Masyarakat Berdaya, Laut Terbebas: Menanggulangi Pencemaran Logam Berat demi Masa Depan Laut yang Sehat

Laut bagaikan paru-paru planet kita, menghasilkan oksigen yang kita hirup dan menyerap karbon dioksida. Laut juga merupakan sumber makanan, obat-obatan, dan berbagai sumber daya penting lainnya. Laut yang sehat adalah laut yang memiliki ekosistem yang seimbang dan berfungsi dengan baik. Hal ini ditandai dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, air laut yang bersih, dan kualitas air yang bagus. Tetapi, bagaimana jika laut juga merupakan sumber penyebaran penyakit yang diakibatkan kelalaian manusia?

Laut yang dulunya menjadi sumber kehidupan dan kemakmuran kini terancam oleh pencemaran logam berat. Aktivitas industri, pertanian, dan pertambangan telah mencemari laut dengan berbagai macam logam berat, seperti merkuri, timbal, kadmium, dan arsenik. Logam berat ini tidak terurai secara alami dan dapat menumpuk dalam rantai makanan laut. Akibatnya, biota laut, dari plankton hingga ikan besar, terkontaminasi logam berat. Hal ini berakibat fatal bagi kesehatan biota laut, mengganggu reproduksi, dan bahkan menyebabkan kematian.

Dampak pencemaran logam berat tidak hanya berhenti di biota laut. Manusia yang mengonsumsi ikan dan makanan laut yang terkontaminasi juga berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti kerusakan otak, gangguan saraf, kanker, dan bahkan kematian. Laut sehat dan masyarakat berdaya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pencemaran logam berat mengancam keduanya merusak ekosistem laut dan membahayakan kesehatan manusia.

Sama halnya dengan kasus terbaru penambangan yang terjadi di Pulau Sangihe, dimana perusahaan tambang bisa mendapatkan izin dari pemerintah untuk melakukan penambangan lebih dari setengah pulau yang berpenghuni tersebut. Aktivitas tersebut telah mencemari lingkungan karena proses ekstrasi emas menggunakan bahan-bahan kimia, dimana air laut yang dulunya jernih sekarang sudah keruh. Sebagian daerah pesisir di dekat perkampungan warga eudah rusak karena dialiri oleh limbah tambang emas. Hal ini secara langsung menyebabkan masyarakat kehilangan mata pencaharian untuk yang berprofesi sebagai nelayan.

Masyarakat yang tadinya bisa mencari ikan didaerah pesisir, harus pergi mencari tangkapan ikan ke daerah yang belum tercemar limbah tambah. Tentu saja akan merugikan warga karena harus menambah biaya untuk membeli  bahan bakar perahu. Warga sekitar juga pastinya akan kekurangan pasokan bahan makanan akibat khawatir mengkonsumsi hasil laut dari daerah pesisir tersebut karena takut tercemar logam berat (Redjo, 2022).

Foto: Alif Rizky / Greenpeace

Salah satu contoh kasus pencemaran logam berat dengan dampak yang sudah terlihat akibat terpapar limbah hasil pertambangan ialah di Sekotong, Lombok Barat. Sejak tahun 2018 berdasarkan penelitian yang dilakukan hampir 50 anak terpapar merkuri di Sekotong lahir dengan masalah saraf dan cacat fisik.

Beberapa kasus tersebut ditandai dengan bayi yang baru lahir terkena cacat pada usus, sehingga bayi tersebut tidak bisa buang air besar. Hal ini dikarenakan kegiatan pertambangan yang dilakukan oleh ayah dari bayi tersebut yang terpapar limbah merkuri sejak masih didalam kandungan. Kasus lain ialah seorang anak yang tidak berhenti mengeluarkan liur setelah mengalami kejang dan anak lainnya pernah kejang dan menderita tuli. Ibu anak tersebut telah terpapar merkuri bahkan sebelum anaknya lahir dan suaminya adalah penambang emas. Kemudian dilakukan pengukururan konsentrasi merkuri pada sampel rambut orang tua penambang dari anak-anak yang terlahir cacat, dan didapatkan konsentrasi merkusi 12,7 kali lebih tinggi dibanding batas aman.

Gejala klinis pertama paparan merkuri seperti terganggunya koordinasi tubuh terjadi setelah lima tahun, dimana pasien menderita gagal organ atau kelainan saraf dan anak-anak biasanya terdampak paling parah (Paulo, 2023).

