Coral Bleaching: Tantangan Bagi Eksistensi Terumbu Karang dan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir di Indonesia

Indonesia memiliki kekayaan terumbu karang yang luar biasa. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki terumbu karang terluas di dunia. Dikutip dari laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, saat ini diperkirakan luas terumbu karang di Indonesia mencapai lebih atau setara dengan 18% dari terumbu karang di dunia yang diperkirakan mencapai 284,3 kilometer persegi.

Selain menyuguhkan keindahan secara estetika, eksistensi terumbu karang juga memberikan banyak sekali manfaat, diantaranya yaitu sebagai sumber pangan laut, tempat tinggal bagi berbagai jenis makhluk hidup, menjaga keseimbangan ekosistem laut, melindungi pantai dari abrasi dan kuatnya gelombang laut, dan masih  banyak lagi. Bahkan, manfaatnya tidak hanya bagi kehidupan laut, tetapi juga bagi kehidupan kita sebagai penduduk bumi, salah satunya yaitu membantu menunjang pertumbuhan ekonomi.

Sebagai kekayaan alam Indonesia, terumbu karang tentu harus terus dijaga dan diperhatikan eksistensinya supaya kekayaan alam ini dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang. Akan tetapi, ekosistem terumbu karang kita sedang menghadapi tantangan akan adanya kenaikan suhu di permukaan laut yang dapat berdampak pada pemutihan karang atau biasa disebut juga sebagai coral bleaching.

Coral Bleaching (sumber: BBC)

Apa itu Coral Bleaching?

Coral bleaching adalah suatu fenomena memudarnya warna terumbu karang menjadi putih yang disebabkan oleh tingginya suhu permukaan laut dan sinar ultraviolet (terjadi pemanasan suhu laut). Kondisi tersebut dapat diperparah dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia mengingat laut menyerap sebagian besar (93%) dari peningkatan panas bumi. Kemudian, pemutihan terjadi ketika terumbu karang mengalami stress karena lepasnya alga yang bersimbiosis (zooxanthellae), akibatnya karang menjadi sekarat lantaran tidak memperoleh makanan yang cukup. Apabila kondisi stress tersebut terus berlanjut, maka terumbu karang akan mati (Nur dan Fitrah, 2023: 49).

Berdasarkan riset terbaru yang dilakukan oleh akademisi University of Edinburgh di Inggris, Laurence De Clippele, memaparkan bahwa ratusan ekosistem karang di Indonesia, termasuk karang Gili Matra, akan terdampak pemutihan parah tahunan (annual severe bleaching) akibat perubahan iklim pada 2026. Pemutihan tahunan tersebut akan menyebabkan ekosistem karang menghadapi masa sekarat setiap tahun yang tentu mengancam eksistensi ekosistem terumbu karang. Hasil riset yang dilakukan oleh Laurence dan tim pun telah memperkirakan bahwa akan terjadi pemutihan tahunan secara bertahap di 160 kawasan di Indonesia pada tahun 2075.  Adapun beberapa diantaranya adalah adalah Kawasan Konservasi Perairan Daerah Selat Pantar – Alor di Nusa Tenggara Timur (2026), dan Suaka Alam Perairan Kepulauan Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat (2028). Di sisi lain, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Coral Reef Watch telah memprediksikan bahwa terdapat potensi terjadinya kenaikan suhu air laut pada awal tahun 2024. Maka, dalam hal ini seluruh lapisan masyarakat khususnya para pemangku kepentingan harus memberikan perhatian lebih dan respons secara tanggap akan hal tersebut.

Dampak Coral Bleaching Bagi Kesejahteraan Masyarakat

Terumbu karang yang sehat merupakan fondasi penting bagi ekosistem laut dan masyarakat pesisir di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Sebab, terumbu karang bukan hanya berperan penting bagi spesies laut, melainkan juga berperan penting dalam mendukung ekonomi lokal melalui perikanan dan pariwisata. Orang-orang mengandalkan terumbu karang untuk makanan, pendapatan, dan kesenangan. Ketika terumbu karang memutih dan mati, maka konsekuensi dan dampak yang dirasakan jauh melampaui laut, mengancam kesejahteraan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat yang bergantung padanya terutama bagi sektor perikanan dan pariwisata masyarakat setempat. Sebab, sekitar 60% dari total populasi di Indonesia bermukim di kawasan pesisir sehingga bergantung pada ekosistem karang yang sehat.

Kerusakan terumbu karang yang terjadi akibat coral bleaching dapat dengan cepat menghilangkan banyak fitur yang mendukung daya tarik estetika bagi pariwisata terumbu karang. Kemudian, hilangnya pendapatan yang diperoleh dari aktivitas wisata dapat mengancam sektor pariwisata dan mata pencaharian masyarakat lokal. Dalam hal ini, akan ada banyak masyarakat pesisir yang bergantung pada pariwisata sebagai sumber utama pendapatan mereka akan terkena imbasnya.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, terumbu karang menyediakan habitat bagi banyak spesies ikan dan biota laut lainnya yang penting sebagai sumber pangan bagi masyarakat pesisir. Ketika terumbu karang memutih dan mati, maka populasi ikan dan organisme laut lainnya akan menurut, yang pada gilirannya akan mengurangi hasil tangkapan nelayan. Hal ini berdampak langsung pada ketahanan pangan dan pendapatan masyarakat nelayan.

