Nelayan: Lara Ku kau Hancur Bara

Bukan Ikan yang terjala, melainkan batu. Batuan itu didapat para nelayan dari Pantai Roban yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari muara.

Ukuran batu-batu tersebut bervariasi mulai dari sebesar kelereng hingga buah kelapa. Batu-batu itu berwarna hitam.

Seperti itulah bagaimana kondisi Pantai di tepian Batang yang mengalami kerusakan ekosistem, diduga merupakan sumbangan batu bara dari PLTU Batang.

Pantai Roban merupakan tempat dimana para Nelayan dan sanak saudaranya menggantungkan hidup.

Nelayan ini, sebut saja Yono adalah seorang nelayan dari Pantai Roban yang selalu dikeluhkan dan kepulanganya dari laut dinanti-nanti oleh sang istri.

Pasalnya PLTU yang berdiri kokoh dengan kapal tongkangnya, kerap menghantui kehidupan Nelayan di Pantai Roban.

Tangkapan ikan nelayan di Batang tercampur dengan batu. / Foto: Robby Bernardi / detikcom

Tak hanya kerusakan terhadap laut dan terumbu karang, tongkang-tongkang yang lalu lalang dengan angkuhnya pun lambat laun membuat nelayan harus menelan ludah karena hasil tangkapan pun berubah menjadi batu bukan ikan lagi.

Selain derita yang dititipkan pada ekosistem laut, PLTU ini pun memecah belah kehidupan masyarakat setempat, karena terbagi menjadi 2 kubu yang pro dan kontra akan kehadiran PLTU tersebut.

Konflik yang panas serta pelik ini membuat istri Yono khawatir, entah khawatir karena Yono tak dapat kembali kerumah karena terhempas karena Kapal Tongkang dilaut, ataupun tak bisa pulang karena dampak dari konflik yang berkepanjangan antar warga.

“Pantang bagi kami hadir di upacara pemakaman warga yang mendukung hadirnya PLTU,” ucap tegas dari istri Yono yang duduk di tepi pantai sambil menanti kepulangan Yono.

Hadirnya PLTU ini pun mulai menggeser nilai-nilai yang dipegang teguh pada nelayan disini, sebab laut ini hidup selamanya bersama warga dan tidak akan hilang karena masyarakat disini tidak ada keserakahan.

Dampak Tumpahan Batu Bara di Laut

Menurut Kartika, 2021 dalam jurnal hasil penelitian menerangkan bahwa tumpahan batu bara yang mecemari laut akan membawa pengaruh negatif bagi berbagai organisme laut. Juga berdampak terhadap beberapa jenis burung.

Air laut yang tercemar itu juga akan mengganggu organisme aquatik pantai, seperti berbagai jenis ikan, terumbu karang, hutan mangrove dan rusaknya wisata pantai. Pada akhirnya nelayan dan petani juga akan mengalami kerugian secara ekonomis.

Melihat dampak dari pencemaran batu bara yang tumpah ke laut, maka perlu diturunkan tim ahli dari pemerintah pusat dalam menghitung kerugian negara akibat tumpahan batu bara dan pencemaran yang selama ini terjadi dan dilakukan perusahaan tambang batu bara yang mengunakan laut sebagai sarana distribusi hasil tambang kepada penguna.

Penetapan kerugian negara ini perlu dilaksanakan agar memberi sanksi tegas kepada pengusaha dan memberi efek jera kepada perusahaan. Dengan demikian memberi pengaruh kepada pengusaha tambang lainnya agar tidak lalai dalam melakukan aktifitasnya.***

Baca juga: Rencana Pertambangan PT. TMS dan Alasan Warga Pulau Sangihe Menolak

Editor: J. F. Sofyan

Sumber:

M. Kartika (2021), PENCEMARAN LAUT AKIBAT TUMPAHAN BATU BARA DI LAUT MEULABOH DITINJAU DARI SUDUT HUKUM LINGKUNGAN: Jurnal Hasil Penelitian. Juli 2021, Vol 6, No. 2

Ditulis oleh:

Bagikan:
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Email
Print

Tanggapan