Jaring Hantu di Laut: Bagaimana Alat Tangkap yang Hilang Terus Membunuh Biota?

Misal seekor penyu tengah berenang bebas di laut. Tanpa disadari, tubuhnya tersangkut jaring yang mengambang di antara terumbu karang. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi semakin bergerak, semakin erat jaring itu menjeratnya. Tidak ada nelayan yang menarik jaring tersebut. Tidak ada yang berniat menangkapnya. Namun, ancaman itu terus bekerja.

Inilah yang disebut ghost fishing atau penangkapan ikan oleh alat tangkap hantu. Fenomena ini menjadi salah satu ancaman bagi kehidupan laut yang kerap luput dari perhatian.

Apa Itu Jaring Hantu?

Jaring hantu (ghost nets) merupakan bagian dari ghost gear, yaitu alat tangkap yang hilang, ditinggalkan, atau dibuang ke laut. Bentuknya tidak hanya jaring ikan, tetapi juga tali, pancing, rawai, serta perangkap ikan yang sudah tidak digunakan.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), alat tangkap yang hilang atau ditinggalkan bisa terus menangkap ikan dan satwa laut tanpa kendali. FAO dan Program Lingkungan PBB (UNEP) pernah memperkirakan sekitar 640.000 ton alat tangkap hilang atau ditinggalkan di laut setiap tahun. Angka ini merupakan estimasi yang banyak dikutip, bukan pengukuran tahunan terbaru.

Lalu, bagaimana alat tangkap bisa hilang? Penyebabnya beragam, mulai dari badai, arus laut yang kuat, kerusakan peralatan, hingga benturan dengan alat tangkap milik nelayan lain. Ada pula alat tangkap yang sengaja dibuang karena sudah rusak atau sulit dibawa kembali ke daratan.

Mengapa Alat Tangkap yang Hilang Tetap Berbahaya?

Berbeda dengan sampah biasa, alat tangkap dirancang untuk menangkap atau menjerat hewan. Ketika hilang di laut, fungsinya tidak serta-merta berhenti.

Jaring yang tersangkut di karang masih bisa menjerat ikan yang melintas. Perangkap yang tenggelam tetap dapat menarik atau menjebak hewan laut. Tali pancing yang terbengkalai juga berisiko melilit tubuh satwa.

Masalahnya, tidak ada nelayan yang memeriksa hasil tangkapannya. Hewan yang terperangkap bisa terluka, kehabisan tenaga, atau mati. Bangkainya kemudian dapat menarik hewan lain, yang pada akhirnya ikut terjebak. Siklus ini membuat satu alat tangkap yang hilang berpotensi menimbulkan korban berulang kali.

A ghost net found drifting through the Great Pacific Garbage Patch. Many fish were attracted to this net including chubs and jacks.

The crew of the Greenpeace ship MY Arctic Sunrise voyage into the Great Pacific Garbage Patch document plastics and other marine debris. The Great Pacific Garbage Patch is a soupy mix of plastics and microplastics, now twice the size of Texas, in the middle of the North Pacific Ocean.

Bukan Hanya Ikan yang Menjadi Korban

Jaring hantu tidak memilih mangsa. Ikan kecil, kepiting, dan berbagai organisme laut lainnya bisa terperangkap. Penyu, burung laut, lumba-lumba, hingga mamalia laut berukuran besar juga berisiko terlilit atau terjerat.

Dampaknya tidak berhenti pada kematian individu. Jika ikan dan organisme lain terus tertangkap, populasi lokal dapat ikut tertekan. Jaring yang tersangkut di terumbu karang juga bisa merusak struktur karang dan mengganggu habitat tempat banyak spesies mencari makan, berlindung, serta berkembang biak.

Selain itu, sebagian besar alat tangkap modern terbuat dari bahan sintetis yang tahan lama. Ketika perlahan terurai, material tersebut dapat menambah pencemaran plastik di laut.

Menurut laporan FAO dan UNEP tentang alat tangkap yang hilang, ditinggalkan, atau dibuang, dampaknya juga mencakup kerusakan habitat dasar laut, bahaya bagi pelayaran, serta kerugian ekonomi akibat upaya pencarian dan pembersihan alat tangkap.

Dampaknya Juga Dirasakan Nelayan

Jaring hantu bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan ekonomi.

Alat tangkap yang hilang berarti kerugian bagi pemiliknya. Sementara itu, jaring terbengkalai dapat mengganggu aktivitas penangkapan ikan, merusak peralatan lain, atau membahayakan kapal yang melintas.

Penelitian tentang kerugian ekonomi ghost gear pada perikanan skala kecil di Tegal, Jawa Tengah, yang diterbitkan dalam Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengangkat persoalan ini dari sisi kehidupan dan usaha nelayan. Artinya, mengurangi alat tangkap hantu juga berarti membantu menjaga sumber penghasilan masyarakat pesisir.

Bisakah Jaring Hantu Dicegah?

Kabar baiknya, masalah ini bukan tanpa solusi. Upaya pencegahan bisa dimulai sejak alat tangkap masih digunakan.

Pertama, alat tangkap diberi identitas. Penandaan yang jelas membantu mengidentifikasi pemiliknya dan memudahkan proses pelaporan jika alat tersebut hilang.

Kedua, memperbaiki pengelolaan alat tangkap bekas. Jaring yang rusak sebaiknya dibawa kembali ke daratan untuk diperbaiki, digunakan kembali, atau disalurkan ke fasilitas pengolahan yang sesuai. Alat tangkap tidak semestinya dibuang begitu saja ke laut.

Ketiga, lakukan pelaporan dan pengambilan secara aman. Nelayan, komunitas pesisir, dan pengelola kawasan konservasi dapat bekerja sama untuk mendata lokasi alat tangkap yang hilang. Pengambilan jaring dari laut perlu dilakukan oleh orang yang memiliki keterampilan dan peralatan memadai agar tidak merusak habitat atau membahayakan penyelam.

Contoh upaya yang bisa ditiru datang dari Indonesia. Dalam studi kasus SeaNet Indonesia yang diterbitkan UNEP melalui COBSEA, sebuah program di Merauke mengumpulkan 18 ton jaring ikan terbengkalai selama 18 bulan untuk didaur ulang menjadi bahan produk seperti ubin karpet. Inisiatif ini menunjukkan bahwa jaring bekas dapat dikelola sebagai sumber daya, bukan sekadar sampah.

Laut Tidak Seharusnya Menjadi Perangkap

Jaring hantu mengingatkan kita bahwa dampak aktivitas manusia di laut tidak selalu berakhir ketika sebuah alat tangkap hilang dari pandangan. Di bawah permukaan air, alat tersebut bisa terus menjerat kehidupan selama belum ditemukan dan ditangani.

Mencegahnya membutuhkan tanggung jawab bersama: pengelolaan alat tangkap yang lebih baik, fasilitas pengumpulan yang memadai, dukungan kebijakan, dan kolaborasi antara nelayan, pemerintah, serta masyarakat. Laut yang sehat bukan hanya laut yang bebas dari sampah yang terlihat di permukaan. Laut yang sehat juga berarti tidak ada lagi perangkap mematikan yang terus bekerja dalam diam di bawah air. [ ]

Artikel Terkait

Tanggapan

Secret Link