Muda Berdaya, Laut Terjaga!

“People are suffering. People are dying. Entire ecosystems are collapsing. We are in the beginning of a mass extinction, and all you can talk about is money and fairy tales of eternal economic growth. How dare you!”

Kutipan di atas ialah keresahan Greta Thunberg, pemudi asal Swedia, yang menghentak dunia lewat pidatonya tentang kerusakan lingkungan hidup di sebuah forum Persatuan Bangsa-Bangsa (23/9/2019).

Greta Thunberg takut, bila perusakan lingkungan hidup terus menerus terjadi, maka ketika dewasa, ia dan adiknya dan seluruh kaum muda akan merasakan dampaknya. Oleh sebab itu, Greta mulai menyuarakan kegelisahannya, setiap Jumat di depan gedung parlemen Swedia, ia duduk dan membawa papan yang berisi tuntutan untuk penanganan krisis iklim dan lingkungan hidup. Aksi Greta tidak hanya menjadi perhatian publik Swedia, tetapi atensi seluruh dunia pun tertuju kepadanya.

Greta Thunberg Memimpin Aksi Krisis Iklim. © Greenpeace / Eric De Mildt
Greta Thunberg Memimpin Aksi Peringatan Krisis Iklim./© Greenpeace / Eric De Mildt

Kita patut salut pada keberanian Greta Thunberg menyuarakan keresahannya terhadap kerusakan lingkungan. Walaupun ia lahir dan besar di Swedia yang merupakan salah satu negara paling ramah lingkungan di dunia, Greta tetap menunjukkan rasa pedulinya pada kelestarian lingkungan. Saya membayangkan, jika Greta Thunberg adalah pemudi yang berasal dari Indonesia, maka betapa marahnya ia dan betapa dia tak akan diam melihat masalah lingkungan hidup di Indonesia yang terus menerus terjadi.

Kita sebut saja salah satu permasalahan lingkungan di Indonesia yang kini menjadi sorotan: Sampah Plastik! Bagaimana tidak, sampah plastik di Indonesia tidak hanya tersebar di pemukiman penduduk saja, tetapi sampah plastik telah banyak ditemukan di sepanjang garis pantai dan lautan luas. Jambeck (2015) menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dunia setelah China yang menghasilkan 187,2  Juta Ton sampah plastik. Hal itu berkaitan dengan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia yang menyebutkan bahwa plastik hasil dari 100 toko saja dalam satu tahun, telah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik, jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektar (Purwaningrum, 2016).

Daftar Negara Penghasil Sampah Plastik Terbanyak. Source: TKN PSL.

Melihat data-data di atas saja sudah terbayang ekspresi marah atau resahnya Greta Thunberg, apalagi bila ia melihat langsung kondisi sungai, pantai dan laut Indonesia yang dipenuhi sampah plastik yang membutuhkan waktu sampai ratusan tahun untuk bisa terurai.

Lantas, bagaimana sikap kaum muda Indonesia? Bagaimana respon yang bisa dilakukan untuk mengurai persoalan sampah plastik di Indonesia?

Pandangan Hidup

Kaum muda adalah salah satu aktor kunci dalam sebagian besar perubahan sosial. Hal ini dikeranakan kaum muda telah memiliki kesadaran penuh dalam memilih pandangan hidup. Pandangan hidup ini tercermin melalui tindakan, minat, ataupun kebiasaan yang dilakukan. Kaum muda yang masuk dalam tahap dewasa awal, biasanya mulai menampakkan pandangan hidupnya melalui sikap peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar. Kaum muda seringkali menunjukkan gelagat perlawanan atau ketidakpuasan terhadap apa yang terjadi. Gelagat itulah yang nantinya akan mengubah cara-cara lama dari generasi sebelumnya yang dianggap bermasalah.

Semua tindakan manusia memang ditentukan oleh pandangan hidup. Permasalahan lingkungan hidup yang terjadi juga berawal dari kesalahan manusia memandang diri. Dalam teori etika lingkungan, ada dua tipe pandangan manusia terhadap lingkungan hidup.

