Lindungi Ekosistem Laut Sebagai Bentuk Kepedulianmu!

Setiap kali Ibu kita pergi berbelanja ke pasar ataupun minimarket pasti alat untuk membawa barang belanjaannya terbuat dari plastik, bukan?

Apakah kamu pernah bertanya kepada ibumu apa alasannya untuk menggunakan plastik setiap kali membawa barang belanjaan?

Jika pernah, kemungkinan ibumu akan menjawab “plastik itu ringan, fleksibel, dan murah bahkan gratis”. Kemudian, apakah kamu tahu setelah dipakai plastik tersebut kemanakah plastik itu singgah terakhir?

Apakah kalian mengetahuinya? Sebelum bertanya ke ibu kalian lihat sekeliling dapur dimanakah ibumu menaruh plastik bekas membawa belanjaan tadi. Kalau tidak menemukannya coba tanya ke ibumu.

Andai ibumu menjawab sudah dibuang ketempat sampah, apakah kamu tahu setelahnya mereka akan dibawa kemana? Tunggulah sampai petugas kebersihan mengangkut sampah tesebut.

Lalu tanyakan ke petugasnya, akan di bawa kemanakah sampah – sampah ini? Kalau perlu kamu bisa ikut ke tempat pembuangan sampah sementara. Mungkin kamu akan terkejut melihat sampah – sampah tersebut.

Jika kamu tidak mengetahui apa itu sampah plastik, dikutip dari situs Daihatsu.co.id menyatakan bahwa sampah plastik merupakan segala barang bekas yang tidak terpakai materialnya diproduksi dari bahan kimia yang tidak terbarukan. Bahan plastik biasanya berasal dari minyak, gas alam, dan batu bara.

Sampah plastik yang tidak diolah akan sangat berbahaya dan mengancam kehidupan makhluk hidup. Kandungan bahan kimia di dalam plastik yang terkubur di dalam tanah akan berinteraksi dengan air, kualitasnya akan menurun.

Plastik yang tertimbun tanah dapat menghalangi pergerakan makhluk dalam tanah yang dapat menyuburkan tanah (cacing). Tanah juga rentan terhadap racun berbahaya. Dilansir dari situs dlh.bulelengkab.go.id mengungkapkan bahan dari pembuatan plastik, (umumnya polimer polivinil) yang terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) uang mempunyai struktuk seperti DDT (Dichoro Diphenyl Trichlorethane).

Plastik membutuhkan waktu sekitar 100 hingga 500 tahun untuk bisa di urai. Coba kalian pikirkan sejenak apakah ada manusia yang akan hidup dalam rentang waktu tersebut?

Aktivitas Anak - anak sedang mengumpulkan sampah di Teluk Manila

Sampah plastik tidak hanya menyerang daerah daratan saja, lautanpun mereka libas dengan kencang. Terhitung oleh Dinas Lingkungan Hidung (LH) Kepulauan Seribu mengumpulkan sampah sebanyak 28 ton dalam dua hari di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Hanya dua hari saja mereka bisa mengumpulkan 28 ton, bagaimana jika hal ini terjadi sepanjang hari, minggu, bulan, dan tahun atau bahkan dari tahun sebelumnya? Bayangkan betapa kenyangnya lautan menampung sampah – sampah tersebut di dalam perutnya.

Diketahui luas lautan dibumi hanya mencakup wilayah seluas 361,1 juta kilometer persegi dengan volume sebesar 1.335.000.000 kilometer kubik yang mencakup sekitar 96,5 persen seluruh air di bumi. Besar lautan bumi tidak akan melebar atau meluas begitu saja, jika ada pergerakan mungkin memerlukan waktu yang sangat lama. Tidak sebanding dengan pergerakan sampah plastik yang begitu cepat.

Dari contoh tadi saja hanya dua hari untuk mendapatkan 28 ton banyaknya. Menurut Muhammad Reza Cordova seorang Peneliti Oseanografi LIPI mengatakan, terdapat kajian yang menyebutkan, di tahun 2050 berat ikan di laut (dunia) lebih ringan dari berat sampah yang ada di lautan.

Dikutip beritasatu.com Indonesia sendiri termasuk negara maritim yang mengandalkan sektor perikanan untuk memberi pemasukan terhadap kas negara. Luas lautan Indonesia memilki 6,4 juta kilometer persegi, yang mana memiliki potensi mencapai US$ 1,3 triliun per tahun atau 5 kali lipat dari tahun sebelumnya sebesar US$ 190 miliar, ujar Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP Syarief Widjaja dalam webinar pada Selasa, 8 Septmber 2020.

Setelah kita mengetahui besarnya potensi yang dimiliki Indonesia dari sektor perikanan dan kelautan. Apakah pernah terpikir dibenak kalian, jika lautan penuh dengan sampah plastik dan mengendap di dasar laut, bagaimana kondisi terumbu karang, ikan – ikan dan biota laut lainnya?

