Mengenal 12 Ekoregion untuk Menggambarkan Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia dan Prioritas Konservasi

Ekoregion /

Ekoregion Laut Dunia (ELD)/marine ecoregions of the world (MEOW) didefinisikan oleh Spalding dkk. (2007) sebagai dasar penataan batas. Terdapat 12 ekoregion laut di Indonesia yang ditetapkan melalui model klasifikasi ELD.

Proses penentuan ini menggunakan tiga kombinasi kriteria yang umum digunakan yaitu Irreplaceability (ketidaktergantikanan), Vulnerability (kerentanan), dan Representativeness (keterwakilan).

Melansir buku yang berjudul “Prioritas Geografi: Keanekaragaman Hayati Laut untuk Pengembangan Kawasan Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia” diungkapkan peringkat dari masing-masing ekoregion yang telah dinilai oleh para pakar untuk prioritas konservasi di Indonesia.

Ekoregion /
Peta memperlihatkan 12 ekoregion laut Indonesia yang telah ditetapkan berdasarkan skema klasifikasi
dalam Ekoregion Laut Dunia yang digambar ulang dari Spalding dkk. (2007)
./Sumber: birdheadseascape.com

1. Papua Paling Banyak Mendapat Peringkat Teratas untuk Prioritas Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut di Indonesia

Papua merupakan puncak keanekaragaman hayati terumbu karang yang penting dengan sejumlah binatang, habitat dan clade (kelompok taksa/jenis yang memiliki sifat yang sama yang diwariskan dari nenek moyangnya) genetik yang sulit ditemukan di seluruh Indonesia, termasuk sejumlah jenis ikan endemik, karang dan stomatopoda, juga merupakan tempat membesarkan anak paus sperma, tempat bertelur Penyu belimbing Pasifik terluas di dunia, tempat bertelur utama penyu hijau.

Terdapat pula jenis paus bryde, serta populasi duyung dan buaya muara. Rendahnya kepadatan populasi manusia menambah potensi konservasi di wilayah ini, demikian pula berbagai kegiatan eksploitasi yang sedang berlangsung meningkatkan urgensi untuk melakukan upaya konservasi laut di wilayah ini.

2. Laut Banda Menempati Peringkat Kedua untuk Prioritas Konservasi di Indonesia

Hal ini didasarkan pada tingginya keragaman jenis dan habitat terumbu karang, termasuk habitat laut dalam yang dekat dengan pantai, yang langka di seluruh dunia.

Laut Banda juga berperan strategis dalam hubungan berdasarkan pola-pola arus, dan berperan penting dalam siklus hidup penyu dan jenis Cetacean oseanik yang sangat terancam kepunahannya seperti paus biru.

Sebagai cekungan yang sangat dalam, Laut Banda berfungsi memberikan perlindungan penting bagi terumbu karang selama turunnya tingkat permukaan laut di masa lalu. Di masa depan mungkin ekoregion Laut Banda akan memiliki peran yang vital di mana perubahan iklim global akan memanaskan laut-laut yang dangkal.

Seperti di Papua, tingkat kepadatan populasi manusia di Laut Banda relatif rendah. Namun Laut Banda mendapat tekanan penangkapan ikan yang berat sehingga menjadikannya dalam status bahaya.

3. Nusa Tenggara Menduduki Tempat Ketiga

Selain memiliki keragaman dan tingkat keendemikan yang sangat tinggi yang hanya bisa dilampaui oleh Papua, Nusa Tenggara berfungsi sebagai koridor migrasi yang sangat penting bagi berbagai jenis mahluk hidup laut besar yang bermigrasi (termasuk Cetacean dan jenis ikan pelagis komersial yang penting).

Mereka bergerak antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik melalui berbagai terusan dekat pantai dan laut dalam di antara pulau-pulau.

Adanya coldwater upwellings yang terbentuk di sepanjang pesisir Nusa Tenggara bagian Selatan dan dapat menyangga wilayah ini dari perubahan Iklim. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, kawasan ini juga memiliki produktivitas primer yang sangat tinggi yang menjadi dasar bagi rantai makanan yang kaya, yang dapat menopang kehidupan berbagai jenis ikan pelagis dan Cetacean besar, termasuk paus biru.