Pertama, pandangan antroposentrisme, yang menekankan manusia sebagai pusat alam semesta, sedangkan hal-hal di luar dirinya, termasuk lingkungan hidup, hanya berperan sebagai alat pendukung manusia yang menjadi pusat alam semesta.

Kedua, biosentrisme/ekosentrisme, yaitu pandangan yang percaya bahwa manusia hanya salah satu entitas di alam semesta dan hanya sebagai bagian dari mahluk ekologis. Pandangan kedua ini, melihat bahwa kehidupan manusia saling bergantung pada semua entitas lain di alam semesta.

Untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup, kaum muda sebagai aktor kunci perubahan, dapat memahami terlebih dahulu bahwa kita, manusia, bukanlah pusat alam semesta. Setelah itu, kaum muda bisa memilih dengan sadar untuk percaya bahwa manusia hanyalah entitas kecil di alam semesta ini dan kehidupannya sangat bergantung dengan kehidupan lain.

Semakin meningkatnya produksi sampah plastik mengindikasikan bahwa selama ini manusia tidak mengindahkan entitas lain di bumi ini seperti sungai, lautan,  ikan-ikan dan hanya menetapkan dirinya sebagai pusat alam semesta.

Bila Pandangan Hidup biosentrisme/ekosentrisme telah meresap ke dalam diri, maka para kaum muda telah memiliki landasan kuat untuk bertindak dan berkontribusi dalam menjaga sungai, lautan dan ikan-ikan sebagai entitas lain di bumi. Pandangan hidup itu akan tercermin dari dua hal; Pertama, gaya hidup (life style). Kedua, tindakan atau aksi yang dilakukan.

1. Gaya hidup

Kaum muda seringkali diidentikkan dengan gaya hidup konsumtif hedonis, yaitu suatu upaya penciptaan kenikmatan dengan cara konsumsi berlebihan. Konsumsi berlebihan dapat terjadi karena pola pikir dan tindakan di mana orang membeli barang bukan karena ia membutuhkan barang itu, melainkan karena tindakan membeli itu memberikan kepuasan diri. Gaya hidup seperti ini akan sejalan dengan konsumsi barang, yang tentu saja menghasilkan limbah/sampah.

Aktivitas ekonomi memang tidak bisa dipisahkan hubungannya dengan ekologi atau lingkungan hidup. Sebab proses produksi dan konsumsi akan mempengaruhi keberlanjutan ekologi. Makanya, pemisahan pandangan mengenai aktivitas ekonomi dengan ekologi sangatlah tidak tepat. Seharusnya, ekologi dan ekonomi menjadi disiplin ilmu yang saling mendukung satu sama lain untuk mendukung keberlanjutan alam.

Oleh sebab itu, meninggalkan gaya hidup konsumtif hedonis adalah suatu tindakan yang turut membantu pelestarian lingkungan. Kaum muda dapat mengubah gaya hidup komsumtif menjadi gaya hidup yang lebih hijau (green lifestyle). Green lifestyle merupakan sebuah gaya hidup yang berdampak positif bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Gaya hidup ini, dapat dimulai dari tindakan kecil namun akan berdampak besar. Misalnya mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai dengan membawa tas setiap kali berbelanja, atau mengurangai penggunaan kemasan plastik/styrofoam sekali pakai dengan membawa kotak makan dan botol air minum.

© Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace

Selain itu, kaum muda juga bisa beralih menggunakan produk hijau yang ramah terhadap lingkungan. Produk hijau yang memiliki kemasan yang dapat didaur ulang atau dapat diurai oleh alam, dipercaya dapat meningkatkan secara signifikan kualitas lingkungan. Kaum muda sebagai pencerap pengetahuan dan aktor perubahan, dapat berkontribusi positif terhadap pelestarian lingkungan, dengan cara mengubah pola konsumsi barang dengan limbah, ke barang nir-limbah.