Mari kita melanjutkan renungan kalian dengan pembahasan dari penulis. Sampah platik sebelum masuk ke dasar laut mereka akan mengapung di atas perairan, kemudian turun di tengah lautan, dan akhirnya jatuh ke dasar laut. Sampah plastik yang mengapung di atas perairan akan mencegah masuknya sinar matahari yang dapat membunuh hewan yang hidup  memerlukan cahaya matahari seperti halnya plankton.

Sifat plastik yang mengambang, transparan, serta melambai – lambai digoyangkan arus. Membuat ikan – ikan terpicut olehnya dan memakannya. Ini yang menyebabkan kenapa ikan gemar sekali memakan sampah plastik. Hewan yang telah menjadi korban dari tipuan tersebut contohnya seekor paus sperma (Physeter macrocephalus) yang ditemakan mati akibat memakan puluhan kilo sampah plastik.

Bangkai paus tersebut ditemukan terdampar di satu pantai Porto Cerbo, tujuan wisata popular di Sardinia, Italia. Tidak hanya itu, seperti yang diberitakan oleh situs suara.com memberitakan bahwa para ilmuwan telah lama mencatat seekor penyu memakan plastik di laut karena salah mengira bahwa plastik tersebut mirip secara visual dengan ubur – ubur.

Faktanya seekor penyu mengeluarkan hidungnya dari air untuk mengendus plastik tiga kali lebih lama dari pada mencium aroma makanan. Dari dua contoh di atas sudah dapat menggambarkan bagaimana pencemaran laut yang disumbangkan oleh manusia berupa sampah plastik.

Seeokor Paus Di Dalam Perairan Laut
Gambar diambil pada situs pgsp.big.go.id

Untungnya saat ini para ilmuwan telah mengembangkan inovasi – inovasi terbarukan dalam bentuk usaha menyelamatkan bumi dari limbah sampah plastik. Terbaru datang dari pemerintahan Jawa Timur yang membangun perusahaan listrik berbasis bahan baku dari sampah.

Eric Saputra selaku General Manager Project PLTSa Pt. Mega Surya Eratama, mengatakan pengolahan sampah plastik dalam pabriknya mampu menghasilkan energi listrik. Terdapat mesin Pyrolisis yang dapat mengolah 15 ton sampah plastik setiap harinya.

Bisa dikatakan olahan limbah ini bersih karena sisa – sisa abu dari pembakaran dapat digunakan sebagai bahan endapan untuk membuat pulau buatan, seperti yang telah dilakukan oleh Singapura. Kemudian terdapat inovasi plastik yang dapat terurai oleh tanah dan plastik tersebut bahan yang mengandung karbohindrat/pati dan sejenisnya yaitu Plastik Biodegradable.

Jenis plastik ini berbeda dari plastik konvensional pada umumnya yang harus memakan lebih dari 100 tahun untuk bisa terurai. Plastik Biodegradable cukup memerlukan waktu enam sampau satu tahun saja untuk bisa terurai. Cepatnya waktu penguraian dikarenakan plastik tersebut dapat dimakan mikroba alami, baik itu di dalam tanah maupun di laut.

Kita sebagai manusia yang memiliki jiwa dan kecerdasan lebih baik dari pada makhluk lain di muka bumi, seharusnya menjadikan diri sebagai penyeimbang. Alam telah memberikan apa yang kita mau, mulai dari oksigen, makanan, tempat tinggal, dsb.

Apakah kalian tidak kasihan terhadap hewan – hewan dan tumbuh – tumbuhan dan bahkan anak cucu kita nanti. Janganlah kita jadi manusia serakah, menghancurkan segala apa yang kita mau tanpa memperhatikan dampaknya. Alam sudah sangat baik kepada kita, dia memberikan apa yang ia punya tanpa minta imbahan sepeserpun dari kita.

Dia hanya butuh dijaga dan dirawat. Sudah itu saja, alam tidak meminta lebih dari kita. Bahkan alam sering memberikan bonus – bonus yang tanpa kita sadari. Jagalah alam, rawatlah alam dengan begitu alam pasti akan senang hati membalasnya.

Jangan sampai alam marah dengan kita, perlu disadari sekarang alam sedang sakit. Napasnya telah mulai menipis yang diakibatkan dari hutan yang semakin gundul, darahnya mulai kering dengan diambilnya kekayaan di dalam perut bumi.

Tubuhnya mulai luka – luka karena tanah dan bebatuannya diambil untuk mebangun rumah. Ayo sama – sama kita jenguk alam dengan peduli akan kelestarian alam, pasti alam akan senang dan cepat sembuh dari penyakitnya. Sekian dari penulis, tetap sayangi bumi seperti kamu menyayangi orang yang kamu cintai.

Salam hangat dari penulis #SaveWorld

Editor : Annisa Dian Ndari

Related Articles

Responses