Emisi Sehari-hari, Mengikis Fungsi Ekologis Lautan

Memiliki wilayah perairan yang luas menjadikan Indonesia kaya akan sumber daya alam khususnya berasal dari llaut. Sumber daya laut yang memiliki manfaat di berbagai bidang guna memenuhi kebutuhan hidup masyarakat mencakup flora dan fauna mulai dari perairan dalam hingga ke daerah pasang surut di pantai dataran tinggi dan daerah muara yang luas.

Adanya kelimpahan sumber daya laut ini didasari oleh luasnya wilayah laut Indonesia yang mencapai 70% wilayah negaranya. Maka dari itu optimalisasi potensi sumber daya laut di Indonesia perlu dilakukan guna meningkatkan pembangunan negara.

Laut merupakan wilayah perairan asin yang luas, dan memisahkan sekaligus menyatukan suatu daerah dengan daratan lain. Perairan asin atau salinitas laut ini disebabkan oleh mineral klorida dan natrium yang paling banyak bereaksi dengan gas CO2 yang terserap oleh molekul air laut dan menciptakan asam karbonat (H2CO3).

Asam karbonat yang terbentuk akan membuat perairan sedikit asam karena asam karbonat akan menjadi
bikarbonat dan ion hidrogen bebas. Akan tetapi, karena kadar CO2 di atmosfer tidak kunjung berkurang, maka akibat yang dapat timbul ialah laut mencapai kapasitas maksimalnya dalam menampung CO2.

Kelebihan CO2 di laut akan memicu terjadinya pengasaman laut. Pengasaman laut terjadi karena pH air laut mengalami penurunan akibat peningkatan kadar CO2 terlarut di laut. Ion Hidrogen yang terbentuk dari pemecahan asam karbonat akan menyebabkan pH cenderung asam.

Meningkatnya kadar CO2 yang masuk ke laut menyebabkan ion H yang terbentuk menjadi lebih banyak dan akhirnya terjadilah pengasaman laut.

Laut sebagai penyerap karbon terbesar di bumi (
Ilustrasi pelepasan emisi di darat tiba ke lautan.

Jika pengasaman ini terjadi secara kontinu, maka tingkat keasaman akan terus terakumulasi dan menyebabkan peningkatan kadar asam serta penurunan nilai pH air laut.

Penyebab utama dari kenaikan tingkat keasaman di laut adalah aktivitas manusia. Menurut Yaqin dan Kabangnga (2015), peningkatan aktivitas manusia tidak terlepas dari buangan limbah antropogenik. Pengemisian CO2 secara masif akibat dari penggunaan bahan bakar fosil pada berbagai industri dan kendaraan bermotor akan naik menuju atmosfer.

CO2 yang turun dari atmosfer akan memasuki laut dan bereaksi dengan air dan membentuk asam karbonat. Hal ini membuat kadar kalsium karbonat di laut menjadi turun.

Penurunan kadar kalsium karbonat menghambat proses kalsifikasi biota laut yang menggunakan kalsium karbonat. Hal ini akan mengakibatkan semakin kecilnya ukuran tubuh biota tersebut dan bahkan akan mempengaruhi jumlah populasi dan berdampak pada terbentuknya karang.

Apabila produksi CO2 yang berlebih terus terjadi, tidak menutup kemungkinan keadaan laut akan semakin memburuk hari demi hari. Laut akan berada di ambang kerusakan dan hewan-hewan penghuni laut akan mengalami ancaman kepunahan.

Kerusakan laut dan kepunahan beberapa hewan di laut tentunya akan berdampak kepada manusia. Hilangnya fungsi laut sebagai penyerap panas, hilangnya fungsi laut sebagai sumber pasokan oksigen
terbesar di bumi, hilangnya sumber protein terbesar untuk manusia, dan masih banyak dampak negatif yang dapat muncul dari kerusakan yang terjadi.

Manusia sebagai makhluk yang berakal perlu melakukan suatu hal untuk mencegah dampak-dampak tersebut untuk kesejahteraan bumi dan isinya.

Lalu, Apa Hal Sehari-hari yang Dapat Kita Lakukan Terhadap Peristiwa Ini?

Salah satunya adalah dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Pada era digital seperti sekarang, sudah banyak tersedia jasa transportasi yang dapat dijangkau hanya lewat gadget. Namun
banyaknya jasa transportasi ini juga merupakan salah satu faktor terkumpulnya emisi karbon.

Dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi ini akan mengendalikan jejak karbon
yang disebabkan pembakaran bahan bakar fosil. Solusi permasalahan ini adalah energi
terbarukan, tetapi pengembangan energi terbarukan belum sampai ke tahap yang efisien sehingga penggunaan batu bara masih langgeng.

lawan krisis iklim
Sejumlah orang bersepeda untuk meminimalisir emisi. / Foto: Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace

Selain transportasi, mengurangi penggunaan listrik juga dapat dilakukan sebagai upaya ringan untuk mencegah kenaikan produksi CO2 di atmosfer bumi. Penggunaan listrik yang berlebih otomatis akan menaikkan tingkat permintaan listrik yang menyebabkan suplai listrik akan ditambah. Penambahan suplai listrik akan menambah emisi karbon di atmosfer karena pembakaran batubara menghasilkan CO2.

Sebagai penanggulangan emisi karbon yang terlanjur merajalela di atmosfer bumi, dapat dilakukan penanaman pohon atau reboisasi. Khusus pesisir laut dapat dilakukan konservasi hutan mangrove pada mulut pantai maupun daerah estuari.

Peran penting ekosistem mangrove adalah sebagai absorber dan tempat reservoir CO2. Potensi penyimpanan karbon pada substrat lumpur mangrove sangatlah besar. Oleh karena itu estimasi penyimpanan karbon pada substrat lumpur mangrove dapat dijadikan acuan dasar dalam
penilaian manfaat ekonomis mangrove dalam bentuk komoditi jasa lingkungan.

Pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan cocok untuk penyerapan dan penyimpanan karbon. Selain
melindungi daerah pesisir dari abrasi, tanaman mangrove mampu menyerap emisi yang terlepas dari lautan dan udara.

Penyerapan emisi gas buang menjadi maksimal karena mangrove memiliki sistem akar napas dan keunikan struktur tumbuhan pantai. Tentunya dengan pencegahan dan penanggulangan ini diharapkan emisi karbon yang ada di atmosfer bumi akan berkurang dan mempengaruhi perubahan lingkungan hidup yang jauh lebih baik.***

Baca juga: Bagaimana Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Memandang Konsumsi Seafood yang Bijak?

Editor: J. F. Sofyan

Ditulis oleh:

Bagikan:
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Email
Print

Tanggapan