Sikap mengubah gaya hidup ini tentu akan menjadi sumbangsih tersendiri dalam upaya mengurangi sampah plastik. Walaupun tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun kebiasaan yang tidak selaras dengan lingkungan dapat diubah sedikit demi sedikit. Memperkenalkan pandangan hidup ekosentrisme sedini mungkin pada kaum muda menjadi salah satu jalan untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan dan paham etika lingkungan.

2. Tindakan/Aksi

Kaum muda dapat menunjukkan tindakkan/aksi nyata dalam melestarikan lingkungan dengan membangun gerakan sosial dalam bentuk organisasi pemuda atau perkumpulan yang fokus pada isu lingkungan. Di perkumpulan atau organisasi inilah, kaum muda berkreasi untuk berkontribusi ke lingkungan sekitarnya. Misalnya, membuat kegiatan sosial, advokasi nelayan dan petani, hingga menggelar aksi bersih pantai dan penanaman pohon.

Aksi Bersih Pantai Volunteer Greenpeace Indonesia.© Muhammad Adimaja / Greenpeace

Pandawara Group merupakan salah satu contoh perkumpulan kaum muda yang memiliki fokus pada persoalan sampah. Group ini sempat ramai dibicarakan. Mereka adalah lima orang pemuda yang mulai menarik perhatian sejak melakukan aksi bersih parit dan sungai dari sampah plastik. Setelah memiliki pengaruh yang cukup besar, mereka kemudian mulai menggerakkan para pihak untuk membersihkan pantai-pantai terkotor di Indonesia. Walaupun banyak yang menaggap aksi mereka hanya mengatasi muara dari pemasalahan sampah, namun setidaknya aksi mereka telah berkontribusi pada lingkungan.

Kegiatan-kegiatan seperti itu juga sering dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat atau Non Goverment Organization (NGO), di mana banyak kaum muda yang tergabung di dalamnya. Selain melakukan aksi bersih lingkungan, kaum muda yang bekerja di NGO juga aktif melakukan lobi/advokasi untuk mengatasi hulu dari persoalan sampah plastik. Mereka menyuarakkan dan menuntut tanggung jawab para korporasi produsen produk yang menggunakan kemasan plastik dan pemerintah sebagai pembuat regulasi untuk mengatasi persoalan ini. Sebab, tanggung jawab persoalan sampah plastik tidak hanya ada di tangan masyarakat, tetapi para korporasi dan pemerintah juga harus ikut bertanggung jawab.

Aksi Greenpeace Indonesia and Zero Waste Indonesia Alliance ((AZWI) di Kantor Unilever. © Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace

Selain di NGO, kaum muda juga sudah banyak membuat perkumpulan atau organisasi pecinta alam, baik yang fokus pada gunung atau pun yang fokus pada laut (dive club). Lewat perkumpulan pecinta alam, kaum muda menempa diri dengan kegiatan petualangan dan tidak lupa melakukan upaya-upaya konservasi sebagai bentuk kecintaan mereka pada alam, seperti melakukan penanaman mangrove, transplantasi karang dan under water clean up.

Partisipasi kaum muda pada kegiatan-kegiatan NGO dan perkumpulan pecinta alam, menjadi tanda bahwa di negeri ini Greta Thunberg mempunyai banyak teman dengan visi-misi yang sama. Sebab, kepedulian sosial-ekologi pemuda Indonesia telah tumbuh menjadi suatu tindakan/aksi untuk melestarikan lingkungan hidup, termasuk gunung dan laut. Bila semua kaum muda di negeri ini berdaya dan beraksi, maka gunung dan lautan tentu akan terjaga!***

Artikel Terkait

Persaingan Nelayan Versus Perusahaan Perikanan Raksasa

Pada September 2022, laporan Greenpeace Asia Timur berjudul “Fake My Catch – the unreliable traceability in our tuna cans” menemukan bahwa kapal-kapal perikanan Taiwan yang memasok hasil tangkapan ke merek makanan laut Amerika Serikat, Bumble Bee, melalui perusahaan pengolah tuna, Fong Chun Formosa (FCF), diduga melakukan penangkapan ikan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai produksinya.

Tanggapan