Laut Sehat, Masyarakat Berdaya: Berdaya dalam Nilai, Budaya, dan Literasi

Permukaan bumi  terdiri atas 70% lautan dan lebih dari 1 milyar penduduk dunia bergantung hidup dari hasil laut, karenanya laut merupakan aset penting yang memberikan manfaat bagi manusia dan mahluk hidup yang ada di bumi sehingga keberadaannya perlu dijaga dari kerusakan.

Fakta pentingnya, luas lautan menjadi sumber panas yang berasal dari serapan sinar matahari. akibatnya pemanasan lebih banyak terjadi di laut. Meningkatnya suhu laut berdampak pada proses pemanasan global yang bermuara pada terjadi peningkatan suhu di kutub sehingga mengakibatkan mencairnya es di wilayah tersebut.

Laut adalah produsen oksigen terbesar, lebih besar dari yang di hasilkan hutan. Sama halnya dengan klorofil tumbuhan di darat yang menyerap sinar matahari untuk fotosintesis dalam proses pertumbuhannya. Laut menyediakan 60% oksigen (O₂) sekaligus menyerap karbon dioksida (CO₂) yang tidak dibutuhkan oleh mahluk bumi lainnya melalui proses fotosintesis phytoplankton dan ganggang laut.

Laut juga penyedia protein hewani bagi seluruh penduduk bumi melalui produksi ikan dan hasil laut lainnya. Protein ikan memiliki kadar yang lebih tinggi dibandingkan sumber protein hewani yang dihasilkan di daratan seperti ayam, daging, dan lainnya.

Para ilmuan di seluruh dunia sepakat bahwa laut merupakan tempat dari keanekaragaman hayati yang jumlah, jenis dan keberadaannya belum mampu dijelaskan secara pasti.

Dari beberapa manfaat yang diperoleh dari laut dan manfaat ekonominya bagi penduduk bumi, sudah selayaknya seluruh masyarakat menjaga agar laut yang ada saat ini dipertahankan kesehatannya sehingga siklus hidup biota yang hidup di dalamnya dapat berlangsung terus menerus.

Namun saat ini, hampir di seluruh dunia, kondisi laut mengalami ancaman serius. Penurunan kualitas laut tersebut disebabkan oleh ekploitasi dan semakin meningkatnya kebutuhan manusia yang berasal dari laut sehingga meningkatkan tekanan terhadap pemanfaatan sumber daya laut.

Pada sidang Majelis Umum PBB ke 74 di New York, tanggal 23 September 2019, Indonesia akan mengangkat isu kelautan sebagai prioritas seperti pemberantasan IUU fishing, pengurangan sampah plastik di laut, dan pengarusutamaan isu kelautan kedalam agenda mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Usulan Indonesia tersebut didasarkan pada isu-isu kelautan dan penanggulangan perubahan iklim yang memiliki keterkaitan. Peningkatan suhu global dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan kesehatan kelautan di Indonesia, seperti terumbu karang yang sangat peka dengan perubahan iklim dilaut.

Sebagai negara nomor dua di dunia yang memiliki terumbu karang terluas dan memiliki sumber daya laut dan perikanan yang berlimpah dan sangat beraneka ragam. Indonesia mempunyai peran penting dalam memastikan keberlanjutan pembangunan perikanan dan kelautan bagi kesejahteraan masyarakat.

Aksi nyata terus dilakukan KKP bersama pemerintah daerah, TNI/Polri, pelajar, asosiasi nelayan, hingga penggiat lingkungan. Menjaga laut tetap sehat menjadi tanggung jawab dan harus dilakukan bersama-sama. Sebab ketika laut murka, tanpa pandang bulu, siapapun, negara manapun bisa kena imbasnya. Untuk itu saya mengajak kita semua untuk mulai bergerak dan lebih bertanggung jawab lagi. Kita tunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara maritim, memiliki komitmen tinggi dalam menjaga kesehatan laut untuk kesejahteraan dunia.