4. Laut Sulawesi/Selat Makassar Menempati Peringkat Keempat dalam Prioritas Konservasi

Hal ini mengacu pada perannya yang utuh antara lain dalam hubungan dan penyebaran larva melalui Arlindo (Indonesian Throughflow), kekayaan jenisnya yang sangat tinggi, kepentingannya bagi Cetacean dan keragaman taksonomi dan keterwakilan genetik yang tinggi di seluruh Indonesia.

Infrastruktur dan kapasitas di Taman Nasional Bunaken yang ada saat ini seharusnya menjadi dasar pengembangan ukuran-ukuran konservasi tambahan, termasuk pembentukan sebuah jejaring Kawasan Konservasi Perairan (KKP) dari Utara sampai ke Selatan dan membentuk “koridor penghubung” melalui Selat Sulawesi.

5. Halmahera Menempati Peringkat Kelima Prioritas Konservasi

Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan keragaman habitat, keterwakilan fauna Asia dan Australia, dan juga berperan penting dalam menghubungkan antara Papua dan Sulawesi.

Beberapa pakar menyarankan agar Halmahera seharusnya dilihat sebagai perpanjangan dari Bentang laut Kepala Burung di dalam ekoregion laut Papua.

6. Ekoregion Palawan/Borneo Utara, yang Mencakup Perairan di Indonesia, Malaysia, dan Filipina, Menempati Peringkat Keenam untuk Prioritas Konservasi

Keanekaragaman hayati di ekoregion ini merupakan bagian dari keanekaragaman hayati ekoregion
lain di sekitarnya, terutama dari Laut Sulawesi/Selat Makassar yang mendapat peringkat lebih tinggi.

Hutan bakau dan padang lamun yang luas di ekoregion ini amat mendukung kehidupan Pesut Irrawaddy
yang terancam punah, pesut tak bersirip, burung-burung laut dan penyu.

Ekoregion ini secara global sangat penting bagi populasi Penyu Hijau dan Penyu Sisik. Bahkan KKP Berau di Kalimantan Timur telah menjadi rumah bagi kelompok bertelur Penyu Hijau yang terbesar di Asia Tenggara.

7. Sumatera Bagian Barat Menempati Peringkat Ketujuh dalam Prioritas Konservasi Laut

Ekoregion ini disadari sebagai wilayah ekoregion yang memiliki data keanekaragaman hayati yang paling kurang di Indonesia.

Walaupun keanekaragaman hayati tidak disurvey dengan baik, kebanyakan para pakar setuju bahwa Sumatera bagian Barat merupakan rumah bagi pertumbuhan terumbu karang yang terbaik dan berbagai tipe habitat terumbu karang terluas di sepanjang pantai Samudera Hindia (Indonesia). Lebih baik dari ekoregion lainnya.

Dari perspektif keragaman genetik, Sumatera bagian Barat bahkan diyakini menempati tempat kedua terpenting setelah Papua. Wilayah ini juga memiliki jenis dengan silsilah genetik yang berbeda yang tidak
dijumpai di mana pun di Indonesia.

Seluruh enam jenis penyu yang dijumpai di Indonesia mencari makan dan bertelur di sini, walaupun pola-pola penggunaan ruang antar mereka tidak banyak diketahui.

Ekoregion ini diberi peringkat sebagai wilayah dengan prioritas paling mendesak untuk menjadi target lokasi survey agar mendapatkan pemahaman lebih baik akan status keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya.

Banyak diantara pakar yang ada yang memberikan catatan bahwa peringkat kawasan ini berpotensi untuk naik bila dilakukan survey lebih lanjut.

8. Ekoregion Timur Laut Sulawesi/Teluk Tomini Merupakan Peringkat Kedelapan Pioritas Konservasi Laut

Hal ini berdasarkan tingginya keanekaragaman hayati, clade genetik yang berbeda dan taksa endemik, terutama di Kepulauan Togean.

Perwakilan keanekaragaman hayati Teluk Tomini sudah tercakup dalam sebagian besar kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Togean.

9. Ekoregion Dangkalan Sunda/Laut Jawa Menempati Peringkat Kesembilan untuk Prioritas Konservasi Laut

Wilayah ini dicirikan dengan terumbu karang tepi yang baru terbentuk sejak akhir zaman es, dengan kekayaan jenis yang relatif rendah dan hampir tidak ditemukan organisme endemik.

Faktor penekan utama antara lain aliran air tawar, aliran sedimentasi yang masuk, dan dampak antropogenik . Meskipun demikian, wilayah ini tetap menjadi lokasi mencari makan dan bertelur yang penting untuk Penyu Hijau dan Penyu Sisik, dan mungkin tempat bertelur penting bagi Penyu Sisik di Asia Tenggara yang terletak di Kepulauan Anambas dan Natuna.

