“Penyu Makan Apa?”

(Photo by Zdeněk Macháček on Unsplash

“Ren, penyu makan apa?”

Tanpa alasan jelas teman yang saya kenal secara online tiba-tiba saja bertanya demikian. Tidak salah karena mengetahui kalau yang ditanyai adalah seorang mahasiswa ilmu kelautan. Saya jadi teringat saat masih mahasiswa baru, dosen saya membawakan sebuah materi yang memperkenalkan laut serta isinya. Penyu di laut itu makan ubur-ubur.

Penyu adalah gelatinovora dan ubur-ubur adalah makanan lezat bagi mereka. Namun, tentu saja saya tidak akan menjawab selempeng ini. Pastinya teman saya akan membalas “kenapa penyu makan ubur-ubur?”. Saya tidak terlalu mengingat apa yang dosen jelaskan hari itu, jadi untuk menambah referensi dan memperkuat jawab saya mencari bahan di internet.

Hanya saja, ekspektasi saya hancur seketika saat sekitar 187.000 hasil pencarian diperlihatkan di monitor.

“Alasan Penyu Kerap Memakan Sampah Plastik”.
“Mengenaskan, Penyu Ini Mati Setelah Mengonsumsi Plastik”.
“Kenapa Penyu Makan Plastik?”.

Untuk beberapa saat saya hampir tak bisa berkedip. Ada apa dengan ubur-ubur dan plastik? Apakah selama ini penyu sebenarnya memakan plastik dan bukannya ubur-ubur?

Kubuka satu situs dan menemukan sebuah potret bangkai penyu di tepi pantai dengan kantong plastik bewarna merah mudah masih tercapit di kedua bibirnya. Mengenaskan lagi miris. Apakah ini alasan sebenarnya teman saya bertanya demikian? Dia sudah melihat semua foto itu sebelumnya lalu bertanya kepada saya.

Dari mencari alasan mengapa ubur-ubur, berubah seketika menjadi plastik. Penyu bisa mengonsumsi 200kg ubur-ubur setiap harinya, tapi penyu tidak bisa membedakan makanannya dengan plastik. Awalnya saya mengira karena warnanya sama-sama transparan, tetapi beberapa gambar yang saya temukan terlihat penyu juga mengonsumsi pecahan-pecahan plastik yang sama sekali tidak mirip dengan ubur-ubur secara visual.

Menurut Pfaller et, al (2020), penyu juga tidak dapat membedakan bau dari plastik dan makanannya. Dalam penelitian yang dia lakukan, Pfaller mengambil sampel 15 penyu yang berusia rata-rata 5 bulan yang diambil dari pulau Bald Head dan kemudian ditempatkan pada 4 akuarium dengan keadaan yang berbeda.

Setiap akuarium akan disemprot udara beraroma yang diantaranya berupa air deionisasi, tepung ikan dan udang, plastik bersih, dan plastik biofouled. Hasilnya menunjukkan tidak adanya perbedaan tingkah laku yang jauh antara ke empat keadaan tersebut.

Penyu memiliki respon yang tidak jauh berbeda saat disemprotkan tepung ikan dan udang dengan saat disemprotkan plastik biofouled. Bahkan, dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Cordova (2017) menunjukkan bahwa sekitar 370 spesies hewan laut telah ditemukan terjerat atau menelan sampah laut di seluruh dunia.

Di antaranya tujuh spesies penyu laut, 14 spesies paus, 20 spesies anjing laut, dan 56 spesies burung laut ditemukan terjerat dan mengkonsumsi plastik dalam jumlah besar. Tidak cukup, dalam penelitian yang dilakukan oleh Yudhantari et, al (2017) menunjukkan bahwa sebanyak 15 ikan lemuru protolan yang biasa ditangkap oleh nelayan di Selat Bali mengandung mikroplastik berupa fiber dan film.

Ini menunjukkan plastik yang terbuang ke laut tidak hanya berbahaya bagi makhluk laut itu sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana saat nelayan menangkap ikan lalu menjualnya ke pasar, lalu seseorang membelinya dan memasaknya untuk dijadikan santapan keluarga.

Mungkin kalimat “Jangan membuang sampah plastik ke laut, karena penyu akan memakannya” tidak cukup. Namun, kalimat “Sampah yang kau buang ke laut suatu saat hanya akan kembali ke meja makanmu” seharusnya bisa menyadarkan kita jika sampah plastik berdampak lebih buruk daripada yang kita semua kira.

Jika suatu hari nanti saya punya seorang anak, dan anak saya mempunyai cucu, mungkin pertanyaan yang akan dia keluarkan bukanlah “Kek, penyu makan apa?“. Namun, yang dia tanyakan adalah, “Kek, apa itu penyu?” 

Sungguh miris, tapi memang hal ini sangat rentan terjadi jika kita tidak megurangi dan berusaha menghentikan krisis polusi plastik di laut !

Editor : Annisa Dian Ndari

Baca Juga

Tanggapan

  1. Kalau dari sekarang masih acuh dengan persoalan sampah plastik mungkin mereka (generasi selanjutnya) tidak mempertanyakan tentang “penyu makan apa” atau “penyu itu apa” tapi malah bertanya “kenapa penyu bisa hilang?”. Dan sungguh memalukan karena itu terjadi akibat ulah manusia. Apa kita sanggup menjawab “itu karena saya”.