Laut: Ladang Penghasilan Nelayan, Akankah Direnggut Sampah?

Ditulis Oleh:

Mendengar laut, jadi mengingat nelayan dan perjuangannya. Laut menjadi sahabat karib nelayan setiap harinya. Ketenangan ombak pun selalu dinantikan dan menjadi harapan. Nelayan mengais rezeki rupiah untuk beberapa nyawa dirumah yang jadi tanggungan.

Nelayan menghabiskan siang dan malam untuk mengambil ikan di tengah lautan. Perahu dan peralatan penangkapan ikan yang menemani. Demi kehidupan sanak family yang dipikulnya. Nyawa pun rela ia korbankan.

Namun, kini banyak media yang mewartakan sampah plastik berserakan di laut nan biru. Sampah plastik tidak mudah terurai. Gunungan sampah sebagi akibat ulah tangan-tangan jahil. Kondisi tersebut dapat menciptakan pencemaran laut di mana-mana. Misalnya peristiwa Paus Cuvier pada tahun 2017 silam, ditemukan sampah plastik di dalam perutnya.

Kehidupan ikan juga akan tercemar dan mati. Sehingga, sampah plastik yang mengendap dalam tubuh ikan dapat membawa racun ke dalam ikan yang dikonsumsi. Selain itu, rumput laut dan terumbu karang akan sulit untuk dibudidayakan.

Sampah plastik menjadi masalah yang serius. Pemerintah Indonesia sendiri belum dapat menyelesaikan perosalan sampah plastik. Temuan sampah plastik di lautan menjadi perkara yang harus ditangani. Apabila tidak segera ditangani dampaknya akan semakin besar. Bahkan, hingga berdampak pada kemusnahan habitat kehidupan laut.

Masyarakat masih menggunakan plastik untuk aktivitas sehari-hari. Ihwal tersebut tidak dapat dipungkiri lagi. Persoalan penggunaan plastik di lingkungan masyarakat tidak mudah untuk dihindari. Sulit bagi masyarakat dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik guna meninggalkan plastik.

Sebagai negara kepulauan Indonesia tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar peringkat kedua di dunia setelah negara tirai bambu. Sungguh hal yang “luar biasa” bukan? Setiap tahun Indonesia mendermakan sampah plastik lebih kurang 3,2 juta ton (sumber: cnnindonesia.com).

Rasa di hatipun merasa sungguh miris melihat kondisi yang demikian. Terutama, ketika memandang kesadaran masyarakat terhadap lingkungan masih minim. Pencemaran laut akibat sampah plastik dilakukan tangan yang tidak tahu doa dan tanpa rasa bersalah. Dengan sesuka hati mereka membuang sampah ke sungai. Aliran sungai akan bermuara ke laut.

Laut menjadi zona khusus bagi masyarakat yang hidup di pesisir pantai. Melalui melaut mereka menyambung hidup. Dari hasil penangkapan ikan mereka manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan. Mulai siang bolong hingga fajar datang nelayan masih disibukan dengan aktivitas di lautan.

Apabila laut sudah tercemar yang dibawa oleh sampah plastik, ekosistem laut akan terancam punah. Jika sudah punah mata pencaharian nelayan akan menghilang dan pendapatan pun berkurang.

Pendapatan rumah tangga menjadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi. Di mana pertumbuhan ekonomi diukur melalui produk domestik bruto (PDB). Salah satu indikator dari perhitungan produk domestik bruto yaitu sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikan. Sektor tersebut menjadi sebuah satu kesatuan.

Jumlah PDB akan berkurang jika penghasilan nelayan juga berkurang. Karena, dari sisi pendekatan produksi (sektor perikanan) dan pendekatan pendapatan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kedua pendekatan tersebut akan meghasilkan angka yang sama dan saling memiliki korelasi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi.

Mengingat bahwa masyarakat yang tinggal di pesisir menembus lebih kurang 140 juta penduduk. Sumber daya yang berada di pesisir mampu memberikan kontribusi seperempat dari keseluruhan aktivitas ekonomi Indonesia terhadap gross domestic bruto (GDP). Kerusakan laut akan menciptakan kesusahan berjuta-juta nyawa dalam memberikan penghidupan atas diri dan keluarganya.

Pertanyaan besar masih terngiang di benak, kapankah Indonesia bebas dari sampah plastik? Setidaknya, kapan sampah plastik dapat berkurang dari pengkonsumsian masyarakat? Selanjutnya, bagaimana cara yang efektif untuk diimplemetasikan di negara kemaritiman ini dalam hal penghilangan sampah plastik?

Pertanyaan di atas belum terjawab secara maksimal. Oleh sebab itu, mulailah dari diri sendiri guna mengurangi penggunaan sampah plastik. Misalnya, menggunakan benda-benda yang kegunaanya tidak sekali pakai. Selain itu, alangkah baiknya memisahkan setiap jenis sampah dari hasil konsumsi secara pribadi.

Walaupun terbilang sulit perihal tersebut patut dicoba demi kebaikan bumi. Pihak pemerintah juga harus memberikan sanksi yang tegas bagi yang melanggar. Semua akan berjalan atas bantuan semua pihak. Mampukah Negara Kepulauan mempertahankan dan melestarikan kelangsungan hidup sumber daya alam dan manusia di dalamnya?

Editor : Annisa Dian N.

Baca Juga:

Scroll to Top