Ekoregion ini juga merupakan rumah dari hamparan bakau yang penting. Dangkalan Sunda/Laut Jawa merupakan jalur terbang yang penting bagi burung-burung yang bermigrasi di sepanjang pesisir Timur Sumatera.

Akhirnya, meskipun wilayah ini miskin akan jenis biota yang berasosiasi dengan terumbu karang, tetapi memiliki keragaman jenis fauna berdasar lunak yang tinggi, termasuk stomatopoda dan infauna bentik lainnya.

10. Laut Arafura Menempati Peringkat Kesepuluh untuk Prioritas Konservasi Laut

Hal ini disebabkan karena tingkat pertumbuhan terumbu karang yang rendah dan karena itu berpengaruh pada keanekaragaman hayatinya rendah, baik secara genetik maupun taksonomi. Namun demikian, beberapa tegakan bakau yang paling beragam dan paling luas di dunia dapat dijumpai di sepanjang pesisir Selatan Papua.

Bakau ini umumnya miskin variabilitas habitat tetapi secara global memiliki peran penting bagi komunitas bakau dan lamun dalam mendukung kehidupan burung-burung laut, duyung, penyu, buaya muara, hiu paus dan mungkin hiu gergaji yang terancam punah.

Paparan luas yang dangkal dan memiliki pantai berhutan ini diyakini sebagai habitat utama dan belum terganggu untuk jenis Cetacean pesisir.

Laut Arafura juga merupakan salah satu rumah yang sangat penting bagi kelompok bertelur Penyu hijau di Indonesia (di Kepulauan Aru), dan merupakan tempat mencari makan penting bagi Penyu sisik, Penyu lekang dan mungkin Penyu pipih yang bermigrasi. Namun karena kawasan ini belum dikenal dengan baik, amat penting untuk melakukan survey lebih lanjut .

11. Jawa Bagian Selatan Merupakan Peringkat Kesebelas untuk Prioritas Konservasi Laut

Seperti telah umum diketahui, wilayah ini miskin kekayaan jenis, di mana semua jenisnya dapat juga ditemukan di ekoregion Sumatera bagian Barat sampai ke ekoregion Nusa Tenggara, dimana keduanya mendapat prioritas yang lebih tinggi.

Kondisinya yang sangat curam, tutupan terumbu karangnya rendah, energi gelombang yang tinggi dan dasar lautnya bergelombang telah membatasi kegiatan perikanan di wilayah ini. Namun demikian, kegiatan perikanan di kawasan pesisir masih dapat dilakukan dengan intensitas yang tinggi.

Kawasan ekoregion ini sangat penting bagi penyu (hijau, sisik, belimbing dan lekang yang bertelur di sepanjang pantai Jawa bagian Selatan), dan laguna Cilacap/Segera Anakan yang secara lokal sangat berarti bagi tegakan bakau yang juga penting bagi jenis burung-burung laut.

12. Selat Malaka Mendapat Peringkat Terendah dari ke-12 Ekoregion untuk Prioritas Konservasi Laut

Ekoregion ini merupakan habitat perairan dangkal unik yang secara global penting bagi banyak jenis burung laut, dan menjadi koridor yang berpotensi untuk penyebaran fauna antara Indonesia dengan Samudera Hindia bagian Timur.

Namun kawasan ini juga sangat miskin akan keragaman terumbu karang dan sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia, sedimentasi, dan polusi karena lokasinya dekat dengan pusat populasi besar dan jalur pelayaran di Selat Malaka.

Baca juga: 5 Fakta Indonesia dan Terumbu Karang

Sumber: Buku Prioritas Geografi: Keanekaragaman Hayati Laut untuk Pengembangan Kawasan Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia Tahun 2012

Artikel Terkait

Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

Overfishing dan Kekeringan Laut

Peningkatan suhu global menyebabkan peningkatan penguapan air dari permukaan laut, yang pada gilirannya meningkatkan konsentrasi garam dalam air laut. Kekeringan laut terjadi ketika air laut menguap lebih cepat daripada yang dapat digantikan oleh aliran air segar, seperti dari sungai-sungai atau curah hujan. Akibatnya, air laut menjadi lebih asin dan volume air laut berkurang.

Tanggapan