Kolaborasi Masyarakat Demi Wujudkan Pesisir Bebas Sampah Plastik

Menurut Arisaputra (2015) pesisir adalah zona atau kawasan peralihan di mana terjadi pertemuan antara ekosistem di daratan dan ekosistem di laut yang mendapatkan pengaruh oleh suatu perubahan di daratan dan di laut.

Di kawasan pesisir ini merupakan kawasan yang penting dalam ekosistem. Namun tanpa kita sadari, kawasan pesisir ini biasanya ditemukan beberapa sampah yang dapat memberikan dampak pada ekosistem dan biota di sekitar. Salah satu sampah tersebut adalah sampah plastik. Sampah laut yang terdapat di perairan, sampah plastik merupakan jenis sampah yang paling umum dan banyak dijumpai serta merupakan sampah yang memiliki resiko dan memberikan dampak kepada organisme yang ada di perairan, khususnya di laut (NOAA, 2015).

Sampah plastik ini apabila terakumulasi dan menumpuk akan menjadi sebuah timbunan yang dapat merusak estetik dan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan. Di sisi lain apabila sampah plastik ini masuk ke laut, dapat memberikan dampak yang serius kepada biota laut. Hal ini dikarenakan beberapa sampah plastik memiliki sifat tidak mudah untuk diuraikan dan atau membutuhkan waktu yang lama agar dapat terurai.

Menurut Geneva Environment Network (2024) sampah plastik menjadi salah satu topik yang dibahas dalam suatu agenda di Majelis Lingkungan Hidup PBB selama beberapa tahun. Untuk menanggulangi problem sampah plastik ini, diperlukan kekuatan dan kesadaran yang tinggi dalam upaya melestarikan dan menjaga laut dari kerusakan terutama yang disebabkan oleh sampah plastik.

Greenpeace bersama dengan masyarakat memberikan kontribusi berupa aksi nyata dalam mengurangi sampah plastik yang ada di pesisir. Aksi ini merupakan kolaborasi antara beberapa komunitas dan masyarakat.

Aksi ini merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat dengan tujuan untuk lebih peduli terhadap lingkungan khususnya di wilayah pesisir. Kegiatan aksi yang dilakukan oleh Greenpeace sudah berjalan sejak lama dan dilaksanakan di beberapa lokasi. Lokasi tersebut berada di dalam dan luar negeri.

Untuk aksi yang berada di dalam negeri telah dilaksanakan oleh Greenpeace yaitu Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Tangerang, Semarang, Mataram, Bali dan beberapa wilayah lainnya di Indonesia. Dalam aksinya kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan respon positif dari masyarakat. Apabila kegiatan ini dapat berjalan secara periodik dan dilaksanakan bersama sama dengan masyarakat, harapannya kawasan pesisir akan terus terjaga dan laut kita tidak tercemar oleh sampah plastik.

Sumber Dokumentasi: Greenpeace

Kegiatan aksi bersih pantai agar bebas dari sampah plastik, merupakan salah satu kampanye dalam rangka upaya menciptakan kesadaran masyarakat tentang pentingnya lingkungan pesisir, sehingga laut kita tetap bersih dan tidak tercemar. Upaya – upaya ini dapat dimulai dari sosialisasi kepada masyarakat kemudian dilaksanakan melalui gerakan aksi nyata kegiatan bersih pantai dari sampah plastik di pesisir.

Menurut Arico dan Sri (2017) limbah plastik dapat diolah menjadi produk kreatif yang mampu memberikan nilai ekonomi untuk masyarakat pesisir. Hal ini sejalan dengan metode yang biasa kita dengar, yaitu 3R (Reuse, Reduce, Recycle).

Reuse adalah menggunakan kembali barang – barang atau benda yang terbuat dari plastik, dengan harapan dapat mengurangi volume sampah plastik yang ada. Reduce adalah mengurangi kuantitas dalam pembelian atau penggunaan barang – barang yang berbahan dari plastik. Recycle adalah proses melakukan daur ulang barang – barang yang terbuat dari plastik, dimana hasil produk dari daur ulang tersebut dapat digunakan kembali.

Menurut Putra (2010) keunggulan dari plastik yaitu produk yang ringan, fleksibel, sangat mudah dibentuk, tidak mudah berkarat, dapat diberikan variasi warna, memiliki sifat isolator terhadap panas dan listrik yang baik. Salah satu contoh produk daur ulang berbahan plastik yaitu ecobrick.

Ecobrick ini merupakan kerajinan tangan yang memiliki proses pembuatannya cukup sederhana dan dapat kita prakterkan dengan mudah. Masyarakat pesisir yang telah melakukan upaya pengurangan dampak sampah plastik dengan ecobrick yaitu masyarakat di Wilayah Pesisir Huangobotu (Nurfadillah et al., 2022).

Kawasan pesisir pantai merupakan kawasan yang sangat penting, karena merupakan kawasan dimana bertemunya daratan dan laut. Apabila kawasan pesisir dapat dikelola dengan baik, maka kawasan tersebut akan tetap terjaga dan laut kita pun akan tetap sehat. Selain itu, kawasan pesisir biasanya juga dijadikan sebagai tempat wisata untuk melepas penat dari rutinitas aktivitas sehari hari, sumber mata pencaharian sebagai peningkatan ekonomi masyarakat pesisir dan sebagainya.

Melalui tulisan artikel ini, diharapkan dapat memberikan dampak yang positif kepada masyarakat dan generasi selanjutnya. Dampak positif tersebut berupa kesadaran, kemauan dan aksi nyata masyarakat dan generasi selanjutnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan khususnya lingkungan pesisir.

Hal ini dikarenakan apabila bukan kita yang menjaga lingkungan ini, lalu siapa lagi ? Kesadaran tersebut bisa dimulai dari diri kita sendiri. Semakin banyak masyarakat yang peduli maka semakin sehat laut dan pesisir kita.***

Baca juga: Melindungi Kekayaan Laut: Harmoni Alam dan Peran Budaya Manusia

Sumber:

Arico, Z. dan Sri Jayanthi. 2017. PENGOLAHAN LIMBAH PLASTIK MENJADI PRODUK KREATIF SEBAGAI
PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR. Fakultas Teknik Universitas Samudra, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samudra. MARTABE : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1 Nomor 1 Tahun 2017

Arisaputra, M. I. 2015. Penguasaan Tanah Pantai dan Wilayah Pesisir di Indonesia. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makasar

Geneva Environment Network. 2024. International Cooperation on Plastic Pollution | Plastics and the Environment Series

Greenpeace. 2018. https://media.greenpeace.org/Detail/27MZIFJWQ1IB8
__________.2022. https://media.greenpeace.org/Detail/27MDHUF66UUY

NOAA. 2015. Turning The Tide On Trash. A Learning Guide On Marine Debris. NOAA PIFSC CRED.

Nurfadillah, A.R , Sabrina N Mohamad dan Nur Ayini S. Lalu. 2022. Upaya Pengurangan Sampah Plastik dengan Menggunakan Metode Ecobrick di Wilayah Pesisir Huangobotu. Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan

Putra, H. P dan Yebi, Y. 2010. Studi Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Produk dan Jasa Kreatif. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. Vol. 2 No. 1

Artikel Terkait

Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

Tanggapan