Raja Ampat Kiblat Wisata Bahari Dunia

Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Wilayah Indonesia terdiri dari 70 % lautan, dan sisanya 30% adalah daratan. Kondisi itulah membuat Indonesia memiliki potensi kelautan yang besar, terutama pada sektor pariwisata bahari.

Turis Mancanegara selama ini sudah mengenal Bali, Lombok, Bunaken, dan Labuan Bajo sebagai pilihan destinasi wisata bahari. Namun, Ada sebuah tempat diujung Timur Indonesia yang disebut sebagai surga yang jatuh di bumi, dunia mengenalnya sebagai Raja Ampat.

Raja Ampat sendiri secara administratif berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Secara umum, Raja Ampat adalah kepulauan yang terdiri dari banyak sekali pulau karang dan tersebar luas di seluruh wilayahnya. Namun, Raja Ampat memiliki 4 pulau utama yang paling besar, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Batanta, Pulau Salawati, dan Pulau Misool.

Kota Sorong menjadi pintu gerbang utama menuju Raja Ampat. Dari Sorong kita bisa menuju Wasai, Ibukota Kabupaten Raja Ampat dengan menggunakan perahu cepat dalam waktu 2-3 jam. Di Raja Ampat kita bisa melakukan aktifitas Diving, Freedeving, dan aktivitas lainnya yang menantang adrenalin.

Turis-turis mancanegara memberi julukan kepada Raja Ampat, yaitu The Last of Paradise. Laut Raja Ampat diklaim sebagai laut paling indah di dunia. Semua pecinta wisata bahari pasti bermimpi ingin mengunjungi Raja Ampat walau sekali seumur hidupnya.

Apa yang membuat Raja Ampat begitu istimewa bagi dunia?

Raja Ampat memiliki hampir 75% jenis terumbu karang yang ada diseluruh dunia. Banyaknya spesises laut di 1 meter persegi Raja Ampat sama dengan banyaknya spesies laut di 1 km lautan diseluruh dunia.

Di Raja Ampat juga menjadi satu spot yang terdapat 2 spesies Manta Ray di satu tempat, yaitu Reef Manta Ray dan Oceanic Manta Ray. 1600 spesies ikan karang, 533 terumbu karang. Lautan dunia sangat luas, tapi tidak sekaya isi lautan di Raja Ampat, Papua Barat (Indonesian Ocean Pride, 2020).

Lalu, apa yang membuat laut Raja Ampat lebih kaya dari lautan diseluruh dunia?

Masyarakat adat Raja Ampat sudah mengenal konservasi sejak nenek moyang mereka. Disana terdapat tradisi Sasi. Tradisi Sasi membuat masyarakat Raja Ampat tidak boleh mengkomersialkan hutan mangrove. Sasi juga membuat aturan waktu boleh menangkap ikan dan waktu tidak boleh menangkap ikan di zona yang disepakati masyarakat adat.

Tadisi sasi ditujukan untuk melindungi sumber daya alam masyarakat adatnya. Hasilnya laut Raja Ampat menjadi paling kaya dan tersehat di dunia.

Menurut kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat, Yusdi N Lamatenggo sejak dahulu Raja Ampat memang didesain menjadi kawasan wisata yang mengedepankan konservasi. Kini Raja Ampat pun menjadi kawasan konservasi yang berbadan hukum kuat.

Namun, Raja Ampat didesain berbeda dengan tempat wisata lainnya di Indonesia. Sejak dahulu tokoh masyarakat disana mendesain Raja Ampat menjadi kawasan wisata yang mengedepankan konservasi, jadi tidak ada mimpi membuat Raja Ampat menjadi Mass Tourism seperti Bali dan Jogja. Raja Ampat didesain menjadi kawasan Quality Tourism.

Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati mengatakan “Raja Ampat tidak butuh wisatawan datang untuk menikmati dan pergi selfie, kita membatasi wisatawan datang untuk menjaga kekayaan laut Raja Ampat”.

Pergi Raja Ampat ibarat naik hajinya para diver, seperti orang pergi haji ke tanah suci Mekah. Sensasi dan adrenalinnya tidak akan kalian dapatkan ditempat lainnya.

Alasan Bupati Raja Ampat tidak mengejar mass tourism agar terumbu karang di Raja Ampat tetap terjaga, mengingat pertumbuhan terumbu karang sangat lambat sekitar 2,54 inc selama 15 tahun.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia ternyata membuat sektor pariwisata dunia mati suri, tak terkecuali Indonesia. Namun, hal itu tidak berdampak sama sekali untuk Raja Ampat.

Apa yang membuat Raja Ampat tidak terdampak?

Raja Ampat di Papua Barat adalah contoh kawasan wisata yang tidak sepenuhnya hidup bergantung dari sektor pariwisata. Mark Erdmann, Vice President Marine Asia Pasifix Field Division Conversation International dalam Indonesian Ocean Pride mengatakan “saat pariwisata Raja Ampat terhenti karena pandemi, masyarakat Raja Ampat kembali berkebun dan mencari hasil laut. Konservasi di Raja Ampat justru berfungsi untuk ketahanan pangan masyarakat lokal”.

Berkaca dari Raja Ampat, seharusnya kawasan Raja Ampat menjadi kiblat untuk wisata bahari di Indonesia bahkan dunia. Jangan hanya karena keuntungan ekonomi yang besar, sektor pariwisata malah ikut menyumbang kerusakan alam. Raja Ampat membuat kita sadar bahwa pariwisata dan kelestarian alam bisa berjalan secara harmonis.

Editor : Annisa Dian Ndari

Related Articles

Responses