Lautan dan Manusia, Hubungan yang Kian Renggang

Lautan adalah samudra yang membentang luas tak terbendung oleh apapun, yang hamparannya menguasai lebih dari dua per tiga bagian bumi ini dengan keindahannya yang tiada tara. Tempat dengan beribu-ribu manfaat dan keindahan alamnya yang memukau, mulai dari flora hingga faunanya yang sangat unik dan beraneka ragam hidup didalamnya.

Samudra juga tempat untuk para nelayan mencari rezeki dan juga sarana untuk berpindah antar pulau. Disana banyak cerita yang sering di sangkut pautkan dengan masa lalu, tempat dengan beribu-ribu sejarah, dengan rahasia yang masih belum kita ketahui dan tempat dengan banyak rahasia serta sangat misterius.

Namun sekarang dia sedang menangis, karena kurang di perhatikan oleh kita. Banyak sampah berserakan dilaut, yang jumlahnya saja kita tidak ketahui jumlah pastinya. Banyak dari sampah-sampah tersebut yang susah terurai, bahkan butuh ribuan tahun untuk terurai.

Ilustrasi lautan dipenuhi oleh sampah plastik. / Foto: Greenpeace/Gavin Newman

Banyak juga hewan di laut yang salah memakan makanannya karena mengira sampah itu adalah makanannya. Contohnya penyu yang memakan plastik karena termakan fatamorgana yang mengira plastik mirip dengan Ubur-ubur. Banyak juga yang terjerat atau terperangkap oleh  sampah yang mengakibatkan hewan tersebut mobilitasnya terganggu dan susah bergerak. Seperti singa laut yang terjerat tali bekas balon yang diterbangkan ke angkasa lalu kempis dan jatuh dilaut .

Bukankah seharusnya kita melindunginya? Bukankah kita memang seharusnya menjaganya?

Bukankah laut adalah bagian dari alam dan bumi yang memang diamanahkan untuk kita oleh sang pencipta lewat dunia yang fana. Seharusnya sekarang kita sadar bahwa kegiatan yang merugikan untuk laut seperti pengeboman terumbu karang, meracuni laut, membuang sampah di sekitar pantai dan laut, dan yang lainnya itu bukanlah sesuatu yang dibiarkan dan diperbolehkan oleh kita manusia.

Sudah seharusnya kita mulai memikirkan dan memperbaiki hal yang selama ini telah banyak kita rusak di muka bumi ini. Mulai dari bagaimana caranya kita mengembalikan terumbu karang yang telah mati dan hancur akibat pengeboman illegal. Bagaimana caranya kita membersihkan hasil limbah yang telah di buang kelaut tanpa di filter terlebih dahulu.

Ilustrasi Penyu memakan plastik. / Foto: Troy Mayne/Oceanic Imagery Publication

Masih banyak masalah yang berhubungan dengan laut. Apakah hal yang sudah kita lakukan untuk bisa memperbaikinya, atau malah kita juga yang merusaknya? Untuk memperbaikinya, cara sekarang yang paling efektif bisa dimulai dari diri kita sendiri, seperti mengurangi penggunaan sampah yang berbahan baku plastik, tidak membuang sampah sembarangan kelaut, karena laut bukan tempat sampah.

Pada saat kegiatan “Young Explorer”, aku melihat lumayan banyak sampah, di laut ataupun daerah pesisirnya, yang membuat kesadaranku terhadap sampah ini naik dan ingin berusaha memperbaiki kondisi saat ini melalui beberapa kontribusi, walaupun kontribusiku belum besar.

Yang penting aku tetap berusaha untuk terus berkomitmen dan konsisten dalam berkontribusi untuk lautku yang indah ini. Aku juga tidak ingin laut berakhir seperti saat ini yang penuh dengan sampah. Aku ingin generasiku dan generasi anak cucuku nanti masih bisa menyaksikan dan menikmati laut yang amat sangat indah, apalagi tanpa sampah didalamnya.

Selama kegiatan “Young Explorer” di Pantai Tanjung Bira, kami melakukan kegiatan seperti kampanye tentang konservasi penyu dan terumbu karang kepada para wisatawan di sekitar pantai, kami juga melakukan kegiatan WBA (Waste Brand Audit) yaitu bersih-bersih pantai dan mendata sampah di sekitar area Pantai Tanjung Bira.

Ilustrasi Waste Brand Audit. / Foto: Ahmad Subaidi/Greenpeace

Kegiatan ini juga di dukung oleh komunitas pecinta lingkungan bernama Greenpeace. Kami juga melakukan kegiatan tentang lingkungan di Pulau Selayar seperti, konservasi terumbu karang dengan cara melakukan transplantasi karang.

Pada saat selebrasi di Pulau Selayar, kami melakukan pelepasan tukik dengan jenis Penyu Lekang. Selama kegiatan pun aku tetap berusaha untuk membantu memperbaiki dan menjaga lautan. Walaupun kontribusinya belum besar. Berharap hasilnya nanti bisa besar dan terus berkembang supaya lautan tetap terjaga keindahannya dan keanekaragaman flora dan faunanya.

Laut itu adalah anugrah yang diberikan oleh sang pencipta kepada kita manusia untuk dapat dimanfaatkan dan dijaga baik-baik dengan cara tidak merusaknya tidak mengotorinya.

Menjaga laut pun adalah salah satu bentuk syukur kita pada sang pencipta yang telah mempercayakan dan mengamanahkan lautan ini untuk kita semua. “AYO jaga LAUT milik kita bersama”.

Baca juga: Menjaga Laut Sehat, Menyehatkan Mental Kita

Editor: J. F. Sofyan

Ditulis oleh:

Bagikan:
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Email
Print

Tanggapan