Pantai Plastik Muncar, Warisan Nenek Moyang

Perkenalkan, saya Zaqi, putra Muncar. Ya, Muncar yang dulu pernah menjadi Pelabuhan perikanan terbesar se-Indonesia.

Bapakku adalah nelayan kawakan yang sudah menggeluti profesi tersebut sejak puluhan tahun yang lalu. Saudara dan keluarga besarku juga banyak yang menjadi nelayan hingga sekarang. Mulai dari paman, pakde, hingga kakek buyut. Maka sangat pantas jika kusebut bahwa nenek moyangku adalah seorang pelaut. Lalu apa Kabar lautku sekarang? Laut warisan nenek moyang!

pantai plastik muncar
Pelabuhan perikanan Muncar, Banyuwangi. / Foto: Amad Muzaqi

Inilah kabar laut di sekitarku, bukan kenangan tentang perjuangan, bukan keindahan pasir yang menjulur panjang, juga bukan banyaknya terumbu karang. Namun tentang polusi dan banyaknya sampah yang berserakan menjadikan pantai sudah bukan terisi oleh pasir tapi oleh plastik.

Dan kabar buruknya adalah sampah plastik masih menjadi yang paling dominan. Padahal bagiku, plastik merupakan penemuan terbaik di abad ini.

Bayangkan saja, dulu hanya untuk membuat kantong belanja, penebangan hutan harus dilakukan dimana mana. Namun entah kenapa justru sekarang keberadaan plastik seolah menjadi nestapa.

Buktinya sangat jelas terlihat di lautan, sampah plastik yang dibuang sembarangan akan menjadi penghancur bagi terumbu karang, dan apabila hal ini terus di biarkan, jangankan terumbu karang, jumlah ikan di lautan pun semakin hari akan terus berkurang karena selain rumah ikan yang hacur plastik tersebut bisa langsung dilahap oleh ikan-ikan.

Ini baru tentang sampah plastik di lautan. Belum lagi masalah sampah jaring dan peralatan penangkap ikan yang sering di buang begitu saja ke laut tanpa beban oleh nelayan.

Yup, nelayan yang sudah jelas kehidupannya bertumpu pada hasil laut di sektor perikanan. Padahal sudah jelas perilaku tersebut akan langsung berdampak pada penghasilan mereka.

Pantai Plastik Muncar
Pelabuhan perikanan Muncar, Banyuwangi. / Foto: Amad Muzaqi

Apakah ini bentuk ketidaktahuan, namun jika benar-benar tidak tahu tentang ilmu lingkungan, cara pandang paling sederhana menggunakanan paradigma keindahan harusnya sudah sangat cukup untuk upaya menjaga lautan.

Atau kurangnya kepedulian terhadap lautan? Jika ini tentang kepedulian, harusnya perasaan nyaman bagi orang-orang pesisir yang tinggal berdampingan dengan laut sudah kuat untuk menjadi alasan agar tidak melakukan pencemaran.

Namun entalah, mungkin mereka tidak tau bahwa laut akan diwariskan untuk anak cucu atau bisa jadi mereka tidak punya waktu untuk memikirkan laut sebagai warisan dari nenek moyangku.

Bagiku, jangankan memikirkan, hanya sekedar memandang kondisi laut sekarang saja merupakan siksaan yang cukup membuat hati ngilu.

Kadang sering berangan-angan jika laut terus di biarkan seperti kondisi sekarang, entah bagaimana nasib anak cucuku nanti. Mungkin saja laut sudah tidak bisa lagi menjadi penopang kehidupan seperti zaman nenek moyangku dulu. 

Yang jelas sudah saatnya kita sekarang mengambil peran untuk perubahan. Mulai dari yang terkecil yaitu tidak membuang sampah sembarangan hingga mengajak orang lain untuk berperan dalam menjaga lautan.

Ini sangat mungkin dilakukan dan selayaknya memang wajib dilakukan. Bisa dengan menciptakan atau mengkoordinir kelompok nelayan, mensosialisasikan tentang kebijakan yang sudah ada namun jarang di terapkan, memberikan pengertian tentang pentingnya menjaga kebersihan lautan, hingga memberikan contoh dampak yang sudah ada dan dirasakan langsung oleh para nelayan yang disebabkan oleh pencemaran.

Kerjasama semua stakeholder terkait juga dibutuhkan agar gerakan ini aman dari masalah kebijakan, pendampingan, dan pendanaan.

Output dari cara ini adalah menciptakan agen-agen baru yang mampu menjadi influencer bagi masyarakat sekitar. Karena untuk mengatasi pencemaran laut, langkah awal yang dilakukan memang harus membangun kesadaran masyarakat yang menjadi aktor dan sumber dari pencemaran.

Setelah semua sadar baru bisa berbicara tentang dibersihkan atau ditata ulang. Karena akan percuma jika dibersihkan namun sumber masalahnya belum terselesaikan. Syukur-syukur langkah ini bisa berjalan beriringan agar prosesnya lebih cepat dan hasilnya bisa memuaskan.

Entah berapa lama solusi ini dan berapa banyak alternatif lain yang harus dilakukan, entah butuh waktu berapa tahun atau berapa generasi baru bisa mencapai tujuan yang di harapkan.

Namun yang jelas upaya menjaga lingkungan harus terus dilakukan sebagai bentuk ikhtiar kita dalam menjaga lautan dan upaya menjaga bumi agar tetap menjadi tempat yang layak untuk di huni.***

Baca juga: Aku dan Kisah Pencemaranku

Editor: J. F. Sofyan

Tanggapan