Penambangan emas rakyat yang terdapat di Sekotong memiliki dampak negatif bagi lingkungan yaitu menyebabkan pencemaran logam berat terutama merkuri (Hg). Pencemaran logam berat ditimbulkan akibat adanya pengolahan emas dengan menggunakan merkuri yaitu pada tahap penggilingan batu emas. Limbah (tailing) yang mengandung merkuri (Hg) dari proses penggilingan emas dibuang langsung ke permukaan tanah atau badan sungai yang akhirnya bermuara ke laut, sehingga menyebabkab kerusakan habita biota (ekosistem).

Logam berat dapat merusak lingkungan perairan dalam hal stabilitas, keanekaragaman dan kesehatan ekosistem. Pencemaran logam berat akan menyebabkan perubahan struktur komunitas perairan, jaring makanan, tingkah laku, efek fisiologis, genetik dan resistensi.

Foto: Rajiv Groochurn / Greenpeace

Penelitian yang dilakukan oleh Sanuriza et al. (2017) menyatakan bahwa kandungan merkuri (Hg) pada terumbu karang akibat pertambangan emas rakyat di kawasan Teluk Pelangan-Selindungan telah tercemar tapi masih dibawah ambang batas baku mutu. Berdasarkan Sativa et al. (2017) kandungan logam berat merkuri pada Pilsbryconcha exilis dan sedimen yang terdapat di sungai Pelangan sebesar 0,039 – 0,623 mg/kg, sedangkan pada sedimen sebesar 0.025 – 1.9 mg/kg.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Johari et al. (2019) kandungan merkuri pada air sumur pada 3 desa di kecamatan Sekotong masih berada di bawah ambang batas Pemerintah. Hasil penelitian Rijal dan Keman (2019) kadar rerata merkuri dalam darah penduduk yang tinggal di daerha pantai Sekotong Barat yang sering mengkonsumsi kerang dara (Anadara granosa) adalah 10,96 µg/dL telah melebihi kadar merkusi yang diperbolehkan berada di dalam darah manusia menurut standar WHO sebesar 5 µg/dL.

Saat ini kita sebagai masyarakat Indonesia dan juga generasi muda harus membantu upaya-upaya dalam mengatasi pencemaran logam berat di laut. Salah satunya adalah peningkatan kesadaran dan edukasi dengan penyebaran informasi dan kampanye akis sosial melalu situs media sosial. Selain itu memanfaatan teknologi canggih masa kini dimana bisa menemukan banyak ide-ide kreatif mengenai pengambangan teknologi ramah lingkungan pengolahan air limbah.

Dengan partisipasi aktif dan kolaborasi dari semua pihak, masyarakat berdaya dapat memainkan peran penting dalam menjaga laut tetap sehat dan berkelanjutan. Menjaga laut tetap sehat adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan bekerja sama, kita dapat melawan krisis pencemaran logam berat dan membangun masa depan laut yang lebih baik bagi generasi sekarang dan mendatang.***

Sumber:

Johari HI, Rahmawati D, Hidayati. 2019. Mercury Contamination in Groundwater from Artisanal and Small Scale Gold Mining Activities: a case study of Southern Lombok Coast, West Nusa Tenggara Province. IOP Conf. Series: Earth and Emvironmental Science. 413(012016):1-5.

Paulo DA. 2023. Pulau Surgawi Lombok, emasnya yang beracun dan derita anak-anaknya. Channel Newa Asia. (https://www.channelnewsasia.com/indonesia/penambang-emas-ilegal-di-lombok-bahaya-merkuri-terhadap-anak-3654796).

Redjo, S. 2022. Perjalanan Panjang Masyarakat Sangihe Melawan Tambang. Greenpeace Indonesia. (https://www.greenpeace.org/indonesia/cerita/46358/perjalanan-panjang-masyarakat-sangihe-melawan-tambang/).

Rijal S, Keman S. 2019. Correlation of mercury (Hg) levels in blood with level of crystatin C serum in traditional gold mining area in Sekotong Village of West Lombok District. Indian Journal of Public Health Research and Development. 10(8):2288-2291.

Sanuriza II. 2017. Analisis Kandungan Merkuri (Hg) pada Terumbu Karang akibat Pertambangan Emas Rakyat di Kawasan Teluk Pelangan-Selindungan Kecamatan Sekotong. Jurnal Evolusi MIPA. 1(1):1-7.

Sativa FE, Idrus AA, Hadiprayitno G. 2017. Kandungan Logam Berat (Hg dan Mn) pada Pilsbryconcha exilis dan sedimen yang terdapat di Sungai Pelangan, Lombok Barat. Jurnal Biologi Tropis. 17(1):32-37.

Artikel Terkait

Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

Tanggapan