Pengaruh CO2 Terhadap Kesehatan Laut

Mungkin kalian sudah sering mendengar bahwa atmosfer kita telah dipenuhi oleh CO2 berlebih. Asap kendaraan bermotor, aktivitas pabrik, aktivitas rumahan, dan pembakaran bahan bakar menjadi penyebab utamanya.

Akibatnya, suhu permukaan bumi meningkat, cuaca menjadi tak menentu dan terjadinya kerusakan lingkungan yang tidak hanya merugikan manusia, tapi juga makhluk hidup lainnya.

Laut sebagai penyerap karbon terbesar di bumi
Gambar 1. Laut sebagai penyerap karbon terbesar di bumi

Semenjak kadar CO2 di atmosfer meningkat, laut menjadi komponen yang menyerap hampir setengah dari total CO2 di atmosfer. Hal ini tentunya sangat baik untuk mengembalikan kadar CO2 di atmosfer kembali normal. Namun, kemampuan menyerap CO2 yang dimiliki laut juga memiliki batasan.

Pada akhirnya laut akan kelebihan CO2 dan menyebabkan suhu permukaan air laut meningkat. Dampak lainya adalah kemampuannya menyerap CO2 menjadi menurun.

Hal yang tadi disebutkan hanya sebagian kecil dari masalah yang muncul. Masalah yang lebih besar muncul ketika sudah mempengaruhi kehidupan makhluk hidup di laut. Beberapa kelompok hewan yang terpengaruh yaitu beberapa spesies moluska, kelompok krustasea dan karang.

Hal ini akan berdampak pada menurunnya produktivitas perairan. Menurunnya produktivitas perairan akan menyebabkan munculnya masalah ekonomi, sosial dan budaya. Khususnya pada masyarakat yang bergantung pada sumber daya perairannya seperti masyarakat kepulauan.

Gambar 2. Melunaknya tubuh kepiting karena tidak mampu menyerap ion karbonat dengan baik

Beberapa spesies moluska, krustasea, dan karang membutuhkan struktur tubuh yang keras untuk dapat bertahan hidup. struktur tubuh yang keras dihasilkan dari proses penyerapan ion carbonat yang ada di laut. Sayangya, CO2 yang terlarut di air, menghasilkan ion H+ yang sangat reaktif terhadap ion karbonat.

Sehingga, antara ion hidrogen dan hewan tersebut, akan berkompetisi merebutkan ion karbonat. Terlalu tingginya kadar ion hidrogen yang ada di laut, menyebabkan proses penyerapan ion karbonat oleh hewan – hewan tersebut menjadi terhambat. Pada akhirnya, pertumbuhan hewan tersebut menjadi terhambat dan bahkan menjadi mati.

Gambar 3. Reaksi terjadinya pengasaman laut

Tidak hanya merebut ion karbonat, ion hidrogen berlebih juga menyebabkan penurunan pH air laut. Menurunnya pH air laut akan menyebabkan laut cenderung lebih asam. Walaupun hanya menurun 0,1 unit, tetapi dampaknya akan sangat besar.

Khususnya pada ekosistem karang yang membutuhkan kondisi perairan yang stabil untuk dapat hidup dengan baik. Terjadinya pemutihan karang, hanyalah awal dari terjadinya kerusakan ekosistem karang yang lebih luas. Bukan tidak mungkin hal ini akan merusak keseimbangan ekosistem dan berujung pada punahnya hewan – hewan di laut.

Gambar 4. Pemutihan karang (Coral Bleaching)

Alam memang selalu punya caranya sendiri untuk mengembalikan keseimbangannya. Namun tidak pernah dalam waktu yang singkat. Terlebih, manusia masih terus menerus menyumbang CO2 ke atmosfer.

Sejak 400.000 tahun yang lalu, manusia telah meningkatkan kadar CO2 di atmosfer sebesar 400 PPM (Part per million) dari yang mulanya hanya 280 PPM.

Bahkan, diprediksi akan terus melambung ke angka 500 PPM pada tahun 2100. Tentunya kita tidak ingin menunggu sampai manusia punah agar alam mampu menyeimbangkan kondisinya lagi. Bisa dimulai dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fossil untuk aktivitas sehari – hari.

Editor : Annisa Dian Ndari

Related Articles

Responses