai membawa nutrien dari wilayah daratan yang sangat luas. Nutrien tersebut antara lain berasal dari aktivitas pertanian dan sumber lain di sepanjang daerah aliran sungai.
Saat nutrien mencapai Teluk Meksiko, pertumbuhan alga meningkat. Alga yang mati kemudian tenggelam dan diuraikan mikroorganisme. Proses tersebut mengonsumsi oksigen di perairan bawah.
Pada musim panas, kondisi ini diperparah oleh stratifikasi air sehingga oksigen dari permukaan semakin sulit mencapai dasar.
Proses terbentuknya zona mati di Teluk Meksiko telah lama dipelajari. Kajian ini menjelaskan bahwa kombinasi tingginya masukan nutrien, struktur lapisan air, dan kondisi musiman membuat hipoksia terbentuk secara rutin di wilayah tersebut.
Bagaimana dengan Indonesia?
Fenomena kekurangan oksigen tidak hanya terjadi di Amerika Serikat.
Perairan Indonesia juga dapat mengalami kondisi oksigen rendah karena faktor alam maupun aktivitas manusia. Perairan pesisir, misalnya, menerima masukan dari sungai yang membawa berbagai material dari daratan.
Hal ini membuat pengelolaan laut tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan wilayah daratan.
Ketika limbah dan nutrien berlebihan masuk ke sungai, persoalannya tidak berhenti di sungai. Material tersebut dapat terus terbawa menuju muara dan akhirnya memengaruhi ekosistem pesisir.
Maka itu, menjaga kesehatan laut sebenarnya dimulai jauh sebelum air sungai bertemu dengan laut.
Bisakah Zona Mati Dipulihkan?
Zona mati akibat kelebihan nutrien dapat dikurangi, terutama jika sumber masalahnya berhasil dikendalikan.
Caranya bukan dengan mengambil oksigen dari laut, melainkan dengan mengurangi penyebab yang membuat oksigen terkuras.
Penggunaan pupuk secara lebih efisien, pengelolaan limbah peternakan, perbaikan sistem sanitasi, pengolahan air limbah, serta pengurangan limpasan nutrien dari daratan merupakan beberapa langkah yang dapat membantu.
Dengan demikian, persoalan zona mati bukan sekadar persoalan laut. Apa yang dilakukan manusia di daratan pada akhirnya dapat menentukan apakah wilayah pesisir tetap mampu menopang kehidupan atau justru kehilangan oksigennya.
Laut memang sangat luas. Namun, luasnya laut bukan berarti kemampuannya menyerap segala sesuatu tidak terbatas. Ketika nutrien masuk secara berlebihan, alga tumbuh tak terkendali, lalu proses penguraian menghabiskan oksigen, sebuah ekosistem yang semula penuh kehidupan dapat berubah menjadi wilayah yang sulit dihuni. Menjaga laut dari zona mati, dengan demikian, juga berarti menjaga sungai, tanah, dan lingkungan tempat kita hidup sebelum semuanya bermuara ke laut. [ ]
Tanggapan