Selanjutnya, coral bleaching juga berdampak pada penurunan perlindungan pesisir. Sebab, terumbu karang berfungsi sebagai pelindung alami yang mengurangi dampak gelombang dan badai terhadap garis pantai. Dalam hal ini, pemutihan terumbu karang melemahkan struktur tersebut sehingga meningkatkan risiko erosi pantau dan kerusakan akibat badai. Akibatnya, masyarakat pesisir menjadi lebih rentan terhadap bencana alam yang dapat mengakibatkan kerugian material dan infrastruktur.

Kerusakan terumbu karang akibat coral bleaching juga dapat berimbas pada kerugian ekologis dan kesehatan lingkungan. Terumbu karang yang sehat menunjang keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Dalam hal ini, pemutihan terumbu karang mengurangi keanekaragaman tersebut, yang pada gilirannya dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut. Lalu, ekosistem yang terganggu berdampak pada kualitas lingkungan hidup masyarakat pesisir, termausk kualitas air dan kesehatan lingkungan secara keseluruhan.

Kemudian yang tidak kalah penting, coral bleaching juga berdampak pada aspek sosial dan budaya. Terumbu karang tentu memiliki nilai sosial dan budaya yang signifikan bagi banyak komunitas pesisir. Mereka sering kali terintegrasi dalam tradisi, identitas, dan praktik budaya lokal. Dalam hal ini, pemutihan terumbu karang akan mengancam kelangsungan tradisi ini dan dapat menyebabkan hilangnya warisan budaya yang penting bagi komunitas.

Upaya Menekan Coral Bleaching Demi Menjaga Eksistensi Terumbu Karang dan Pemberdayaan Masyarakat

Terumbu karang yang sudah memutih akan sulit untuk pulih apabila kondisi sekitar tidak mendukung, contohnya seperti penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dengan menggunakan bom dan potasium, polusi perairan, ataupun pariwisata berlebihan dan tidak bertanggung jawab  yang berpotensi merusak terumbu karang. Sebab, kondisi-kondisi tersebut dapat menghasilkan getaran dan tekanan serta mempengaruhi suhu air di sekitar terumbu karang yang tentu dapat emmicu coral bleaching. Maka, dalam hal ini para pemangku kepentingan dapat bekerja sama dengan LSM ataupun komunitas lokal untuk menyusun dan menerapkan regulasi yang ketat terkait penangkapan ikan, penggunaan bahan kimia, serta pembangunan di sekitar kawasan terumbu karang.

Selanjutnya, ekowisata dapat menjadi solusi yang efektif dalam menjaga kelestarian terumbu karang di Indonesia. Dengan memanfaatkan potensi ekowisata, kita dapat memberikan ruang kepada masyakat lokal untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan dan memperoleh manfaat ekonomi sekaligus. Ekowisata dapat dijadikan sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal, yang kemudian sebagian dari pendapatan ekowisata tersebut dapat dialokasikan untuk proyek konservasi terumbu karang, seperti restorasi dan pemantauan. Ekowisata juga dapat mendorong praktik wisata yang ramah lingkungan, contohnya seperti pemanfaatan peralatan snorkeling dan diving yang tidak merusak, serta pembatasan jumlah pengunjung untuk mengrangi tekanan pada ekosistem.

Upaya untuk menekan coral bleaching juga dapat dilakukan dengan penetapan kawasan konservasi untuk melindungi terumbu karang dari aktivitas manusia dan melakukan upaya restorasi dengan metode transplantasi karang, di mana fragmen karang yang sehat ditanam kembali di area yang terdegradasi. Adapun tujuan penting dari transplantasi terumbu karang yaitu untuk mempertinggi tutupan terumbu karang hidup, dari keanekaragaman biologi dan keunikan bentuk topografi karang (Nur dan Fitrah, 2023: 52).

Kemudian, mengurangi emisi juga tidak kalah penting untuk menekan coral bleaching. Dikutip dari laman theconversation.com, seoring peneliti sumber daya pesisir dan pengelolaan lingkungan di Institut Pertanian Bogor, Yonvitner, menjelaskan bahwa aktivitas manusia di darat menjadi akar penyebab pemanasan yang berdampak pada pemutihan karang di laut, contohnya seperti penebangan hutan yang melepaskan gas rumah kaca. Maka, untuk mengatasi coral bleaching, penting bagi kita untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui penggunaan energi terbarukan dan peningkatan efisiensi energi untuk meminimalkan dampak perubahan iklim terhadap terumbu karang.

Dengan kombinasi dari pendekatan-pendekatan di atas, maka diharapkan terumbu karang dapat dilestarikan, coral bleaching dapat ditekan, dan masyarakat lokal dapat memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan dari ekosistem laut yang sehat.***

Sumber:

De Clippele, Laurence H., et al. (2023). Evaluating annual severe coral bleaching risk for marine protected areas across Indonesia. Marine policy148, 105428.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2024, 7 Juni). “Fakta Menarik Laut Indonesia, Memiliki Terumbu Karang Terluas di Dunia”. https://kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/fakta-menarik-laut-indonesia-memiliki-terumbu-karang-terluas-di-dunia.

Maqomma, Robby Irfany. (2023, Oktober 31). “Lebih dari separuh kawasan lindung karang Indonesia bakal alami pemutihan massal pada 2044 akibat perubahan iklim”. Theconversation.com. https://theconversation.com/lebih-dari-separuh-kawasan-lindung-karang-indonesia-bakal-alami-pemutihan-massal-pada-2044-akibat-perubahan-iklim-215721.

Nur, F., & Fitrah, S. (2023). Penanggulangan Penyebab Terjadinya Pemutihan Terumbu Karang Di Perairan Bulukumba. Riset Sains dan Teknologi Kelautan, 47-52.

Artikel Terkait

Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

Tanggapan