Berpijak pada kesadaran dan aspirasi baik berupa skill, keterampilan, olah pikir, khazanah budaya dan pengetahuan untuk menghasilkan karya yang produktif. Masyarakat berdaya memiliki perilaku hidup dan modal sosial yang positif, nilai hidup sehat, kepatuhan terhadap hukum, keharusan untuk terus bekerja atau berwirausaha dengan mengedepankan menjaga kelestarian lingkungan laut.

Saya sebagai orang muda merasa sangat beruntung bisa lahir dan tinggal di Bali. Tanah subur yang dikelilingi indahnya laut. Seperti sebagian besar masyarakat Bali, konsep keselarasan hidup yang berdasar pada hubungan Tuhan, manusia dan alam dalam  Tri Hita Karana, orangtua mengajarkan kepada saya untuk menjaga laut sejak dini dengan cara-cara sederhana seperti mengajak bermain di pantai yang bersih, mengurangi penggunaan sampah plastik dan membuang sampah pada tempatnya, menghemat penggunaan air bersih, serta melibatkan saya pada kegiatan pelestarian dan konservasi laut. Dari sinilah tumbuh rasa cinta terhadap laut.

Khasanah budaya cinta laut sesungguhnya telah berakar dalam jiwa masyarakat Indonesia sejak dulu kala, seperti tradisi Lilifuk suku Baineo di NTT dan tradisi Sasi di Maluku dan Papua yang menutup sejumlah area kawasan laut selama beberapa periode tanpa boleh ada aktivitas apa pun di dalamnya, seperti misalnya menangkap ikan dan mengganggu ekosistem terumbu karang. Tradisi Bapongka Suku Bajo dari Sulawesi yaitu melakukan pelayaran mencari nafkah atau hasil laut ke daerah lain selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Pelayaran ini dilakukan secara berkelompok menggunakan perahu tradisional bernama lepa dan alat tangkap ikan yang juga bersifat tradisional dan sederhana. Tradisi masyarakat Aceh sejak abad ke 16 telah mengenal keberadaan Panglima Laot yang secara adat memiliki wilayah kewenangannya masing-masing yang berbasis pada satuan lokasi yang disebut Lhok. Mereka bertugas untuk menjaga kelestarian laut, seperti mengatur cara penangkapan ikan, mencegah terjadinya penangkapan ikan secara ilegal, menentukan hari pantang melaut bagi nelayan, hingga mengawasi pelaksanaan adat istiadat dan hukum adat laot. Selain itu, mereka pun bertugas untuk membantu pemerintah di bidang perikanan dan kelautan

Karena ada peraturan dan tradisi ini, maka tak heran kalau keberlangsungan ekosistem laut dan potensi sumber daya lautnya terus terjaga dan berlimpah. Ikan-ikan menjadi memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkembang biak. Kemudian, terdapat pula larangan untuk menggunakan alat-alat seperti bom ikan dan alat setrum listrik untuk menangkap ikan.

Salah satu hambatan paling signifikan untuk kemajuan di sektor konservasi laut adalah kurangnya pemahaman mengenai literasi kelautan dan perubahan perilaku konservasi laut.

literasi laut adalah pemahaman tentang pengaruh laut terhadap manusia dan dunia secara keseluruhan. Literasi ini diharapkan bukan saja sebagai enlightment (mencerahkan) dan enrichment (memperkaya wawasan) tetapi juga empowerment (memberdayakan).

Oleh karena itu untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap laut maka dibutuhkan pengetahuan literasi laut sejak usia sekolah dasar. Melalui literasi laut pada usia dini, diharapkan kita memiliki generasi yang melek laut sehingga dapat menekan kerusakan laut.

Artikel ini diharapkan membawa kita sebagai masyarakat berdaya dapat memberi pengaruh dan perubahan perilaku positif untuk mewujudkan laut yang sehat, masyarakat berdaya. Semoga semangat nenek moyang kita sebagai pelaut tetap terpatri dalam upaya melestarikan laut Indonesia.***

Artikel Terkait

Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

Tanggapan