Wayag, Raja Ampat, Habitat Pembesaran si Pari Raksasa

wayag raja ampat

Penelitian ikan manta terus dikembangkan. Baru-baru ini peneliti pari manta dari Indonesia, Edy Setyawan, mengungkap bahwa lokasi di laguna Wayag, Raja Ampat, Papua Barat merupakan lokasi habitat pembesaran pari manta. Penemuan ini menjadi yang pertama dan terkonfirmasi di dunia. Edy dan timnya melakukan pengamatan di Raja Ampat sejak tahu 2013.

“Di alam bebas (laut), kita belum pernah melihat tempat pari manta melahirkan. Kami berasumsi bahwa mereka juga melahirkan anaknya di daerah pembesaran ini,” ujar Edy pada Minggu (20/6/2022) sebagaimana dikutip dari situs Kompas TV.

Wayag berada di dalam Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN), Suaka Alam Perairan (SAP) Waigeo Sebelah Barat. Termasuk ke dalam area segitiga terumbu karang (Coral Triangle Area) yang terkenal menjadi pusat keaekaragaman hayati laut di dunia. Wayag juga terkenal dengan keindahan jika dilihat dari daratan.

wayag raja ampat
Wayag, Raja Ampat. / Foto: Situs KKP

Di daratan, Puncak Wayag menjadi ikon panorama Raja Ampat. Kepulauan Wayag sendiri adalah gugusan pulau yang terletak di bagian utara Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Laguna Wayag yang diketahui mejadi tempat pari manta ini berwarna toska dan pulau-pulau kecil batuan karst menjadi ciri khas yang indah jika dipandang dari daratan.

Manta merupakan salah satu ikan yang termasuk ke dalam kelompok ikan pari. Ikan pari kharismatik dan terbesar dalam kelompok pari ini terdiri dari 2 spesies, yaitu Manta birostris dan Manta alfredi. Walaupun ikan ini memiliki ukuran tubuh yang relatif besar namun ikan ini dikenal sangat ramah.

Manta merupakan fauna laut yang sangat dicari oleh para penyelam untuk diabadikan dalam bingkai kamera yang biasa dibawa oleh para penyelam maupun hanya sekedar disimpan dalam ingatannya. Pasalnya, untuk bisa bertemu ikan cantik ini, selain perlu untuk perhitungan waktu dan musim yang tepat dalam memprediksi keberadaannya, terkadang dibutuhkan keberuntungan dari para penyelam.

wayag raja ampat
Manta di area terumbu karang Raja Ampat, Papua. / Foto: Paul Hilton / Greenpeace

Hal ini membuktikan bahwa keberadaan Manta di laut benar-benar langka dan status populasinya hanya sedikit  di alam. Tak heran, para pecinta laut sangat antusias jika bertemu ikan kharismatik ini.

Manta diketahui dapat memiliki lebar tubuh mencapai 7 meter dan berat tubunya mecapai 3 ton. Pada bagian mulutnya, Manta tidak memiliki gigi. Ikan ini menggunakan mulutnya untuk menyaring plankton sebagai makanan utamanya. Insangnya terletak di bagian bawah, terdiri dari 5 pasang insang.

Secara biologi, Manta memiliki tingkat reproduksi yang rendah. Hal itu menjadi kelemahan terhadap status populasinya. Selain itu, perburuan ikan ini masih kerap terjadi karena konon insang Manta menjadi komoditas untuk dijadikan obat dan permintaan pasar dari luar negeri masih ada.

Fenomena sampah plastik di laut pun turut mengancam kehidupan Manta, mengingat cara makan mereka adalah dengan menyaring (menyapu) sehingga sangat besar kemungkinan plastik – plastik yang ada dilaut dapat termakan oleh mereka. Dan jangan sampai hal ini terjadi dan biarkan.***

Baca juga: Pari Manta dan Labuan Bajo: Serial Hewan dan Tumbuhan Unik di Laut

Artikel Terkait

Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

Penerapan Kampung Ikan Berbasis Teknologi Hatchery dalam Optimalisasi Percepatan Kemandirian Pangan Perikanan Nasional

Salah satu kisah sukses teknologi hatchery adalah hatchery skala rumah tangga (HSRT) yang terdapat dibagian utara Bali.

Teknologi ini dikembangkan oleh Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol Bali dan dengan pesat diterapkan oleh nelayan – nelayan setempat yang awalnya ingin mengadakan diversifikasi usaha dari perikanan budidaya secara tradisional ke perikanan budidaya skala industri seperti tambak dan keramba jaring apung.

Tanggapan